Obama dan Raja Salman

Obama dan Raja Salman

Oleh: Ismail Amin*

Timur Tengah masih juga tidak usai dari gejolak. Negeri-negeri dimana para Anbiyah As  memulai dakwah dan mengajarkan mengenai Tuhan, moral dan persaudaraan justru hari ini mengurai kisah tragis mengenai pembantaian massal, pengrusakan fasilitas umum dan perang saudara yang tak berkesudahan.

Rezim Bashar Assad di Suriah sejak awal 2011 dihantam upaya kudeta oleh pihak oposisi yang didukung pihak asing. Pemerintah Irak disibukkan oleh ISIS yang merebut sejumlah wilayah teritorialnya. Lebanon diperbatasan masih juga berseteru dengan Israel. Rakyat Palestina tanpa kenal menyerah, meski hanya dengan lemparan batu menentang tentara Israel yang membangun pemukiman Yahudi di tanah suci mereka. dan yang tergress, rakyat Yaman harus berlindung dibalik reruntuhan gedung untuk bisa selamat dari terjangan 100 jet tempur Arab Saudi. Iran sendiri pernah di invasi Irak dibawah rezim Saddam Husein 1980-1988.

Apa yang memicu semua perseteruan itu?. Mengapa harus dengan senjata dan saling membantai yang dipilih sebagai cara menuntaskan hasrat?. Oleh sebagian orang yang mengklaim diri sebagai aktivis Islam menyebut, perang di Timur Tengah dipicu oleh perbedaan mazhab. Bashar Assad presiden Suriah yang diklaim penganut Syiah Nushairiyah disebut telah membantai rakyatnya yang Sunni karena itu kelompok militan Sunni dari berbagai Negara termasuk dari Indonesia berdatangan ke Suriah dengan maksud membela sesamanya Sunni yang tertindas.

Tentu isu ini sangat mudah dibantah, pemerintahan Suriah bukanlah pemerintahan Syiah. Suriah Negara sekuler dan tidak melandaskan asas negaranya pada paham agama. Tidak sedikit jabatan penting negara dipegang oleh tokoh Sunni. PM Suriah Wael al Halqi, Menteri Pertahanan Fahd Jassem al Freii bahkan Mufti Agung Suriah  Syeikh Ahmad Hassoun adalah muslim Sunni. Allamah Syaikh Ramadhan Al Buthi ulama dunia yang menjadi rujukan keagamaan muslim Sunni adalah penasehat Presiden Bashar Assad. Mustahil, Syaikh al Buthi malah memberi dukungan pada Bashar Assad kalau memang kebijakannya menzalimi penduduk Sunni di Suriah. Atas dukungannya pada presiden Assad, Syaikh al Buthi harus meregang nyawa oleh aksi bom bunuh diri kubu oposisi saat beliau sedang melakukan khutbah dimasjid Damaskus.

Bantahan lainnya, Bashar Assad adalah diantara pemimpin Arab yang pro kemerdekaan Palestina dan anti Zionis. Diantara dukungannya terhadap perjuangan Palestina, ia mendirikan kamp Yarmouk tempat pengungsian bagi warga Palestina di Damaskus, bahkan diantara kamp pengungsian terbesar. Kalau memang Assad membenci muslim Sunni, tentu ia tidak perlu repot-repot membuatkan kamp pengungsian bagi imigran Palestina yang Sunni. Dan tentu saja militer Suriah tidak perlu bersitegang dengan Israel dan terlibat dalam sejumlah kontak senjata.

Kita beralih ke Yaman. Alasan Arab Saudi mengerahkan 100 jet tempur dan 150 ribu pasukan militer dalam mengagresi Yaman adalah untuk mengembalikan kekuasaan Mansour al Hadi Presiden Yaman yang melarikan diri ke Arab Saudi pasca upaya kudeta dalam gerakan Ansarullah yang didalangi Syiah Houthi.

Menurut Raja Salman, aksi kudeta Syiah Houthi adalah inkonstitusional dan sebagai penghormatan pada kedaulatan Negara Yaman, jabatan presiden harus diserahkan kepada yang berhak, dan pemberontak harus dihadapi dengan agresi militer. Tentu saja Arab Saudi menerapkan standar ganda dalam kebijakan politik luar negerinya dalam hal ini, sebab dalam konflik Suriah, Arab Saudi justru memberikan dukungan pada pihak pemberontak. Kita juga masih ingat, ketika Presiden Mesir Muhammad Mursi dikudeta oleh gerakan militer, Arab Saudilah yang pertama memberi sikap resmi mendukung kudeta dan kejatuhan Mursi, bahkan latah menyebut Ikhawanul Muslimin adalah organisasi teroris. Belum lagi, kalau ternyata Saudi dan koaliasinya bisa garang terhadap Syiah Houthi, mengapa dalam menyikapi agresi Israel atas Gaza malah memilih diam dan hanya menonton saja?.

Sebagaimana konflik di Suriah, agresi Arab Saudi atas Yaman pun dianggap dipicu oleh konflik mazhab. Bahwa Mansour al Hadi yang Sunni direbut kekuasaannya oleh Syiah Houthi, penganut Syiah Zaidiyah dan dianggap jika Syiah Houthi jika berkuasa di Yaman, akan membawa bencana atas rakyat Yaman yang Sunni, sebagaimana yang mereka sangka terjadi di Suriah. Apa mereka lupa, Ali Abdullah Saleh, Presiden Yaman sejak 1990 sampai 2012 adalah juga penganut paham Syiah Zaidiyah?.

Ali Abdullah Saleh sendiri tahun 2012 meletakkan jabatan presidennya dan menyerahkannya pada Mansour al Hadi yang saat itu menjadi wakil presiden atas desakan Syiah Houthi yang menuntut perubahan. Berselang 3 tahun, Mansour al Hadi tidak berhasil memenuhi ekspektasi rakyat Yaman yang menuntut agar Yaman tidak lagi menjadi Negara termiskin di Timur Tengah. Oleh gerakan rakyat -jadi bukan hanya Syiah Houthi- Mansour al Hadi dituntut mundur. Bukannya bertanggungjawab pada rakyatnya, ia malah melarikan diri ke Arab Saudi dan meminta agar ia bisa dibantu untuk mendapatkan kembali posisinya.

Kalau memang karena masalah mazhab, harusnya Ali Abdullah Saleh yang Syiah juga mendapat penentangan dari Arab Saudi. Tapi mengapa justru bisa bertahan selama 22 tahun? Bahkan saat itu sering didengungkan, Syiah Zaidiyah adalah aliran Syiah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, sehingga dianggap bukan masalah dan bukan musuh.

Kalau jeli melihat peta konfliknya, sesungguhnya ini tidak ada kaitannya dengan mazhab atau paham agama apapun. Melainkan pro tidaknya suatu pemerintahan pada kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah. Suriah dibawah Bashar Assad tidak bisa dikontrol AS, karena itu dirancang konspirasi untuk menjatuhkannya. Ali Abdullah Saleh di Yaman tidak perlu diusik karena memang pro AS dan dekat dengan Arab Saudi, meskipun mazhabnya Syiah. Demikian pula dengan Iran di bawah rezim Syah Pahlevi yang sedemikian akrab dengan AS dan Arab Saudi.

Namun ketika dia dijatuhkan, dan Iran dikuasai Imam Khomeini yang anti AS, Iranpun kemudian diinvasi oleh Irak yang didukung oleh koalisi Arab. Oleh mufti Arab Saudi, Iran bahkan diidentikkan dengan Negara Majusi yang memusuhi Islam. Syiahpun difatwakan sesat dan bukan Islam. Fatwa yang sebelumnya tidak pernah mereka keluarkan disaat Iran masih dikuasai rezim yang pro AS.

Begitupun dengan Yaman, ketika rakyatnya menginginkan perubahan dan mengangkat Sayyid Abdul Malik al Houthi sebagai pemimpin Yaman tapi karena itu tidak menguntungkan AS dan juga Arab Saudi, Yamanpun dibombardir, dianggap kafir dan memeranginya adalah jihad dan mendapat pahala. Arab Saudi sendiri meskipun anti demokrasi dan bersikap otoriter, tetap tidak pernah diusik, karena memang sepenuhnya pro AS. Sementara Saddam Husein, karena mulai nyeleneh, akhirnya dijatuhkan AS melalui invasi militer tahun 2003 dan didukung sepenuhnya Arab Saudi.

Di sinilah kita harus bersikap jeli dan berpikir jernih, jangan mudah disulut oleh sentimen agama atau mazhab. Konflik di Timur Tengah murni dipicu kepentingan AS yang wajib menjaga eksistensi Israel dan para raja Arab yang ingin tetap nyaman menikmati monarkinya yang korup dan hipokrit.

 *mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Iran

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL