Foto: www.islamtimes.org

Foto: www.islamtimes.org

Oleh: Putu Heri

Hari itu, Israel terguncang hebat. Bagaimana tidak, Hamas memenuhi sumpahnya untuk menargetkan lebih jauh lagi wilayah-wilayah Israel dengan roket-roket yang tidak diduga dimiliki oleh Hamas.

The Jewish Press,  media terkemuka Israel pada tanggal 9 Juli 2014 mengungkapkan hasil identifikasi roket jarak jauh Hamas, yang ternyata disuplai oleh Suriah. Roket itu jenis M302, dengan berat 120 kg dan memiliki jangkauan hingga 100 km. Menurut TJP, Hamas mengklaim memiliki puluhan roket jenis itu.

TJP, dalam geramnya juga mengungkapkan bahwa Hamas telah berhasil memperluas bangunan di Jalur Gaza, yang mereka gunakan untuk memproduksi roket-roket jenis Fajr-5, yang diciptakan Iran. Roket jenis ini adalah senjata yang disuplai Iran pada perang Israel-Palestina tahun 2012, yang memaksa Israel untuk melakukan gencatan senjata dengan Palestina.

Dipakainya senjata Iran dan Suriah kembali oleh Hamas, hanya berarti satu hal: Poros anti-Zionis Iran-Suriah-Hizbullah-Hamas, telah bersatu.

 

Kekeliruan Langkah Hamas

Satu-satunya langkah Hamas yang sangat disayangkan dalam menyikapi konflik Suriah adalah meleburkan diri bersama kelompok pemberontak, yang tengah berusaha menggulingkan Bashar al-Assad. Sikapnya ini, disinyalir sebagai rasa kesetiakawanan – kepada teman-temannya yang mengusung ideologi yang sama, Ikhwanul Muslimin. Kelompok IM di seluruh dunia, bersikap sama atas krisis Suriah, yaitu mendukung pemberontakan.

Sebut saja di Mesir, dengan Presidennya Muhammad Mursi  yang menyerukan rakyatnya untuk berjihad ke Suriah. Di Turki, Recep Tayyip Erdogan menyediakan wilayahnya sebagai markas pemberontak, tempat keluar masuk hingga tempat pelatihan jihadis-jihadis dari berbagai negara. Begitu juga dengan Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera, yang mengadopsi ideologi Ikhwanul Muslimin juga sangat mendukung pemberontakan Suriah, dengan berbagai cara. Situs-situs dan kader-kader PKS secara masif mengabarkan berbagai propaganda untuk mendeskreditkan Bashar al-Assad. Mereka juga aktif menggalang dana.

Hamas pun terjebak dalam rasa “setia kawan” tersebut. Dukungan Hamas kepada pemberontak Suriah, semakin dikukuhkan dengan beredarnya foto-foto Khaleed Meshal dan Ismail Haniyeh yang turut mengibarkan bendera hijau hitam putih dengan dua bintang yang digunakan oleh FSA.

Namun sayang, Suriah terlalu tangguh. Siapa sangka, negara yang dikeroyok oleh ratusan ribu jihadis dari seluruh dunia, tetap kokoh tak terkalahkan. Bagaimana bisa, negara yang hendak dihancurkan dengan dukungan dari negara-negara AS, negara-negara Eropa, dan negara-negara Arab, tetap berdiri dengan kepala tegak?

Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh plot Zionis, yaitu perlawanan rakyat Suriah yang begitu gigih melawan pemberontak. Begitu juga dengan kebijakan yang diambil oleh elit Hamas. Tergoda dengan keberhasilan Mursi menempati posisi puncak di Mesir, dan kekhawatiran Assad akan segera jatuh, Hamas pun berpaling. Langkah yang diambil: mendukung pemberontak, angkat kaki dari Suriah — rumah kedua  yang telah memberikan  segala bentuk dukungan untuk Hamas.

Namun apa lacur, Mursi terguling di pertengahan tahun 2013. Hamas pun ketar-ketir. Dimana mereka bisa mendapatkan dana ? Sementara Iran, negara yang sudah bertahun-tahun menyuplai Hamas dengan dana dan senjata – telah memilih untuk menghentikan bantuannya lantaran kebijakan Hamas di Suriah. Mau kembali kepada Suriah yang mereka hianati?

 

Kebesaran Hati Iran, Hizbullah, dan Suriah

Mau tak mau, Hamas pun kembali mendekati Iran. “Beberapa pertemuan dengan Iran telah terjadi untuk menjernihkan beberapa hal yang  diantara kami, namun saat ini, keadaan belum sepenuhnya normal,”demikian pengakuan salah satu pejabat Palestina, seperti dilansir Reuters, 20 Agustus 2013.

Moussa Abu Marzouk, mantan wakil kepala biro politik Hamas, juga berkali kali melakukan pertemuan dengan  Hizbullah dan pejabat –pejabat Iran di Lebanon, untuk memperbaiki hubungan mereka. Hani Habib, seorang analis politik yang berbasis di Jalur Gaza mengungkapkan, bahwa Hamas memang berusaha sepenuhnya untuk kembali merajut kasih dengan Iran dan Hizbullah, demi kepentingan Palestina.

Dalam wawancara ini, narasumber Liputan Islam menyebutkan, bahwa Suriah pun bersedia untuk kembali “berbaikan” dengan Hamas, dengan syarat, Hamas membantu Tentara Suriah membersihkan kelompok-kelompok teroris yang menguasai Kamp Yarmouk.

Tidak pernah terdengar desas-desus adanya tranfer senjata dari Suriah kepada Hamas, dan sepertinya hal itu juga sulit  dilakukan mengingat kondisi Suriah masih dalam peperangan sengit. Namun, dengan digunakannya roket M302 Khaibar, yang telah terverifikasi berasal dari Suriah, telah menjawab segenap keraguan itu. Entah dengan cara apa, intelejen Suriah, kemungkinan bekerja-sama dengan kelompok-kelompok muqawwama Palestina, telah berhasil menyusupkan senjata ke Jalur Gaza. Roket-roket itulah yang kini digunakan oleh Hamas guna memberikan perlawanannya kepada Israel.

Bersatu, Modal Yang Utama

Agresi militer Israel yang disebut Operation Protective Edge, dilancarkan sejak bulan 8 Juli 2014, di tengah kaum Muslimin tengah melakukan ibadah puasa Ramadhan. Ratusan jiwa penduduk Palestina telah gugur, dan kedua belah pihak belum ada tanda-tanda untuk berdamai.  Alih-alih menyetujui gencatan senjata, Hamas justru bersumpah untuk menenggelamkan Israel ke dalam lumpur kekalahan. Hizbullah juga telah menyatakan sikap untuk mendukung perlawanan pejuang Palestina.

Saya ingatkan kembali, Hamas –Hizbullah-Iran –Suriah benar-benar bersatu. Sebuah kolaborasi yang sangat istimewa, mengingat Hamas berideologi IM, Hizbullah dan Iran mayoritas penganut mazhab Syiah, dan Suriah sendiri merupakan negara mayoritas Ahlussunah wal’Jamaah yang moderat. Namun demi Palestina, sekat-sekat itu telah berhasil dikikis.

Dahulu Imam Khomeini, Pemimpin Revolusi Iran pernah mencetuskan hari Al-Yaum al-Quds, yaitu di hari Jum’at terakhir bulan Ramdahan. Ia menyerukan agar di hari itu, seluruh umat manusia apapun agamanya, untuk turun ke jalan-jalan menyuarakan dukungan kepada rakyat Palestina – dan mengutuk penjajahan yang dilakukan oleh Rezim Zionis Israel.

Dan seruannya, sejalan dengan amanat konstitisi Republik Indonesia yang menyatakan “Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan” — tidak peduli apapun suku bangsa maupun agamanya.

Mungkinkah Palestina akan merdeka sepenuhnya? Jawabannya kembali kepada kita sendiri. Jika seluruh dunia juga turut bersatu mendukung Palestina, bersatu melawan penjajahan — sebagaimana yang ditunjukkan plot anti Zionis, Insya Allah, kemerdekaan Palestina bukan lagi sekedar mimpi di siang hari.

________
Redaksi menerima sumabnagan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL