Foto: kisahrasulnabisahabat.blogspot.com

Foto: kisahrasulnabisahabat.blogspot.com

Oleh : Haerul Ali, Blogger

Berangkat dari sebuah hadist yang mengambarkan bahwa umat Muhammad terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu yang selamat, maka beramai-ramailah orang-orang mengklaim diri atau berusaha adalah yang satu itu, bahkan tak segan-segan demi diakui sebagai yang satu itu melakukan tindakan-tindakan agresi atau tindakan yang membuat orang merasa tidak senang atau malah bisa terjadi kesemrawutan atau pemaksaan pengakuan bahwa, “Kamilah yang satu golongan itu yang dimaksud dan kamilah yang benar.”

Apakah dengan mengaku yang satu golongan yang selamat itu sudah merupakan kepastian kebenaran atau sudah ada bocoran dari langit bahwa yang benar golongan itu? Apakah dengan hanya mengaku sudah cukup? Lantas siapa juri yang layak memberikan penilaian atas 73 golongan itu? Namun dari hadist itu pun, membawa pemikiran saya bahwa memang kita bergolong-golongan yang artinya kita berbeda-beda, ada kelompok ini, kelompok itu, namun saya menarik pemikiran ini secara umum, bahwa meski kita dipetak-petak bergolong-golongan tapi pada dasarnya kita satu dan sama, yaitu sama-sama manusia. Dan kita bisa menyebutnya “golongan manusia”, sebab selain golongan manusia ada juga golongan jin, golongan atau sekumpulan flora dan fauna, dan mungkin juga golongan selain dari yang disebutkan.

Ternyata tak mudah mengatakan bahwa kita adalah golongan yang sama, yaitu golongan manusia, sebab kata manusia pun didefinisi dengan sangat komprehensif, bukan hanya sekedar manusia sebagaimana yang kita lihat sehari-hari, yang ternyata kalau hanya melihat fisik semata maka sistem biologis manusia juga ada pada binatang, manusia berjalan hewan atau binatang juga bisa berjalan, manusia bernafas hewan pun bernafas, manusia punya jiwa maka hewan pun punya jiwa. Namun khusus tentang jiwa ini ada pembahasan khusus dan mendalam meski pada tahapan berikutnya tidak benar-benar mendalam, karena jiwa adalah bagian metafisika yang pengamatannya sulit atau bisa saya katakan mustahil diteliti dengan menggunakan “alat miskroskop”, karena jiwa tak dapat ditangkap oleh panca indera namun jiwa bisa dirasakan, cobalah pembaca merasakan jiwa masing-masing, apakah pembaca sadar keberadaan jiwa masing-masing? atau apakah pembaca bisa membayangkan bentuk jiwa-nya?

Kembali pada soal golongan manusia, salah satu amatan yang popular dalam hal membedakan antara manusia dan makhluk lain seperti binatang adalah karena akalnya, bahkan ada seorang filosof berkata manusia adalah binatang yang berpikir, tapi tetap saja berbeda dengan binatang, bukankah binatang tidak berpikir sedangkan manusia berpikir?

Sehingga setiap fenomena, kejadian dalam alam semesta ini, dan bahkan dari diri sendiri (jiwa), juga termasuk dari redaksi-redaksi hadist-hadist yang banyak menghiasi arena digital tak luput dari aktivitas berpikir atau layak dipikirkan, maka tak heran jika hadist-hadist pun digolong-golongkan dari shohih-mutawwatir bahkan dhoif, tentu saja ini adalah aktivitas berpikir, maka semua pernyataan harus melalui aktivitas berpikir sehingga bisa membedakan sesuatu dan mengetahui kesamaannya, bahkan dalam al-Qur’an pun ada kata-kata “afala taqi’lun” dan “afala tatafakarrun” atau ajakan wajib berpikir, maka inilah yang layak dikatakan sebagai manusia, sebab Al Qur’an diturunkan diperuntukkan bagi manusia, sehingga rumus manusia = makhluk + berpikir.

Namun berpikir sendiri itu apa? Mungkin bisa saja timbul pertanyaan seperti itu akibat gejolak dari proses kebingungan, sebab kebingungan timbul akibat terjadinya fallacy atau kesalahan dalam berpikir, lantas kenapa terjadi kesalahan berpikir? Salah Tuhan menciptakan akal? Tentu saja tidak demikian, tapi kesemrawutan atau dominasi ego, hawa nafsu dan sifat-sifat yang bisa digolongkan dalam satu wadah yaitu sifat takkabur, iri, dengki dan lain-lain atau golongan yang tidak baik atau sifat-sifat seperti iblis yang hendak menguasai atau mendominasi akal, padahal urutan yang sangat logis dan secara sistematis secara penciptaan adalah hawa nafsu, ego dan sejenisnya tunduk pada kaidah-kaidah akal sehingga tercipta harmonisasi bukan kesemrawutan, sehingga saya sangat setuju dengan redaksi atau riwayat berikut ini,

Imam Shadiq ra ditanya tentang apakah akal itu?” Imam Shadiq menjawab, “Sesuatu yang dengannya Tuhan disembah dan surga diraih.”

Sungguh jelas, apalagi kalau kita ingat atau menghubungkannya dengan riwayat dalam al-Quran tentang iblis saat diperintahkan sujud pada Adam lalu menolak, mungkin saja si Iblis ini tidak berpikir kenapa Tuhan memerintahkannya sujud? Kalau saja si Iblis berpikir mungkin lain ceritanya, yang dimaksud berpikir dalam versi al-Qur’an bukan dengan versi nominal para pedagang, misalnya berpikir bagaimana keuntungan berlipat ganda dalam permainan valas, berpikir seperti makna dalam riwayat Imam Jafar Shadiq sangat jelas, yaitu penyembahan atau aktivitas menuju takwa. Mungkin demikian menurut saya yang fakir ini.

Nah, kembali ke awal tadi bahwa golongan yang satu itu bukan siapa-siapa, bukan yang memakai kopiah, bukan yang memakai gamis, bukan yang memakai baju koko bahkan bukan yang memakai sorban tapi mereka yang berpikir dalam arti yang sebenarnya. maka kenapa yang terjadi saat ini adalah orang-orang sibuk menegaskan perbedaan-perbedaan, dengan berbagai perang konsep dan dalil-dalil nampaknya perbedaan-perbedaan itu kian dirungcingkan, lalu apakah mereka sudah menggunakan peran akal dalam arti yang sebenarnya? Di beberapa negara terjadi gejolak perang, apakah ini hasil dari akal? Atau hasil dari proses berpikir? Saya melihat kejadian-kejadian itu malah meruncingkan perbedaan bukan sibuk menyatukan hakikat kemanusiaan.

Dan golongan-golongan itu bukan bernama atau berbaju Sunni, Syiah, Salafi, Wahabi atau apapun nama yang telah muncul akibat dari semrawutnya pemahaman akibat dari egoisme yang melanda, atau jahilnya orang-orang terhadap ilmu serta membuat istilah-istilah yang dipakainya menjadi semakin bergeser makna. Bolehlah seseorang memakai nama yang bagus misalnya, namun apakah nama yang disandangnya itu mewakili makna baik dari nama yang disandangnya? Atau apakah seseorang yang memakai nama yang baik sesuai dengan sifat atau aksinya di masyarakat? Maka dari itu apa yang telah terjadi saat ini dengan berbagai atau gencarnya arus informasi yang memenuhi gudang otak maka melahirkan distorsi yang ramai atau tumpang tindih, dari seminar-seminar yang diadakan bisa jadi itu adalah bersifat menggiring opini, atau melajukan penegasan perbedaan dengan dalih golongan ini golongan itu, bahkan sangat ironis jika hasil dari seminar-seminar itu melahirkan sifat benci, dengki, iri, dan bahkan kejam, bukannya malah menyejukkan pikiran beramai-ramai mengalihkan 72 golongan itu menuju 1 (satu) golongan yang berpikir menuju ketakwaan atau golongan yang selamat dunia dan akhirat, bukan begitu?

Maka dengan cara apa menuju satu golongan itu? Apakah dengan agresi, propaganda, intimidasi, dan perang? Berusaha melenyapkan fisik atau materi yang berbeda?Saya kira tak ada lagi jalan yang lebih mulia untuk menyatukan umat manusia selain dari berlomba-lomba dalam kebaikan, yaitu orang-orang yang “berpikir” dalam menuju kemuliaan itu, menuju takwa dengan sebenar-benarnya takwa. Sekterian malah bisa menjauhkan dari arti nilai-nilai kebaikan.Wallohualambishowab.

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL