Oleh: Abdul Hair*

Belakangan ini marak kita temui kampanye gerakan hijrah di media sosial. Di Instagram misalnya, sampai dengan tulisan ini dibuat, akun @pemudahijrah sudah diikuti hampir satu juta orang. Jika kita menuliskan tagar #hijrah di kolom pencarian, akan kita temukan lebih dari 1,7 juta kiriman tentang topik ini. Di Facebook, akun Hijrah sudah diikuti lebih dari 300 ribu orang. Dari beberapa contoh tersebut bisa kita lihat bahwa gerakan hijrah sejatinya merupakan gerakan yang dilakukan secara masif.

Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syariat agama.

Tidak jelas siapa yang memulai gerakan ini. Sebagai sebuah fenomena, hijrah sebenarnya sudah muncul sejak lama, dimulai dari kalangan musisi seperti Gito Rollies atau Sakti ‘Sheila On 7’. Meskipun perubahan yang mereka lakukan secara substansial adalah hijrah, tapi masyarakat dan media kala itu tidak pernah menyebutnya demikian. Penyebutan hijrah untuk perubahan seperti yang dilakukan para musisi di atas baru terjadi belakangan ini.

Jika diamati lebih dalam, gerakan hijrah amat populer di kalangan anak muda kelas menengah perkotaan. Hal ini terjadi karena memang kampanye hijrah paling masif dilakukan di media sosial, di mana pengguna terbesarnya adalah anak muda kelas menengah perkotaan. Penyebab lainnya, berhijrah itu butuh biaya besar. Perubahan penampilan (khususnya bagi perempuan) misalnya, butuh biaya yang tidak sedikit. Alasan-alasan itulah yang membuat hijrah tidak populer di kalangan bawah.

Gerakan apapun, ketika skalanya menasional dan berdampak besar, dapat dipastikan bisa terjadi karena gerakan tersebut terorganisasi dengan baik dan terpusat. Aksi bela Islam pada 2016 silam adalah contoh gerakan seperti ini.

Sebaliknya, dan ini yang menarik, gerakan hijrah sama sekali tidak terorganisasi dan terpusat. Gerakan ini tidak memiliki ketua, koordinator, atau penanggung jawab utama yang bertugas memastikan gerakan ini berjalan dengan baik. Gerakan hijrah dilakukan dalam skala lokal di hampir semua kota di Indonesia. Dan, di setiap kota pun gerakan ini tidak terpusat pada satu komunitas saja. Bisa ada puluhan, atau mungkin ratusan, komunitas hijrah di tiap kota, yang antara komunitas satu dengan yang lain boleh jadi tidak saling mengenal.

Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, mengapa gerakan yang tidak terorganisasi seperti ini bisa berlangsung dalam skala yang begitu luas dan memiliki dampak yang begitu besar? Ada dua faktor yang akan saya tawarkan sebagai jawaban di sini.

Pertama, fenomena ini adalah salah satu dampak turunan dari kebijakan pemerintah di masa lalu. Jika melihat sedikit ke belakang, fenomena ini sebenarnya tidak mengagetkan. Ariel Heryanto, melalui buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (2015) menyatakan bahwa telah terjadi kebangkitan Islamisasi menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Kelompok Islam yang sebelumnya dianggap sebagai ekstrem kanan, kemudian dirangkul dan dijadikan sekutu baru pemerintahan Soeharto untuk memperkuat posisi politiknya yang saat itu tengah melemah.

Itulah masa ketika penggunaan jilbab tidak lagi dilarang, dan kelompok-kelompok Islam mulai menyatakan aspirasi politiknya secara terbuka tanpa perlu takut ditindas oleh rezim penguasa. Hijrah, dalam konteks ini, adalah dampak turunan dari kebijakan tersebut.

Kedua, gerakan hijrah adalah gerakan yang disponsori oleh industri. Sudah bukan rahasia lagi kalau industri mengkomodifikasikan apapun yang bisa diperjualbelikan, tidak terkecuali dalam hal ketaatan beragama. Sebelum kampanye hijrah dilakukan secara masif, industri sudah lebih dulu mengkooptasi ketaatan beragama masyarakat untuk kepentingan komersil. Hal ini bisa kita lihat dari diproduksinya pakaian dan beragam produk kecantikan seperti sabun, shampo, serta rias wajah khusus untuk muslimah. Produk-produk kecantikan ini bahkan sampai mengadakan beragam kontes kecantikan khusus untuk perempuan muslim berjilbab.

Maraknya gerakan hijrah pun tidak lepas dari dukungan industri. Aktivitas kampanye beberapa komunitas hijrah, seperti mengadakan seminar yang mengundang ustad kondang, juga disokong penuh oleh industri. Tapi, bukan berarti industri mendominasi keadaan dan pelaku hijrah patuh begitu saja pada apapun yang menjadi kehendak industri. Bukan juga pelaku hijrah yang mendominasi situasi, dan industri yang justru didikte untuk menyediakan apapun yang menjadi kebutuhan pelaku hijrah.

Relasi antara pelaku hijrah dan industri lebih tepat dilihat sebagai hubungan yang dialektis dan saling menguntungkan: ketaatan menjalankan syariat Islam menemukan perwujudannya dalam sistem perekonomian yang berorientasi pada industri, dan industri memberikan respons terhadap fenomena ini sebagai salah satu sumber pendapatan yang akan menyokong keberlangsungan hidupnya.

Salah satu contoh hubungan yang dialektis ini bisa kita saksikan dalam tayangan televisi dengan ditampilkannya selebriti muda yang telah menjalani hijrah. Selebriti ini, melalui industri penyiaran, menyampaikan pesan-pesan hijrah agar masyarakat semakin meningkatkan kualitas ketakwaannya. Sedangkan industri penyiaran mendapatkan pemasukan dari ceruk pasar baru yang sedang bertumbuh ini. Dan, ceruk pasar ini akan terus bertumbuh, entah sampai kapan. (LiputanIslam.com)
*peneliti kajian budaya pop, media, dan komunikasi, disalin dari Detik, 30 Januari 2018.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*