dimas-kanjeng-dan-daud-marwahOleh: Iswandi Syahputra*

Baru-baru ini ramai diberitakan pemimpin spiritual Taat Pribadi yang lebih dikenal dengan sebutan Dimas Kanjeng ditangkap oleh Polda Jawa Timur karena diduga terlibat pembunuhan. Dimas Kanjeng dikabarkan memiliki ”karomah” menggandakan uang dalam jumlah besar.Sebelumnya media juga ramai memberitakan penangkapan Gatot Brajamusti yang memiliki padepokan spiritual. Gatot Brajamusti ditangkap Polda NTB karena kepemilikan narkoba. Menurut kabar, Gatot Brajamusti yang biasa disapa dengan Aa Gatot juga memiliki ritual yang aneh dalam menyampaikan ajarannya.

Baik Dimas Kanjeng maupun Aa Gatot memiliki padepokan dan pengikut. Pengikut Dimas Kanjeng umumnya berasal dari kalangan politisi, kaum terdidik, atau pengusaha yang ingin melipatgandakan uangnya. Sedangkan Aa Gatot memiliki pengikut yang umumnya berasal dari kalangan artis dan selebritas.

Fenomena ini setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, sebagai tanda kehadiran spiritualitas semu. Kedua, banyak orang yang ingin cepat mendapatkan spiritualitas yang mereka butuhkan.

Spiritualitas Semu
Spiritualitas umumnya dipahami sebagai intensitas pengalaman mendalam yang tidak selalu terjadi setiap saat dalam kehidupan. Spiritualitas menekankan pengalaman psikis yang dapat meningkatkan kesan dan makna yang mendalam.

Dia dapat saja berhubungan dengan agama dan Tuhan, namun tidak selamanya demikian. Spirit kebudayaan tentu berbeda dengan spirit keagamaan. Secara spesifik, spiritualitas juga dapat dipahami atau identik dengan religiusitas berupa penghayatan keagamaan, terutama penghayatan kedekatan manusia dengan Tuhan.

Dengan begitu, dalam makna apa pun, spiritualitas merupakan suatu daya abstrak, memiliki kekuatan dan daya dorong otonom yang mampu mengubah sesuatu di luar dirinya ke arah yang lebih baik, utuh dan mendalam melalui penghayatan dan pengalaman, dapat saja terkait dengan hal ketuhanan atau bukan. Sebagai konsep abstrak, spiritualitas merupakan sesuatu yang ada, namun tidak diketahui dan tidak terhingga.

Spiritualitas akan mengantarkan manusia pada segala suatu yang ada (being)  dengan segala dimensinya yang metafisik, transenden, dan penuh dengan enigma. Hal ini berarti bahwa segala hal yang mengandung spiritualitas adalah suatu yang masih perlu dikuak, ditafsir, diungkap, atau diterjemahkan. Filsafat dan ilmu pengetahuan dapat ditugaskan menguak segala sesuatu yang tidak diketahui dan terhingga tersebut.

Spiritualitas membentang luas dari urusan teologis hingga sosiologis. Hal tersebut mengandaikan jika dunia tidak lagi perlu dikuak, ditafsir, diungkap, atau diterjemahkan, berakhirlah kehidupan di dunia. Karena, segala sesuatunya sudah menjadi transparan, terbuka, dan tersedia sehingga tidak perlu lagi yang ada (being)  diketahui, dikuak, ditafsir, atau diungkap.

Kehidupan dunia hanya dapat bertahan hanya karena ada spiritualitas yang merupakan kumpulan energi untuk membuka segala sesuatu yang tidak diketahui dan tidak terhingga tersebut. Demikian juga jika kehidupan hanya mengejar kepuasan, materi, konsumsi, pangkat, jabatan, atau kepuasan, memang benar-benar ada sebuah dimensi kehidupan manusia yang hilang, dimensi spiritual.

Namun, dalam kehidupan modern, yang penuh dengan berbagai rayuan dan tekanan, spiritualitas juga dapat dikapitalisasi melalui berbagai modus. Refleksi spiritualitas tersebut sering mewujud dalam bentuk fetis  yang termaterialisasikan sehingga justru memunculkan spiritualitas palsu yang diperoleh dengan cepat melalui jalan pintas (shortcut).

Maraknya penyelenggaraan berbagai kursus Spiritual Quotient beberapa tahun belakangan ini menunjukkan ada kapitalisasi spiritualitas tersebut. Sebuah kursus yang menjanjikan perubahan dramatis pada diri pesertanya untuk sesegera mungkin menjadi orang yang memiliki kemampuan spiritual tingkat tinggi hanya dengan mengikuti ritual kegiatan selama beberapa hari.

Padahal, dimensi spiritual menekankan aspek-aspek pengendapan, refleksi, penghayatan, pelatihan, pengalaman, dan ujian secara kontinu. Suatu terapi menunjukkan memang ada jiwa yang sakit dalam kehidupan modern saat ini.

Orang-orang tidak memiliki makna hidup, penuh dengan perasaan bosan, hampa, putus asa, acuh, kehilangan minat dan daya kritis. Karena itu, terapi spiritualitas harus dimunculkan karena saluran spiritual lain tidak mampu memberikan jawaban terhadap pesatnya laju kehidupan modern yang semakin lama kian menjepit dan menghimpit.

Jalan Pintas 
Fenomena jalan pintas menuju spiritualitas dalam berbagai sektor ini rupanya bukan saja menimpa masyarakat bawah yang secara ekonomi memang tidak mampu mendalami agama secara lebih reflektif karena keterbatasan pendidikan mereka sebagai akibat dari keterbatasan kekuatan ekonominya. Jalan pintas tersebut agaknya berhasil merayu tokoh masyarakat, kaum terdidik, artis, dan selebritas atau kelompok ekonomi mapan. Dimas Kanjeng dan Aa Gatot dapat merepresentasikan sosok tokoh spiritual yang mencerminkan berbagai pihak yang ingin meraih spiritualitas dengan melalui jalan pintas tersebut.

Jalan pintas meraih spiritualitas ini menjadi lebih memikat melalui berbagai atraksi permainan ilusi dan reduksi kesadaran. Ketakjuban tersebut seperti fetis  yang menghipnosis sehingga bagi yang terjerumus akan terus tergerus.

Larut dalam suatu ekstasi kepalsuan hingga tidak dapat lagi berhenti untuk sekadar memberi ruang refleksi dan menemukan jawaban atas pertanyaan: Dari mana asal saya? Ada di mana saya? Mau ke mana saya? Apa misi hidup saya? Dan, pertanyaan substansi spiritualitas lain. Semua pertanyaan reflektif tersebut tersedot dan larut dalam tarikan ketakjuban personal yang dijanjikan oleh tokoh spiritual yang dipuja.

Pada gilirannya ketakjuban tersebut tidak memberikan jalan apa pun untuk sampai pada spiritualitas yang ingin dituju. Karena tidak memberikan jalan, tentu tidak akan pernah sampai pada spiritualitas yang diinginkan. Ini hanya seperti permainan yang menjanjikan kepuasan spiritualitas. Seakan telah meraih hakikat spiritualitas, padahal hanya simulasi spiritualitas. Simulasi ini memang mengasyikkan karena menjanjikan kebahagiaan dan menggembirakan.

Kondisi-kondisi tersebut menjadi ujian bagi seluruh keyakinan keagamaan. Inilah gejala dari konsekuensi modernitas yang menghadapkan agama pada berbagai tantangan yang harus dihadapinya. Agama tidak lagi dituntut bicara kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan. Melampaui itu, agama harus menghadirkan wajah spiritualitasnya.

*Dosen Ilmu Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, artikel ini disalin dari sindonews.com
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL