Oleh: Iqbal Aji Daryono*

Sambil duduk-duduk di dapur penginapan murah dekat pusat kota Albany, 500 kilometer selatan Perth, saya menyapa si gadis berambut merah yang sedang mencuci gelasnya. Saya bertanya, kenapa hostel itu begitu sepi. Lalu mengalirlah rentetan cerita pahit dari bibirnya.

“Teman-teman sedang bekerja di kebun-kebun. Mereka berangkat pagi, dan baru pulang sore nanti. Aku biasanya juga bekerja di kebun blueberry.”

Crystal, namanya. Wajahnya cantik tapi lusuh, bajunya kumal, dan kulitnya menghitam terbakar matahari. Dia datang dari Prancis, sebuah negara yang dengar-dengar sekarang semakin ngos-ngosan dalam menghidupi warganya.

Saya tidak sempat bertanya bagaimana Crystal bisa terdampar di Albany. Yang jelas dia datang sebagai backpacker, berjumpa dengan sesama turis miskin lainnya di kota ini, dan sama-sama mendapatkan pekerjaan di tanah-tanah pertanian yang membentang di sekitar kawasan Albany hingga Margaret River.

“Agar visa kami bisa diperpanjang, kami harus bekerja 88 hari. Itu syarat dari badan imigrasi. Dan karena itulah para pemilik lahan pertanian mengeksploitasi kami habis-habisan.”

Saya kaget mendengar kata “eksploitasi”. Selama ini saya sudah begitu yakin bahwa Australia sangat maju dalam kesejahteraan pekerja. Pernah pula saya bagi deskripsi tentang itu di kolom ini, dengan tulisan berjudul Cerita Selasa dari Buruh Australia. Bagaimana kontrak kerja antara majikan dan buruh dijalankan secara ketat, bagaimana pendapatan antara kerah putih dan kerah biru tidak senjang, bagaimana jurang yang tak lebar itu memunculkan apresiasi sosial kepada para pekerja kasar, dan sebagainya.

Namun perjumpaan akhir pekan lalu dengan Crystal membuat saya merasa tak tahu apa-apa. Lihat, betapa anak-anak backpacker itu begitu lemah posisi tawarnya, merelakan diri masuk ke ruang-ruang gelap industri pertanian demi bisa menyambung hidup di Australia.

“Kami tidak dibayar per jam, melainkan per kilo. Sekilo blueberry dihargai 6 dolar. Kalau bekerja sangat keras seperti Selasa lalu, dalam 8 jam kerja aku bisa mendapat 12 kilo,” lanjut Crystal.

Saya melongo. Rata-rata upah pekerja kerah biru normal adalah 150 hingga 160 dolar per hari, sudah lengkap dengan perlindungan keselamatan dan sebagainya. Nilai upah segitu relatif mepet untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan standar, mulai sewa rumah, tagihan gas dan listrik, juga kebutuhan bahan makanan.

Namun para pemetik blueberry yang lepas dari pantauan Departemen Tenaga Kerja ini bekerja di ladang tak peduli panas-hujan, tanpa jam makan siang, dengan posisi badan yang terus membungkuk hingga seringkali tulang punggung menjadi korban. Bahkan Crystal sempat harus berhenti bekerja karena mengalami cedera tangan.

Sebagai hasilnya, ia mendapatkan 72 dolar saja.

***

Berkali-kali saya berjumpa dengan lelaki itu, saat sama-sama mengirimkan barang ke pelanggan. Perusahaan logistik kami memang berbeda, tapi kami selalu bertegur sapa demi jiwa korsa. Hingga akhirnya dua pekan sebelum saya ke Albany (tempat saya bertemu si gadis pemetik blueberry), saya sempat berbincang dengannya.

Namanya Hoa. Dia orang Vietnam, datang ke Australia pada 1990-an, setelah transit sekian lama di Pulau Galang. Sepatah dua patah kata bahasa Indonesia dia ucapkan, begitu tahu saya dari negeri tempat Pulau Galang berada.

Di depannya, saya memuji-muji Vietnam. Isinya kurang lebih sama dengan tulisan saya pada kolom ini yang berjudul Dari Oleh-oleh Turis Miskin ke Siraman Bensin.

Saya memang terkesan dengan Vietnam. Negeri itu jauh lebih maju dari bayangan saya semula. Kota-kotanya bersih, jaringan transportasi rapi, penduduknya ramah-ramah. Para tukang jalan-jalan seperti saya bisa melenggang ke mana pun dengan nyaman, bahkan bisa bersembahyang dengan aman karena masjid-masjid juga beroperasi bebas tanpa ancaman moncong bedil serdadu komunis.

Lebih dari itu, saya terpukau melihat bagaimana di sebuah alun-alun yang dikelilingi kompleks pertokoan, lapak yang paling dikerubuti pengunjung adalah… toko buku! Toko buku di Ho Chi Minh City begitu ramai, jauh mengalahkan toko pakaian dan kafe-kafe. Wow, betapa beradab dan berbudaya!

Segala kekaguman itu saya pegang sebagai sebuah kebenaran final, saya sampaikan kepada siapa pun yang menggeneralisasi semua negara komunis sebagai negara anti-agama, dan saya puja-pujikan di depan Hoa sambil bertanya, “Kenapa kamu nggak pulang ke Vietnam saja? Bukannya sekarang kehidupan sudah sangat baik di sana?”

Tak saya sangka, Hoa malah cemberut. Dia langsung menggeleng-geleng sambil pasang tampang sewot.

No, no, no! Kamu tidak tahu bahwa orang-orang Selatan terus ditindas sampai sekarang! Orang-orang Utara terus dimanjakan pemerintah, diberi segala fasilitas dan kemudahan bisnis, bisa sekolah tinggi, bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Kami orang-orang Selatan tidak! Kalau kamu lihat ada perusahaan besar dan bagus di Vietnam, maka bos-bosnya pasti dari Utara, dan buruh-buruhnya dari Selatan!”

Saya melongo, mungkin sama lebarnya dengan saat saya mendengar cerita Crystal si pemetik blueberry. Lekas runtuhlah segenap kekaguman saya kepada Vietnam. Ternyata rezim penguasa di sana masih belum move on dari perang saudara yang terjadi lebih dari empat dekade silam. Tak bedanya para politisi Indonesia yang juga masih menjadikan luka lebih dari setengah abad silam sebagai dagangan politik.

Semula saya kira, semangat rekonsiliasi pasca-perang adalah bahan bakar yang membuat Vietnam bangkit. Tapi ternyata diskriminasi atas rakyat Vietnam Selatan terus berjalan hingga hari ini oleh pemerintahan Komunis, tentu saja berbekal stempel bahwa orang-orang Selatan adalah mantan pendukung Amerika semasa perang.

I still have family in Vietnam, but they are very foor!” Hoa melanjutkan dengan penuh emosi. Entah kenapa, banyak orang Vietnam memang menyebut huruf ‘p’ dengan ‘f’, sehingga foor yang dia ucapkan itu tentu saja maksudnya poor. Maka gong dari pernyataannya itu pun dia lontarkan sebagai pamungkas:

I hope the Communist will collapse soon! Soon! And Vietnam will be better!”

***

Betapa rapuhnya pengetahuan manusia. Apa yang semula saya pegang erat-erat sebagai fakta dengan akurasi yang perkasa, ternyata terlibas begitu saja hanya dengan kemunculan sepotong dua potong cerita. Ini sebenarnya pola yang begitu sering kita jumpai di depan mata, namun kita kerap alpa akan maknanya.

Semestinya saya belajar dari angsa-angsa hitam, yang selalu saya papasi di Lake Monger, di Matilda Bay, juga di sepanjang tepian Swan River.

Nassim Nicholas Taleb dalam buku legendarisnya, The Black Swan: the Impact of the Highly Improbable menyebut angsa-angsa hitam itu sebagai semacam agen revolusi pengetahuan. Sebelum benua Australia ditemukan (kata ‘ditemukan’ di sini tentu saja bias Barat), selama seribu tahun orang meyakini bahwa semua angsa berwarna putih. Fakta itu dikuatkan oleh bukti-bukti empiris yang tak perlu diperdebatkan lagi. Hingga kemudian orang Eropa mendarat di Australia, dan runtuhlah keyakinan lama tentang warna putih pada semua angsa.

Bayangkan, satu pengamatan saja atas seekor angsa ternyata bisa meruntuhkan teori umum yang dibangun dari konfirmasi selama seribu tahun dan berangkat dari pengamatan atas jutaan angsa di dunia!

All you need is one single (and, I am told, quite ugly) black bird,” kata Nassim dengan nada miris campur ironis.

Malang, fitrah kerapuhan pengetahuan itu kerapkali dinafikan. Kalau toh ada kesadaran bahwa ilmu pengetahuan senantiasa berdialektika, contoh kasus yang diambil paling banter adalah perdebatan antara geosentrisme vs heliosentrisme, Nicolaus Copernicus, lalu Galileo Galilei. Padahal Copernicus sudah mati pada 474 tahun yang lalu, dan Galileo sudah wassalam sejak 375 tahun silam!

Semua lupa bahwa dialektika pengetahuan berjalan terus hingga hari ini, hingga detik ini, terus dan terus, hingga kelak Dajjal menyerang dan Imam Mahdi datang.

Walhasil, dalam lupa kolektif itu, setiap kali muncul perspektif nyeleneh yang mendobrak arus utama kebenaran versi para elite pengetahuan, yang mencuat seketika adalah ungkapan penuh kesombongan: “Banyak-banyak baca buku duluuuuuu!”; “Dasar kurang piknik, pikniknya kurang jauh woiiii!”

Mereka lupa, buku pun bagian dari tafsir atas kebenaran yang terus berproses. Apa yang tertulis dalam buku tidak selalu lebih mewakili kebenaran dibanding fakta-fakta baru yang datang dan sama sekali belum tertuliskan. Mereka juga lupa, bahwa semakin jauh kita berpiknik, ah, bisa jadi justru semakin runtuhlah keyakinan kita atas teori-teori lama.

Tak bedanya nasib saya sendiri, tentunya. Usai beberapa perjumpaan, termasuk dengan Crystal dan Hoa, saya merasa banyak tulisan saya yang muncul di kolom ini ternyata tak layak dipercaya. Maka, ya jangan dipercaya. Mohon bacalah sebagai hiburan saja, atau sesekali sebagai penggelak tawa.

Saya kira, itulah pesan akhir tahun paling penting yang bisa saya sampaikan. Selamat Natal dan Tahun Baru! (LiputanIslam.com)

*esais, sedang menjalani pekan terakhir dalam masa tinggalnya di Perth, Australia, disalin dari Detik, 26 Desember 2017.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*