pemiluOleh: Anis Jufry

Setiap pesta demokrasi atau pemilu mayoritas rakyat dibikin pusing dan menimbang-nimbang siapa yang paling layak memimpin negeri yang besar ini baik besar dari segi luas wilayahnya yang terdiri dari 13.487 pulau (yang 6000 diantaranya tidak berpenghuni), kaya sumber daya alam (emas, uranium, minyak, batu bara, panas bumi, tanah subur dan laut yang luas) maupun dari jumlah penduduknya yang hampir 250 juta.

Sumber daya alam Indonesia dan juga jumlah penduduknya yang besar merupakan sebuah anugerah dan potensi yang dapat menghantarkan bangsa ini menjadi bangsa besar yang disegani dunia.  Contoh nyatanya tidak susah untuk di cari, seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) misalnya yang jumlah penduduknya tidak kurang dari  1,363 milyar jiwa (perkiraan 2014). Negara yang dikenal dengan Tirai Bambu ini juga baru berdiri belum lama yaitu tahun 1949 yang diproklamirkan oleh Mao Zedong.  Umur proklamasi RRT bahkan lebih muda dari negara kita tercinta Indonesia.  Coba lihat hari ini, RRT adalah salah satu negara terbesar dan tersehat secara ekonomi dan politik serta militer di dunia.

Prestasi dan capaian tersebut bukanlah mendadak dan tiba-tiba tetapi melalui jalan panjang dan berliku yang akhirnya mencapai sebagian besar dari apa yang mereka harapkan dan cita-citakan sebagai negara maju yang berdaulat baik dari segi ekonomi maupun militer.  Pemberantasan korupsi menjadi pondasi kemajuan negeri ini.  Di RRT, sampai saat ini sudah lebih dari 4000 koruptor yg telah divonis mati dan dieksekusi di depan publik.

Kembali ke Indonesia apakah mungkin Republik Indonesia mencapai kemajuan seperti RRT atau negara maju lainnya didunia?  Sudahkan Indonesia melewati tahap-tahap berliku dan gemblengan untuk menuju menjadi negara maju dunia?  Ini yang mungkin perlu kita tinjau bersama.  Untuk mencoba mengurai secara singkat kita bisa membagi tahapan RI menjadi tiga bagian:

1. Periode 1945 sampai dengan 1966 yang kenal dengan Orde Lama

2. Periode 1964 sampai dengan 1998 yang dikenal dengan Orde Baru

3. Periode 1998 sampai sekarang yang dikenal dengan Orde Reformasi

Pada point ketiga, Orde Reformasi yang dimulai sejak 1998 sampai saat ini. Periode ini datang setelah lengsernya penguasa Orde Baru dengan pengunduran diri Soeharto setelah desakan demonstrasi besar-besaran yang juga menimbulkan kerusuhan yang pada akhirnya pada 21 Mei 1998 rezim Orde Baru berakhir.

Menimbang proses bergantinya fenomena kepemimpinan nasional hampir lima kali (dari 1998 sampai 2014 ini sudah ada 4 presiden) serta dinamika berbangsa dari masa reformasi sampai saat ini, beranikah kita menyebut bahwa pengalaman Indonesia ini sudah cukup untuk menghantarkan cita-cita Indonesia menjadi negara yang besar dan disegani?  Jawabnya mungkin belum cukup dan belum akan terjadi dalam waktu dekat ini, mengapa? Karena proses recruitment kepemimpinan saat ini perlu reformasi.  Kita pun juga masih perlu belajar memilih calon pemimpin dengan akal sehat dan hati nurani.

Kita sangat berharap muncul pemimpin dengan kualifikasi diatas rata-rata dan bermoral tinggi dan berani karena permasalahan yang dihadapi negara ini luar biasa (extraordinary) sehingga dibutuhkan pemimpin yang juga luar biasa. Bagaimana bisa disebut permasalahan bangsa ini luar biasa?  Coba kita lihat bukankah hutang luar negeri Indonesia dalam 10 tahun terakhir terus mengalami peningkatan, penduduk miskin yang mencapai 28.55 juta orang (11.47%) periode September 2013 dan terus mengalami peningkatan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik yang secara kenyataan bisa jadi lebih besar dari itu, pengangguran yang cukup tinggi yaitu sekitar 6.25% atau 7.39 juta orang, alam dan lingkungan yang rusak yang menimbulkan bencana alam dibanyak tempat, dan kedaulatan negara yang tidak di tangan sendiri karena tangan-tangan asing semakin berkuasa di negeri ini dengan menguasai industri strategis sampai-sampai rencana terakhir pengelolaan bandara di republik ini akan ditawarkan kepada perusahaan asing.

Bagaimana sederet problem dan masalah yang disebutkan diatas dapat diselesaikan nanti oleh pengganti presiden saat ini yang akan terpilih nanti? Kita tidak yakin apakah ada calon pemimpin yg mempunyai kapasitas untuk membereskan berbagai problem diatas. Lantas bagaimana? Para calon pemimpin yang ada tersebut  hanya dapat menyelesaikan masalah-masalah diatas hanya dengan energi dan mandat suci dari rakyat yang akan mulai diberikan secara bertahap mulai dalam pemilu ini (pemilu legislatif dan presiden/wakil presiden).  Artinya wahai para calon pemimpin, pabila nanti Anda terpilih jangan sekali-kali menghianati mandat dan amanat suci karena kami akan menarik kembali mandat bila kekuasaan yang kami berikan tidak dijalankan semestinya.  Legitimasi Anda langsung akan otomatis jatuh secara alami cepat atau lambat bila mandat dan amanat Anda sia-sia kan sehingga energi kita untuk menangani masalah akan menyusut habis.  Mulai saat ini kami rakyat pemberi mandat dan amanat akan jeli mengamati setiap saat, dan ketahui serta camkanlah! Anda di pilih rakyat untuk mengabdi dan melayani rakyat, bukan sebaliknya. Mulailah Anda menempatkan diri, mengatakan pada hati nurani dan menyadari sepenuhnya bahwa Anda adalah pelayan rakyat, dan akan berkhidmat pada rakyat.  Mulai hari ini Anda tanamkam pada hati nurani dan tindakan Anda sehari-hari untuk berkhidmat pada rakyat dan bangsa ini dan pada saatnya nanti Anda akan menjadi pemimpin sejati yang pada saat itu rakyat siap bertukar tempat dan posisi dengan Anda dimana rakyat yang menjadi pembantu Anda serta siap pada titah Anda.  Tidakkah kita semua rindu pada keadaan dan situasi seperti itu dimana antara pemimpin dan rakyatnya saling menopang untuk kemajuan bangsa dan negara?  Bila harapan ini menjadi kenyataan maka deretan masalah diatas dapat kita atasi yang hasilnya dapat kita lihat dan kita nikmati bersama segenap bangsa ini.

Wahai saudaraku semua pilihlah pemimpin dengan kesadaran, akal sehat dan hati nurani serta berdoalah, dan Anda calon pemimpin bersiaplah menjadi pelayan rakyat sekaligus pemimpin, dan berdoalah juga untuk itu dan jika terkabul dan Anda terpilih jangan menghianati doa Anda sendiri.  Allah akan dengan mudah dalam sekejap mengambil dari Anda kekuasaan dan kepemimpinan itu, dan itu dapat terjadi setiap saat dimasa kepemimpinan Anda dengan berbagai cara yang dapat kita bayangkan dan yang tidak kita bayangkan.  Sesuatu yang pasti bahwa kita akan berhenti disatu titik yang merupakan protokol bagi Malaikat Maut untuk memisahkan kita dari dunia dan isinya ini ke alam nyata yaitu alam menuai sesuatu yang kita tanam di dunia ini.  Pada prosesi sakaratul maut itu kita bak melihat film yang kita lakoni selama kehidupan kita dan kita tonton kembali, dan pada saat itulah kita pergi untuk menjumpai amal-amal kita dan mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Nya.

Marilah kita kita panjatkan do’a lima tahun sekali pada saat seperti ini,  “Ya Rabbi, bimbinglah calon pemimpin kami untuk dapat menjadi pelayan kami dan berkhidmat pada kami, jadikan dalam hati nuraninya saat ini agar bertekad untuk benar-benar berjuang bagi rakyat dan negeri kami dengan mengedepankan moralitas tinggi, kerja keras, dan tegas dalam kebijaksanaan dan keadilan.  Bila itu layak baginya maka teguhkan ya Rabb dan jadikan dia pemimpin kami, tapi bila itu tidak layak baginya maka balikkan hati mereka untuk mengundurkan diri saat-saat ini atau gagalkanlah sebelum mereka berkuasa karena Engkaulah penguasa segala hati. Ya Rabbi, bimbinglah pula kami sebagai rakyat yang akan memilih calon pemimpin negeri ini.  Menangkanlah calon pemimpin terbaik bagi kami yang dapat kami jadikan teladan bagi bangsa ini, Aaamiin.”

 

————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL