Oleh: Budi Bastian

Kejadian tewasnya Pratu Galang, anggota TNI AD, yang dianiaya sekelompok geng motor  pada tanggal 5 Juni 2016 di Bandung, jelas memunculkan keprihatinan. Sungguh tragis, pemuda yang telah diasuh, dibesarkan, dan dididik orang tuanya, telah pula dididik oleh negara sampai menjadi tentara, harus tewas sia-sia karena aksi kejahatan sekelompok pemuda lainnya. Kasus ini hanya salah satu dari sekian banyak kasus pembunuhan, tawuran, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya yang melibatkan pemuda, yang seharusnya menjadi tumpuan harapan bangsa dan agama.

Buya Hamka dalam bukunya ‘Dari Lembah Cita-Cita’ menulis peran besar pemuda dalam membuat perubahan besar di berbagai negara. Gandhi muda dulunya hidup sebagai pengacara di Afrika Selatan dan di sana dia mendapatkan kesadaran betapa bangsanya direndahkan dan ditindas oleh orang-orang Inggris. Dia kemudian meninggalkan kehidupan makmurnya untuk kembali ke India dan memimpin perjuangan bangsanya dalam melawan kolonialisme Inggris. Pemuda bernama Hatta pada usia 25 tahun telah mendirikan perkumpulan politik yang radikal di Leiden, Belanda, yaitu Perhimpunan Indonesia  dan pada usia 26 tahun telah memimpin Kongres Liga melawan imperialisme.

Rasulullah SAW pun menempa dirinya sejak ia masih muda. Ia buktikan kejujurannya kepada semua orang sehingga ia dikenal sebagai pemuda yang sangat jujur,  Al Amin. Kejujuran inilah yang dijadikan modal utama ketika beliau pertama kali hendak mendakwahkan Islam secara terbuka pada usianya yang ke-43. Saat itu Rasulullah SAW bersabda, “Jika aku memberitahukan kepada kalian bahwa di balik gunung ini ada musuh yang tengah menanti kalian, apakah kalian akan percaya kepada ucapanku?” Kaum Qurays pun menjawab, “Engkau adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya, tentu kami akan percaya.”  Kemudian Rasulullah Saw mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah dan meninggalkan berhala-berhala yang selama ini mereka sembah.

Hamka mengutip kata-kata Rasulullah, “Pemuda itu adalah satu bagian dari gila.” Maksudnya, pemuda adalah orang-orang yang ‘gila’ karena dengan penuh semangat dan keyakinan melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan orang lain, mengadakan yang belum ada, dan melawan hal-hal yang seolah tak mungkin dilawan.

Hamka menulis, “Kalau sekiranya tidak atas usaha pemuda yang sudi ‘bergila’ tentu kemerdekaan Indonesia yang telah kita pegang selama ini tidak akan kita peroleh. Pemuda-pemuda itulah yang mengajak umat berduyun-duyun ke tanah lapang Ikada Jakarta, beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia dimaklumkan oleh pemimpin-pemimpin kita, padahal dihalang-halangi oleh tentara Jepang. Penuh sesak tanah lapang itu sehingga patah semangat bangsa Jepang yang hendak membubarkan pertemuan itu dengan letusan meriam, dengan senapan mesin dan mortir. Karena kegilaan pemuda pada waktu itu pula semangat orang Jepang jatuh dan mereka mulai tahu dengan siapa mereka berhadapan!” (halaman 4).

Di halaman selanjutnya, Hamka mencatat, “Oleh karena itu bolehlah dikatakan bahwa Indonesia merdeka ini adalah ciptaan  pemuda. Presiden kita adalah presiden yang paling di seluruh dunia. Apalagi wakil presidennya, lebih muda darinya setahun, dan perdana menterinya yang pertama lebih muda darinya enam tahun! Republik muda buatan anak-anak muda.”

Lalu, kemanakah para pemuda hebat itu hari ini? Mengapa berita-berita di Indonesia tentang kaum muda seringkali berupa hal-hal yang memprihatikan? Seiring dengan globalisasi serta kemajuan ekonomi dan teknologi, perhatian kaum muda kita sepertinya telah dilenakan oleh berbagai hal yang kurang bermanfaat. Untuk itu penting bagi kita semua untuk saling mengingatkan anak-anak, remaja, dan pemuda, agar menempuh jalan hidup yang benar. Sebenarnya, seperti ditulis Buya Hamka pada tahun 1941, setiap manusia memiliki jiwa yang sehat atau fitrah yang selalu ingin mencapai hidup yang lebih sempurna dari yang telah ada. Jiwa yang sehat selalu haus akan pengetahuan yang benar. Namun sayangnya, dalam perjalanan hidup, manusia sering terlenakan oleh banyak hal sehingga keinginan jiwanya itu terabaikan dan hidupnya pun kehilangan arah.

Untuk menghindarinya, Buya Hamka dalam bukunya ‘Lembaga Budi’ halaman 22, Hamka menulis, “Hendaklah bergaul dengan orang yang memiliki keinginan yang sama [mendapatkan pengetahuan yang benar] dan jangan rapat bergaul dengan orang yang tidak punya keinginan seperti itu karena itu adalah tanda bahwa jiwanya sudah mulai sakit. Maka waspadalah, jangan sampai memindah pula penyakit itu kepada kita yang masih sehat. Jauhi pergaulan dengan orang-orang jahat yang mendororong ke jalan lacur, yang bangga dengan perbuatan jahat dan durjana. Jangan suka mendengar kalau ada orang memuja-memuji dan menganjurkan perbuatan-perbuatan demikian dekat kita. Jangan diulang syair dan cerita-cerita cabul dan jangan hadir di dalam majelis orang-orang yang demikian.”

Apa yang ditulis Hamka bersesuaian dengan hadis Rasulullah SAW, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap” (HR Bukhari dan Muslim).

Seorang psikolog AS bernama Dr. David pernah meneliti dan menyimpulkan bahwa lingkungan pergaulan sangat berpengaruh pada kesuksesan seseorang. Jika kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang disiplin, rajin, jujur, dan berkepribadian baik, maka kita pun akan terbentuk menjadi seperti mereka, dan demikian pula sebaliknya. Jadi, wahai para pemuda, berhati-hatilah dalam memilih teman. (LiputanIslam.com)


 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL