Oleh: Robert Fisk

Obama yang malang. Ia berkunjung ke Riyadh untuk berunding dengan negara yang ia anggap sebagai sekutu, Arab Saudi. Kerajaan Wahabi yang telah kehilangan kesabaran terhadap Presiden AS, yang telah memutuskan hubungan dengan Iran, dan telah gagal menumbangkan rezim Alawite di Suriah. Lalu mengapa Obama harus berkunjung ke Teluk? Masih adakah yang menganggapnya teman – baik para raja, emir, atau pangeran Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab dan Oman?

Obama tidaklah sedang memasuki “singa” Saudi. Karena Saudi sendiri tidak pernah seberani singa, namun mereka memiliki Osama bin Laden di Afghanistan, dan perkembangan dari kelompok ini yang sulit dikendalikan di seluruh kawasan, bahkan mencoba untuk menghancurkan Saudi – yang membuat mereka sangat marah.

Mohammad bin Salman, seorang Wakil Putera Mahkota Saudi dan Menteri Pertahanan, melancarkan perang gila melawan pemberontak Houthi di Yaman tahun lalu, yang dituduh (meskipun tanpa bukti), bahwa Iran membiayai mereka. Kemudian Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al Jubair, yang merupakan mantan Duta Besar untuk Washington – yang berotak brilian dan memiliki lidah yang berbahaya—tidak ragu untuk mengungkapkan kelemahan Barat.

Dan, menurut New York Times, Saudi bahkan mengancam untuk menjual asetnya senilai miliaran dolar di AS bila Kongress meloloskan ‘bill 9/11’ yang menunjukkan bahwa pemerintahan Saudi harus bertanggung jawab atas tuntutan di pengadilan AS atas tindakan kriminal kemanusiaan yang dilakukan dalam peristiwa 9/11.

Dan begitulah, hubungan antara Saudi dan AS agak merenggang saat ini. Dari 15 pembajak pesawat dalam peristiwa 9/11, 15 orang diantaranya adalah warga negara Saudi, dan faktanya, hubungan diplomatik antara kedua negara sempat terputus setelah penyerangan 9/11.

Rakyat Amerika meyakini benar-benar, bahwa ISIS sendri saat ini mendapatkan banyak dukungan dari Saudi, meskipun orang-orang itu juga tidak memungkiri bahwa pemerintahan mereka juga terlibat dalam mendukung ISIS. Saudi, di lain pihak merupakan negara yang sangat cerdik — untuk menjadi sekutu.

Obama harus berpura-pura kepada Raja Salman (ayahnya wakil putera mahkota) bahwa AS masih berdiri untuk mengamankan kerajaan, ia bisa bersuara keras bahwa ia masih tetap mendukung “demokrasi” Saudi untuk beberapa alasan yang jelas. Dan sangat jelas bahwa Saudi memiliki minyak yang sangat melimpah, produksi mencapai jutaan barel per hari, merupakan hal yang sangat strategis untuk mengontrol perekonomian/ keuangan, maka itu cukup untuk membuat Barat harus membungkuk melakukan penghormatan di kawasan.

Yakinlah saat Raja Salman meninggal (dan mungkin ia masih hidup selama beberapa tahun) maka David Cameron akan sekali lagi mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda penghormatan.

Dan ini masalah sesungguhnya, setelah bertahun-tahun rakyat Amerika berfantasi bahwa Saudi akan menekankan suatu moderasi di Timur Tengah. Namun ternyata pemerintahan Obama menegaskan bahwa Iran memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan di Irak dan Suriah (juga Hizbullah di Lebanon), dan hal itu lebih baik jika dibandingkan dengan Saudi. Apalagi setelah kesepakatan nuklir dengan pemimpin Iran yang baru yang mengakhiri sanksi terhadap Iran, maka perlahan hal ini menyadarkan Saudi bahwa Washington mungkin saja akan membiarkan posisi Assad di Damaskus.

Iran mungkin saja akan menjadi, sebagaimana di bawah Shah, akan menjadi “polisi” di Teluk. AS tidak mau ada lagi ‘free riders’ atau penumpang gelap (sebagaimana yang dideksripsikan Obama untuk menyebut orang-orang Saudi) yang mendukung ISIS.

Kemelut Obama, mungkin akan semakin berat dalam minggu ini, bahwa diplomasi harus lebih diutamakan untuk menyelesaikan konflik Sunni-Syiah, bahwa AS jangan lagi melakukan petualangan militer di Timur Tengah ( ataupun, seperti yang dicurigai: memberikan dukungan bagi perang yang dikobarkan Pangeran Mohammed di Yaman).

Menyenangkan mengetahui bahwa 28 halaman yang disensor dalam laporan resmi peristiwa 9/11 ternyata mengungkap tentang Saudi. Mungkinkah Obama akan menyebutkan itu di Riyadh? Pembicaraan lebih lanjut tentang miliaran aset di AS mungkin hanya akan semakin memprovokasi rakyat AS untuk membongkar semua rahasia ini. (LiputanIslam.com)

—-

Artikel ini diterjemahkan dari The Independent.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL