Prabowo Jokowi

Oleh: Putu Heri

“Gimana kalau presidennya bagi shift saja? Gantian. Misalnya minggu ini, Jokowi jadi presiden di siang hari, dan Prabowo jadi presiden di malam hari. Minggu depan, sebaliknya. Prabowo shift malam, Jokowi shift siang?”

Lalu mereka tertawa.

Seperti itu guyonan yang terlontar di ruang kerja, di salah satu sudut rumah sakit pemerintah. Alih-alih ribut karena jagoannya masing-masing mengaku menang, mereka malah kompak menertawakan adu klaim kedua kandidat pasangan capres-cawapres ini. Tentu saja, ide presiden ganti shift adalah murni lelucon, karena pemenang Pilpres tentunya hanya satu orang. Kalau bukan Prabowo-Hatta, pastinya  Jokowi-JK.

Mengapa sekarang ada dua pemenang? Bagaimana bisa terjadi?

Menurut  Bayu Dardias, Dosen Politik & Pemerintahan Fisipol UGM yang menuliskan analisis di halaman pribadinya, http://bayudardias.staff.ugm.ac.id/ ,walaupun dua-duanya mengklaim memenangkan Pilpres, pemenangnya tetap hanya satu. Kemungkinan yang terjadi disini adalah: yang satu menang, yang lainnya tidak mau mengakui kekalahan.

Ada beberapa hal penting, seperti tabayyun [mengecek kebenaran sebuah kabar] yang kerap dilupakan seseorang ketika menyangkut tokoh yang mereka dukung. Contoh nyata ada dalam krisis Suriah. Tiga tahun lebih lamanya kita mau tak mau harus melihat berbagai propaganda dan fitnah yang berseliweran di media cetak, elektronik, di media sosial, hingga khutbah-khutbah yang disampaikan ulama. Akibatnya, banyak orang yang termakan hasutan – karena begitu saja mempercayai berita yang disampaikan apalagi jika menyangkut sentimen agama – dan parahnya lagi—si pembawa kabar palsu tidak jarang adalah seorang ulama yang memiliki murid/ pengikut yang manut saja dengan gurunya.

Dan ketika kita menghadapi Pilpres, pola penyebaran informasi yang sama persis dengan krisis Suriah kembali berulang. Berserakan foto-foto palsu, video yang diedit, dan segala bentuk manipulasi informasi. Media berperan besar dalam menggiring opini salah satu kubu sehingga masyarakatpun menjadi fanatik. Akibatnya, jika yang membawa kabar adalah media X yang juga mendukung capres jagoannya, maka berita itu ditelan begitu saja. Dan sebaliknya, saat media Y yang mendukung lawannya, seketika ditolak. Inilah masalah terbesar yang kita hadapi. Dan sikap fanatik ini, lantas dimanfaatkan dengan baik oleh media dan kubu capres itu sendiri. Jadilah kemenangan capres nomor urut satu ada di media X, dan kemenangan capres nomor urut dua ada pada media Y. Akhirnya, masyarakat pun bingung – kok ada dua Presiden?

Klaim dua Presiden ini, disebabkan karena hasil quick count yang berbeda-beda. Ada lembaga survey yang memenangkan Prabowo – Hatta, dan ada yang memenangkan Jokowi-JK. Lantas, mana yang harus dipercaya?

Bayu menjelaskan, bahwa ada tiga jenis survey yang biasa digunakan untuk menentukan preferensi pemilih. Ketiganya mengambil sampel (contoh kecil) dengan perhitungan statistik dari populasi.

Pertama, survey pemilih yang dilakukan sebelum pemilu untuk melihat kemungkinan pemilih. Survey ini yang paling akurasinya paling rendah.

Kedua, exit poll yang menanyakan pilihan pemilih setelah keluar dari bilik suara. Akurasinya lebih baik dibandingkan yang pertama.

Ketiga quick count atau hitung cepat yang sangat akurat yang berdasarkan hitungan sebenarnya dari masing-masing TPS yang menjadi sampel. Semakin banyak sampelnya, semakin kecil kemungkinan salahnya (Margin of Error/MoE).

Salah satu yang paling banyak sampelnya dalam Pilpres ini adalah Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) dengan 4000 TPS seluruh Indonesia dengan MoE 0.6%. Lembaga survey lainnya MoE nya sekitar 1%.

Marjin of error 1% artinya, kalau toh hasilnya berbeda dengan penghitungan KPU, hanya akan naik atau turun sebanyak 1%. Misalnya ketika hasil hitung cepat Prabowo 47% dan Jokowi 53%, seandainya berbeda dari hitungan resmi, kemungkinannya Prabowo 46%, 47% atau 48% dan Jokowi kemungkinannya 52%, 53% dan 54%. Jadi bisa saja Prabowo 48% dan Jokowi 52% atau Prabowo 46% dan Jokowi 54% asal jumlahnya 100%. Hanya tiga kemungkinan ini saja, sehingga lembaga survey sudah bisa yakin dengan hasil hitung cepatnya dan mendeklarasikan kemenangan pada salah satu capres.

Untuk menentukan lembaga yang kredibel, kita harus melihat rekam jejak survey-survey sebelumnya dan integritas orang-orang yang melakukan survey tersebut. Lembaga survey yang kredibel melakukan survey secara berkala dan terus menerus. Sehingga jika ada perbedaan dalam hasil, hal itu karena metodologi dan masih berada dalam margin of error. Eksperimen survey di Indonesia dimulai sejak pemilu 1999 dalam bentuk quick count dan marak mulai 2004.

Karena sudah terlanjur mengklaim sebagai pemenang, ya apa boleh buat. Meski demikian, untuk mengetahui siapa presiden yang benar-benar dipilih rakyat, tentunya kita harus menunggu pengumuman resmi KPU pada tanggal 22 Juli nanti. Dan selama penghitungan suara, maka tugas rakyat Indonesia adalah mengawasi, agar tidak sampai terjadi kecurangan.

 

—————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL