Oleh: Fathorrahman Ghufron*

Hari-hari ini hingga beberapa minggu mendatang, banyak jemaah haji Indonesia yang mulai kembali ke daerahnya masing-masing. Setibanya di Indonesia, mereka disambut keluarga dan masyarakat dengan penuh haru-biru. Ada berbagai ritus penyambutan yang beraneka ragam sesuai selera. Mulai yang bersifat sederhana hingga digelarnya acara sedemikian rupa.

Dalam kaitan ini, kedatangan jemaah haji diharapkan bisa membawa misi yang sangat mulia bagi keluarga dan masyarakatnya. Tiada henti mereka berdoa kepada para jemaah haji “semoga menjadi haji mabrur”. Dengan harapan, melalui kemabruran ada perubahan sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh jemaah haji di masa-masa berikutnya.

Merujuk pada pandangan Ali Syari’ati dalam buku Makna Haji, dari sekian pengalaman menjalani ibadah haji yang sarat makna, mulai makna objektif-dzahiriyah yang dilingkupi oleh berbagai rentetan ibadah haji baik yang wajib dan sunah, hingga makna subjektif-bathiniyah yang dijumpai di sela-sela pelaksanaan ibadah haji baik di Mekkah maupun Madinah, diharapkan dapat dijadikan sebagai modalitas kemabruran dan kontrol diri dari perbuatan yang menimbulkan kemudaratan, baik secara personal maupun sosial.

Penanda Kemabruran

Namun demikian, perlu disadari bahwa dalam haji mabrur tentu membentangkan ketentuan dan persyaratan yang lazim dilakukan oleh jemaah haji. Dalam kitab Syarhus Suyuthi li Sunan an Nasa’i yang ditulis oleh Jalaludin As Suyuthi, setidaknya ada tiga dimensi yang dapat dijadikan penanda sebuah kemabruran seorang jemaah haji. Pertama, mendasarkan pengertian al mabrur (kebaikan) sebagai unsur ketaatan. Ketaatan di sini menyangkut kesetiaan untuk menjalankan perkara baik dan selalu berupaya menghindar perkara buruk.

Kedua, al mabrur yang didefinisikan sebagai al maqbul, yaitu kebaikan yang diterima dan diganjar dengan pahala. Dalam sebuah riwayat ditegaskan, tiada pahala bagi haji mabrur kecuali surga. Tapi, persyaratan utama yang tidak boleh diabaikan adalah harus menunjukkan perilaku yang lebih baik dari pada sebelumnya. Dengan demikian, seseorang yang menjalani ibadah haji meniscayakan adanya peningkatan kualitas diri yang lebih baik di masa-masa berikutnya.

Ketiga, al mabrur yang diartikan sebagai kebaikan yang tidak ditonjol-tonjolkan dengan harapan bisa dipuji oleh orang lain (riya’). Kebaikan yang dilakoni cukup dirasakan dirinya dan diakui oleh Yang Maha Kuasa. Dalam konteks ini, keikhlasan menjadi pijakan bagaimana sebuah kebaikan ditunjukkan dalam kesehariannya. Dengan demikian, setiap perbuatan dilakoni berdasarkan kesadaran dan bukan cita pamrih yang dilandasi kepentingan.

Dari konstruksi kemabruran, di dalamnya menyiratkan sebuah pesan luhur bahwa dalam berperilaku perlu dipedomani sebuah ketaatan menjalankan tugas dan kewajiban baik sebagai manusia kepada Tuhannya maupun antarsesama, kesadaran perbaikan diri yang bisa memberikan manfaat bagi pihak lain, dan kesediaan untuk meleburkan keangkuhan lantaran telah berbuat kebaikan.

Secara sosiologis, ketiga makna yang tersirat dalam konstruksi kemabruran tersebut dapat dilokalisasi menjadi sebuah modalitas kebaikan yang diperuntukkan bagi peneguhan spirit keindonesiaan pula. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin yang disampaikan kepada jemaah haji bahwa tugas selanjutnya yang patut dilakukan oleh jemaah haji adalah bagaimana memaknai ibadah haji untuk memperkuat semangat kebangsaan, dan bagaimana mengontekstualisasikan makna kemabruran sebagai instrumen kebajikan memperkuat semangat keindonesiaan.

Hal ini penting direfleksikan dan dilakukan agar kemabruran memberikan dampak yang lebih luas yang manfaatnya bisa dirasakan bersama. Dalam konteks ini, ketika makna ketaatan, perilaku yang lebih baik, dan kesantunan dalam berbuat baik dihubungkan dengan keberpihakan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, maka keberadaan jemaah haji yang sudah kembali ke daerahnya akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi tumbuhnya peradaban Indonesia yang lebih baik.

Lalu, bagaimana mengonstruksi modalitas pengetahuan yang bisa menyinambungkan dimensi kemabruran dengan spirit keindonesiaan agar bisa dilakoni oleh jemaah haji?

Komitmen Kebangsaan

Dalam hal ini, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memupuk semangat keindonesiaan melalui haji mabrur. Di antaranya, di level pikiran, bagaimana menumbuhkan kesadaran kognitif –baik pada tataran gagasan maupun ide– bahwa “haji mabrur” yang diimpikan oleh setiap jamaah haji harus bertitik sambung dengan kepedulian dirinya terhadap pelestarian dan penguatan berbagai sendi dan pilar keindonesiaan: Pancasila, kebinekaan, Konstitusi UUD 45, dan persatuan nasional.

Selain itu, di level sikap dan perilaku, haji mabrur perlu ditunjukkan melalui komitmen kebangsaan untuk merawat marwah keindonesiaan. Masyarakat perlu diajak peduli bersama terhadap negara Indonesia dengan rasa cinta, kasih, dan damai. Dengan sikap ini, setiap orang akan berpartisipasi dalam menjaga Tanah Air ini dengan segenap jiwa dan raga dalam menegakkan Indonesia sebagai negara yang makmur dan sentosa.

Ketika pikiran dan sikap serta perilaku jamaah haji sudah tertambat dalam lingkup keindonesiaan, dan sekian pengalaman hajinya yang sarat makna –baik dzahiriyah-objektif maupun bathiniyah-subjektif– ditransformasikan ke dalam upaya pelibatan diri mendukung dan menjalani berbagai anasir kebangsaan dan sendi keindonesiaan, maka tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh pula pada komitmen nasionalisme untuk menumbuhkan sikap dan semangat menjaga kesatuan dan persatuan dari segala macam tantangan dan ancaman, seperti radikalisme, terorisme, dan bentuk ekstremisme lainnya.

Dalam kondisi ini, jemaah haji akan memahami dan menyadari bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang dinapasi oleh Pancasila yang wajib diyakini oleh siapapun yang telah berikrar sebagai rakyat Indonesia. Konsekuensinya, setiap pengetahuan yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci tidak digunakan sebagai model baru untuk merongrong keutuhan berbangsa yang sudah dilingkupi oleh aura kebinekaan dan dikerangkai oleh UUD 45 sebagai dasar konstitusinya. Melainkan, setiap pengetahuan –terutama pengetahuan keagamaan yang baru diperoleh selama di Tanah Suci baik hasil pengamatan maupun pengetahuan yang ditempa oleh proses interaksi dengan orang-orang yang ditokohkan– dicukupkan sebagai sarana pembuka wawasan agar memberikan pelajaran bahwa dalam kehidupan, perbedaan adalah keniscayaan yang penuh rahmat.

Hal ini selaras dengan kontur kebangsaan kita di mana kebinekaan menjadi fitrah keindonesiaan yang sudah terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian, ketika jamaah haji sudah bisa menempatkan pengalaman dan perjalanan ibadah hajinya sebagai cara untuk memupuk dan memperkuat semangat keindonesiaan, maka identitas kemabruran akan bisa dimanifestasikan sebagai salah satu sarana untuk menciptakan Indonesia sebagai negara yang maju, negara yang bebas dari segala laku kekejian personal, kemungkaran sosial, kemungkaran konstitusional, dan lain sebagainya. Sebab, dimensi ketaatan, perilaku yang lebih baik, kesantunan dalam berbuat –yang menjadi dimensi kemabruran– dileburkan dalam kesadaran untuk sengkuyung bersama-sama menumbuhkan spirit keindonesiaan.

Semoga, ibadah haji para jemaah haji yang kini sudah berada di Tanah Air tercatat sebagai amal saleh yang difungsikan untuk meningkatkan semangat nasionalisme untuk mencintai Indonesia dan merawatnya agar menjadi negara yang berdaya. (LiputanIslam.com)

*Wakil Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, disalin dari Detik, 7 September 2018.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*