Oleh: Rendy Pahrun Wadipalapa*

Debat dua pasang kandidat presiden dan wakil presiden seharusnya berhasil menghidupkan kembali diskursus politik dari apatisme yang melesukan semangat. Meski harapan ini tampaknya mulai menjadi kenyataan, tetapi kebangkitan diri dari apatisme dengan cepat berubah menuju agresivitas.

Sudah beberapa hari ini, baik di media sosial hingga obrolan warung diisi oleh sengketa atas tema-tema kontestasi presiden. Publik terbawa demikian jauh pada pusaran kemelut ini, tanpa persiapan kesadaran apakah debat antara mereka itu sungguh-sungguh ada hubungannya dengan masa depannya sendiri.

Fenomena menariknya bukanlah substansi sebelah mana dari adu program capres itu yang didiskusikan oleh publik, melainkan mengapa debat senantiasa menjadi menu utama yang memikat perhatian kita semua? Mengapa sebuah program dan visi atas masa depan Indonesia memantik semangat ketika itu semua diperagakan, dikemas, dan didemonstrasikan lewat sekian prosedur dan logika bahasa gambar?

Lebih jauh lagi, mengapa seolah-olah di sana dipertaruhkan bukan saja segenap harga diri pasangan calon, melainkan juga harga diri pendukungnya yang telah setia menjangkarkan diri pada pilihannya yang dirasa paling benar?

Masuk akal ketika kita kini melihat bagaimana Komisi Pemilihan Umum dikepung oleh kritik yang tak lagi bisa dihitung, ihwal beberapa keputusannya tentang teknis debat capres-cawapres. Partai politik saling bertarung untuk memperjuangkan mekanisme dan prosedur mana yang paling menguntungkan calonnya: mulai dari penggunaan bahasa, suplai kisi-kisi pertanyaan, hingga kemungkinan untuk memodifikasi visi-misi menjelang debat. Bahkan mulai muncul kebutuhan dari para kontestan untuk menggelar latihan simulasi debat sebelum sungguh-sungguh berhadap-hadapan di panggung.

Apakah kita sedang begitu dimabuk pertunjukan gagasan?

Peragaan Bahasa

Metafora relasi penonton-aktor adalah yang paling pas dalam menggambarkan hubungan publik dan elite hari ini. Penonton memiliki selera yang mesti dipenuhi; sementara aktor diwajibkan total berolah-gerak mimik muka agar semakin meyakinkan dan bertambah laku. Posisi penawaran dan permintaan ini sesungguhnya logika jual beli biasa, yang jika dilihat dengan hati-hati menimbulkan beberapa konsekuensi penting.

Pertama, politik memperluas dirinya bukan sekadar sebagai medan menguji gagasan, melainkan wilayah terbuka tempat gagasan diperagakan ke dalam bahasa. Itulah sebabnya, debat kandidat adalah pertaruhan serius karena di sana program dan gagasan akan dikonfirmasi oleh teknik berbahasa. Narasi dan tempo menjadi penting dikuasai bukan untuk menambah bobot dari gagasan yang hendak dibawa, melainkan untuk memesona publik dengan peragaan bahasa.

Kedua, politik adalah bagian dari teknologi yang mampu melunasi hasrat. Debat kandidat adalah pertunjukan tempat bertemunya hasrat penonton dengan kebutuhan aktor; hasrat atas imajinasi ideal dari idolanya yang memesona, dan kebutuhan untuk terus dilihat dan dipilih. Penonton merayakan jagoan aktornya, kadang-kadang dengan mengerahkan daya fanatismenya; sedangkan aktor berkeras memoles citranya.

Di sini dapat meruap fanatisme sebagai fase baru dari kemalasan berpikir: dukungan buta yang menutup mata atas kelemahan substantif sang aktor. Idola akan selalu menjadi pemenang sambil mempersetankan apa sesungguhnya keunggulan objektif yang dipunyai dibanding kontestan lain. Sebagaimana teater, terkadang logika dapat diistirahatkan terlebih dahulu karena mencerna cerita panggung lebih dibutuhkan imajinasi fiksi.

Ketiga, terjadi pemberhalaan atas debat, seolah-olah pencarian kebenaran politik hanya mungkin ditarik dari kesan yang timbul setelah debat kandidat. Tentu saja situasi ini bukan saja sangat gegabah, tetapi lebih-lebih menyederhanakan politik itu sendiri sebagai ruang sempit yang hanya diisi oleh peragaan para elite.

Pertunjukan debat pada akhirnya memukul mundur semangat yang bermaksud untuk menindaklanjuti uraian debat. Upaya semacam ini seringkali dianggap tak lagi perlu, apalagi jika yang didahulukan di sana adalah sebuah hasil matematis yang mengunci kita dengan kategori menang debat atau kalah debat. Ada kecenderungan untuk memercayai bahwa hasil dari suatu debat adalah hasil paling sahih untuk digunakan sebagai ukuran mutu dari kandidat.

Padahal, kendala utama dari anggapan semacam itu adalah bahwa pernyataan peserta debat tidak sungguh-sungguh dapat diuji. Ada keterbatasan prosedural, keharusan-keharusan protokoler, etika bahasa, dan lain sebagainya, yang sebetulnya secara langsung maupun tidak telah menghalangi proses verifikasi secara komprehensif. Dengan kata lain, debat bukanlah resep bagi pengukuran mutu kandidat.

Ada kegawatan tertentu tatkala kita menjadi tertarik hanya pada performa teknis belaka, tapi kedodoran dalam menyiapkan sikap kritis. Tepuk tangan diarahkan pada kelancaran retorika dan intonasi bicara, bukan pada riset macam apa saja yang dijadikan dasar bicara. Padahal, data-data yang dihamburkan dalam debat calon presiden kadangkala menimbulkan tanda tanya lanjutan yang membutuhkan verifikasi, tetapi tak pernah direspons dengan serius. (LiputanIslam.com)

*pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, disalin dari Detik, 18 Januari 2019.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*