Oleh: Zuhairi Misrawi*

Dalam sebulan terakhir, Arab Saudi menjadi perhatian dunia karena kasus kematian Jamal Khashoggi yang tak kunjung selesai. Ada dua misteri yang belum terungkap, yaitu jasad almarhum yang belum ditemukan dan penegakan hukum bagi pelakunya, termasuk siapa aktor utama di balik pelaku. Hingga saat ini, Arab Saudi cenderung menutup-nutupi kedua misteri tersebut.

Konsekuensinya, citra Arab Saudi di mata dunia semakin buruk. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa mendesak agar diadakan investigasi yang bersifat menyeluruh untuk menyingkap tirai gelap dalam kasus kematian jurnalis senior tersebut. Pasalnya, Erdogan yang mendesak agar Arab Saudi menyerahkan 18 orang yang diduga terlibat dalam operasi pembunuhan terhadap Khashoggi agar diadili di Turki cuman dianggap angin berlalu. Bahkan, pihak Arab Saudi secara tegas akan mengadili para pelakunya di Riyadh.

Hal tersebut membuktikan adanya kecurigaan dari publik di seluruh dunia perihal ketidakseriusan Arab Saudi dalam mengungkap aktor utama. Bahkan, Arab Saudi ditengarai sengaja ingin mengaburkan kasus yang menarik perhatian warga dunia tersebut.

Tentu saja kenyataan tersebut semakin menambah catatan buruk citra Arab Saudi dalam konteks pelanggaran HAM. Padahal Arab Saudi disebut-sebut telah menggelontorkan uang yang lumayan besar untuk memoles citranya sebagai ramah dan moderat. Beberapa lembaga konsultan dan riset di Amerika Serikat disewa khusus untuk memperbaiki wajah Arab Saudi yang sering disebut sebagai lumbung ekstremisme dan kekerasan radikal. Tujuannya, Arab Saudi di bawah kepemimpinan Muhammad bin Salman ingin menarik perhatian para investor untuk visi 2030.

Namun, kasus Khashoggi telah mengungkap entitas Arab Saudi yang belum berubah. Kematian Jamal Khashoggi menjadi bukti nyata perihal Arab Saudi yang tidak ramah pada warganya, terutama kepada mereka yang dianggap menentang kebijakan Muhammad bin Salman.

Publik di Tanah Air mencermati kematian Khashoggi ini dengan satu kata: sadis. Publik yang semula memuji Arab Saudi telah melakukan perubahan yang sangat signifikan berubah pada kekecewaan, bahkan kemarahan. Sejumlah jurnalis melakukan aksi demonstrasi di depan kedutaan Arab Saudi di Jakarta sebagai rasa simpati terhadap Khashoggi yang sepanjang hidupnya menyandang profesi sebagai jurnalis.

Nah, citra buruk semakin menjadi-jadi saat seorang buruh migran asal Majalengka, Tuti Tursilawati dikabarkan telah dieksekusi mati di Arab Saudi tanpa notifikasi kepada perwakilan pemerintah Indonesia di Arab Saudi, baik Kedutaan Besar maupun Konsulat Jenderal. Apalagi proses hukum atas Tuti masih berlangsung karena pemerintah sedang melakukan banding atas keputusan hakim.

Kisah almarhumah Tuti ini semakin menunjukkan citra Arab Saudi yang tidak ramah pada buruh migran. Alih-alih ingin ramah pada buruh migran, kepada warganya sendiri Arab Saudi cenderung bersifat tidak adil, menangkap tanpa pengadilan yang transparan bahkan membunuh secara sadis, sebagaimana yang terjadi pada Jamal Khashoggi.

Ada dua hal yang dilanggar oleh Arab Saudi dalam kasus eksekusi hukuman mati terhadap Tuti. Pertama, pengadilan yang tidak adil dan transparan. Tuti adalah seorang buruh migran yang kerap diperlakukan secara tidak adil oleh majikannya, termasuk korban pelecehan seksual. Ia tidak akan memukul majikannya jika tidak diperlakukan secara diskriminatif, apalagi menyangkut harga dirinya.

Nah, Arab Saudi yang disebut-sebut menerapkan hukum Islam mestinya tidak bisa memutuskan hukuman mati pada Tuti, karena ada preseden dan faktor yang harus menjadi pertimbangan hukum di balik tindakan yang dilakukan kepada majikannya, yaitu pelecehan seksual.

Pada masa Umar bin Khattab pernah ada sebuah kejadian seorang miskin yang mencuri harta orang kaya. Orang miskin tersebut tidak dipotong tangannya, sebagaimana berlaku dalam hukum Islam karena orang kaya berlaku kikir terhadap orang miskin. Bahkan Umar bin Khattab mengancam orang kaya tersebut, jika orang miskin mencuri kembali, maka tangan orang kaya yang akan dipotong karena terbukti menelantarkan orang miskin!

Poinnya adalah hukum pidana Islam (hudud atau qishash) tidak serta merta diperlakukan secara harfiah, tetapi harus ada unsur keadilan di dalamnya. Sikap Tuti yang memukul majikan karena kerap melakukan pelecehan seksual adalah dalam rangka mempertahankan diri dari kejahatan. Karenanya, Tuti tidak layak untuk dihukum mati.

Dalam hal ini, sulit rasanya untuk berharap pada keadilan dalam kasus hukuman mati di Arab Saudi. Masih ada 13 kasus hukuman mati lainnya yang masih menunggu.

Kedua, Arab Saudi tidak memberitahu perwakilan pemerintah sebelum melakukan eksekusi mati. Itu artinya ada pelanggaran diplomasi yang dilanggar. Arab Saudi terlihat merendahkan RI. Padahal beberapa hari yang lalu Menteri Luar Negeri berkunjung ke Indonesia. Kita mempunyai hubungan baik dengan Arab Saudi, sebagaimana selalu digembar-gemborkan oleh Duta Besar Indonesia di Riyadh.

Kedatangan Raja Salman ke Indonesia disambut dengan luar-biasa, penuh penghormatan, melebihi kedatangan pimpinan negara dari negara lainnya. Itu artinya, Indonesia sangat menghormati Arab Saudi, karena sejarah panjang hubungan di antara kedua negara.

Eksekusi hukuman mati terhadap Tuti tanpa notifikasi membuat kita semua bertanya-tanya, apakah Arab Saudi juga menghormati Indonesia? Bukankah Arab Saudi juga mendapatkan manfaat yang besar dengan kehadiran buruh mingran dari Indonesia?

Citra buruk Arab Saudi harus menjadi perhatian serius dari pemerintah Indonesia. Presiden Jokowi tidak cukup hanya menelepon Menteri Luar Negeri Arab Saudi, tetapi juga perlu menelepon Raja Salman atau Putera Mahkota Muhammad bin Salman untuk menyampaikan protes dan meminta agar Arab Saudi memperlakukan para buruh migran kita dengan adil.

Puncaknya, perlu kebijakan yang transparan dan akuntabel dari Arab Saudi terkait perlindungan warga negara kita yang bekerja di Arab Saudi. Mereka semestinya tidak diperlakukan sebagai “budak”, melainkan pekerja migran yang harus dilindungi dan diperlakukan secara adil, sehingga nasib yang menimpa Tuti tidak terulang kembali di kemudian hari. (LiputanIslam.com)
*intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta, disalin dari Detik, 2 November 2018.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*