Iran_nuklir_soleimaniOleh: Muhammad Ja’far*

Setelah 13 tahun berfluktuasi di meja perundingan, perundingan nuklir Iran akhirnya mencapai kata sepakat. Iran dan enam negara lainnya, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Cina, dan Rusia, menyetujui klausul-klausul perjanjian mengenai pengawasan program nuklir Iran di satu sisi, dan pencabutan sanksi embargo ekonomi atas Iran pada sisi lain. Kesepakatan ini disambut antusias semua pihak sebagai fenomena bersejarah yang akan mengubah lebih baik tata politik internasional ke depan. Hanya Israel yang bernada kecut atas hasil perundingan ini. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perundingan tersebut sebagai “kesalahan bersejarah bagi dunia” (alalam.ir, 14/7/2015). Tak mengherankan, karena sejak awal Netanyahu memang tak berkenan atas perundingan damai ini, sembari getol mengajukan opsi serangan militer ke Iran, langkah yang tidak disetujui banyak negara karena dianggap akan berdampak serius dan luas.

Kesepakatan ini memiliki dua dampak: ekonomi dan politik. Dua dimensi ini integral dan saling terkait. Secara ekonomi, pengurangan sanksi ekonomi terhadap Iran, sebagai kompensasi dari kesepakatan ini, akan menyemarakkan kembali pasar ekonomi Iran, region Timur Tengah dan Internasional. Kesemarakan ini secara tidak langsung akan banyak melonggarkan impitan ekonomi yang sedang dihadapi Amerika Serikat dan Eropa. Potensi minyak Iran cukup menjanjikan. Selama ini, akibat sanksi ekonomi, Iran tak punya ruang untuk berkompetisi secara setara dengan negara sekawasan dan Asia pada umumnya. Lingkar kerja sama ekonomi Iran juga sangat terbatas. Pencabutan sanksi ekonomi Iran akan disambut antusias berbagai korporasi di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia untuk membagun kerja sama bisnis dengan perusahaan-perusahaan Iran. Tentunya, semua proses ini berjalan secara bertahap, paralel dengan tahapan tumbuhnya kepercayaan pada level diplomasi politik.

Semakin signifikannya kekuatan dan pengaruh ekonomi Iran akan membuat pasar ekonomi-bisnis Timur Tengah lebih kompetitif dan berpotensi segar kembali. Kekuatan ekonomi dominan di Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Qatar, yang selama ini menangguk untung ekonomis-bisnis dari isolasi terhadap Iran, akan kedatangan kompetitor potensial. Fakta ini akan mengubah peta ekonomi-bisnis di kawasan ini. Akan terjadi pergeseran peta dominasi di sektor tersebut. Bertumpu pada sumber daya alam tidak terbarukan (minyak), ke depan akan semakin tidak relevan. Skala prioritas kini pada energi alternatif dan kualitas sumber daya manusia. Negara-negara Timur Tengah harus segera menyiapkan diri menyambut datangnya era ekonomi baru ini.

Geliat baru di sektor ekonomi ini jelas berimbas terhadap dimensi politik. Selama ini, isolasi politik terhadap Iran di tingkat regional dan internasional dimanfaatkan oleh rival politiknya untuk meminimalkan pengaruh politik Iran. Israel dan Arab Saudi adalah dua pihak yang selama ini melakukan “aksi ambil untung” dari anjloknya “saham” kepercayaan politik Iran akibat isu nuklir. Israel aktif memanfaatkan isu nuklir sebagai materi diplomasi politik untuk memperpanjang isolasi politik terhadap Iran. Bahkan, Netanyahu getol menjadikannya justifikasi invasi militer ke Iran. Ke depan, kepercayaan politik ke Iran di tingkat regional maupun internasional akan mengarah pada surplus. Ini berkebalikan dengan kepercayaan politik pada Israel yang akan semakin defisit. Komitmen Israel pada perdamaian Timur Tengah akan semakin dipertanyakan.

Efek kesepakatan nuklir pada dua dimensi, ekonomi dan politik, ini secara perlahan akan mengubah konstelasi politik di Timur Tengah dan internasional. Posisi dan peran politik-ekonomi Iran akan semakin menguat. Kesepakatan ini bisa menghapus stigma “negara ancaman” yang selama ini aktif dilekatkan pada Iran. Israel sendiri, salah satu yang aktif mengidentikkan Iran sebagai negara “pengacau”, akan semakin tidak memiliki amunisi diplomatik untuk melakukan itu. Rasionalitas dan legitimasi politiknya semakin hilang. Hasil perundingan akan memperkuat posisi dan peran politik Iran dengan negara aliansinya. Relasi politik Teheran-Washington-Eropa juga bisa semakin produktif dan hangat. Selama ini isu nuklir cukup kuat mengganjal terbangunnya kepercayaan politik di antara ketiganya. Sebaliknya, relasi politik Israel-Amerika Serikat dan Arab Saudi-Amerika Serikat bisa semakin renggang akibat perundingan ini. Meski demikian, Israel akan tetap menginfiltrasi pengaruh politik ke kelompok konservatif Amerika Serikat di parlemen.

Hasil perundingan nuklir ini potensial menggeser peta dan tata relasi politik kawasan dan global. Secara perlahan bisa terbangun formulasi baru yang lebih positif, konstruktif, dan rasional. Politik Timur Tengah dan global berpotensi membentuk rasionalitas yang baru, hasil pembelajaran, revisi, dan evaluasi atas irasionalitas yang selama ini terjadi. Tapi ini efek jangka panjang, yang masih perlu proses lama.

*pengamat Timur Tengah, tulisan ini dimuat di Tempo.co

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL