Foto: Siswi Muslimah di Bali dengan kerudungnya  (Win Wan)

Foto: Siswi Muslimah di Bali dengan kerudungnya (Win Wan)

Hari-hari belakangan ini, kita di Indonesia dihebohkan dengan berita dari Bali, tentang pelarangan pemakaian jilbab bagi muslimah. Diawali dari berita protes warga Bali atas perintah pemakaian jilbab bagi karyawan Hypermart, sebuah jaringan swalayan besar di pulau ini. Lalu ini memancing orang mengulik masalah lain, pelarangan pemakaian jilbab di sekolah negeri.

Di negara ini berita yang menyerempet-nyerempet agama (baca : Islam) seperti ini, tidak butuh waktu lama untuk segera menjadi santapan empuk nan lezat bagi para penganut paham radikal. Yang jangankan kelompok berbeda agama, yang seagama dengan mereka tapi berbeda pandangan saja biasa mereka ‘Syiah-kan’, ‘Sepilis-kan’ sampai mereka kafirkan.

Berita yang tadinya sehasta mereka penggal menjadi sejengkal, lalu ditambahi dengan bumbu-bumbu yang sejengkal tadi bertambah menjadi sedepa.

Berita hasil olahan kelompok jenis ini selalu bermuara pada kesimpulan apa yang mereka sebut sebagai fakta bahwa kalau Islam yang menjadi mayoritas, semua penganut agama lain hidup dengan tenang dan nyaman. Sebaliknya kalau Islam menjadi minoritas, maka umat Islam selalu ditekan dan dilecehkan. Mereka dengan mantap selalu bisa meyakinkan pengikutnya, bahwa di manapun di muka bumi, Islam selalu menjadi korban.

Teknik memposisikan diri sebagai korban ini adalah teknik yang selalu digunakan di sepanjang sejarah peradaban untuk membangkitkan semangat perlawanan. Dengan memposisikan diri sebagai korban semua menjadi halal. Contoh nyata dari keberhasilan teknik ini adalah pembantaian yang dilakukan suku Hutu yang digambarkan sebagai mayoritas yang menjadi korban terhadap suku Tutsi di Rwanda dan Burundi.

Salah seorang yang paling bersemangat dengan adanya berita dari Bali ini adalah Jonru, kader PKS yang namanya naik daun saat pilpres silam karena sangat militan dalam mendukung pasangan Prabowo-Hatta.

Jonru dan kawan-kawan menggambarkan bahwa media-media di negeri ini (kecuali dia dan kelompoknya) selalu mendiskreditkan Islam. ‘Kekerasan’ yang dilakukan umat Islam selalu dibesar-besarkan, sementara kalau umat lain yang melakukan ketidak-adilan pada umat Islam, oleh Jonru, media dikatakan bungkam.

Di tangan Jonru yang sangat mahir mengolah kata, berita-berita yang sebenarnya bisa dianalisa dengan memahami latar belakang dan alasannya ini diubah menjadi begitu bombastis. Berdasarkan penggambaran yang disampaikan Jonru, pembacanya langsung membayangkan seolah-olah pulau Bali ini isinya cuma para pembenci Islam. Oleh Jonru, orang Islam di Bali digambarkan seolah-olah sedemikian menderita dan tertekan. Seolah-olah di pulau ini semua manusia begitu alergi wanita jilbab dan sebaliknya sangat nyaman melihat perempuan berbikini.

Dan akhirnya gampang ditebak, berita ini memicu reaksi keras dari seluruh negeri, terutama Muslimin yang menerima berita hasil olahan Jonru. Sebagai wujud simpati kepada warga Muslim yang mereka bayangkan mendapat perlakuan ‘tidak adil’ di Bali, pulau dengan penduduk mayoritas Hindu ini, mereka bersemangat seperti mau perang.

Reaksi yang muncul untuk menghukum Bali beragam. Mulai dari yang mengusulkan supaya pulau Bali diboikot, tidak dikunjungi lagi sebagai tempat wisata supaya ekonominya mati. Sampai yang menganjurkan untuk melakukan pembalasan kepada warga Bali yang ada di luar pulau.

Menariknya, yang berkomentar itu bukanlah kelompok orang dengan pendidikan rendah. Beberapa di antara komentator ini adalah dosen perguruan tinggi negeri yang sudah menamatkan pendidikan di strata dua.

Tapi benarkah Bali sedemikian gawatnya?

Saya adalah seorang Muslim yang sudah menetap di Bali sejak tahun 2003, tepat 4 bulan setelah peristiwa bom Bali pertama yang menghebohkan dunia. Saya menikah di tahun 2004 di Jakarta. Tapi selepas menikah, saya dan istri memutuskan menetap di Bali. Kami sekarang memiliki 3 orang anak yang semuanya lahir di Bali.

Tahun 2010, kami sekeluarga sempat pindah ke Jakarta selama 3 tahun. Tapi istri saya yang lahir dan besar di Jakarta, ternyata tidak betah tinggal di tanah kelahirannya, memaksa saya untuk kembali ke Bali.

Sebelum tinggal di Bali. Dari lahir sampai masa awal masa remaja. Saya tinggal di Takengen, sebuah kota kecil yang merupakan kota terbesar di dataran tinggi Gayo. Awal masa remaja, sampai awal usia dewasa saya habiskan di Banda Aceh. Ibukota provinsi Aceh yang dikenal dengan nama Serambi Mekkah. Di kedua kota ini mayoritas penduduknya adalah pemeluk Islam.

Dengan latar belakang seperti ini, saya bisa membandingkan. Bagaimana perlakuan mayoritas dan tekanan terhadap minoritas di tempat saya berasal dan ketika saya menjadi minoritas di Bali. Tentu saja ada perbedaan dalam menjalani agama yang saya anut, dalam posisi saya sebagai minoritas di Bali dan dalam posisi sebagai mayoritas di Gayo dan Aceh.

Contoh paling nyata pada hari Jum’at. Di Bali, hari Jum’at pada saat waktu shalat orang-orang tetap ramai berkeliaran di jalan. Berbeda dengan di Gayo dan di Aceh yang mulai azan sampai selesainya shalat Jum’at seluruh jalanan dan pertokoan sepi.

Kemudian di bulan Ramadhan. Di Bali semua warung tetap buka. Tak akan ada yang melihat dengan pandangan aneh orang yang makan minum di tengah keramaian. Ini yang membedakan.

Tapi selebihnya, tak ada yang berbeda. Mesjid tetap mengumandangkan azan lima kali sehari. Shalat Jum’at juga tetap ramai. Bahkan di Bali, seringkali saat shalat Jum’at, pecalang  (polisi adat) Hindu-lah yang menjaga keamanan.

Pengajian-pengajian, yasinan, membaca shalawat di tengah perumahan penduduk yang mayoritas Hindu, biasa kami lakukan tanpa gangguan, bahkan meskipun itu dilakukan sampai larut malam.

Terus terang saya tidak bisa membayangkan kalau ini terjadi di Gayo, tanah kelahiran saya. Di tengah perumahan penduduk seperti Bale, Bebesen atau Kebayakan.

Gambaran seperti ini, jelas tidak mungkin bisa kita dapatkan dari Jonru dan orang-orang sejenisnya. Anda harus ke Bali dan menetap di Bali beberapa waktu, untuk bisa memahami ini.

Lalu benarkah media selalu mendiskreditkan Islam dan membela non-Muslim, membesar-besarkan ‘kekerasan’ yang dilakukan Muslim sementara mentolerir intoleransi yang dilakukan non-Muslim?

Kalau kita bicara media internasional dan yang dikategorikan sebagai Non-Muslim ini adalah Kristen atau Yahudi, mungkin saja anggapan ini benar.

Tapi kalau yang kita bicarakan adalah media di Indonesia, dan yang dikategorikan sebagai non- Muslim adalah penganut Hindu Bali yang jumlahnya tidak sampai 4 juta di antara 253 juta penduduk negara ini — apakah media juga berpihak pada non-Muslim? Jangan buru-buru menjawab, mari kita bandingkan.

Seberapa besar porsi media memberitakan berita intoleransi di Bali ini dengan berita pembantaian penduduk penganut agama Hindu Bali oleh mayoritas Muslim di Lampung dan Sumbawa beberapa waktu yang lalu? Pada peristiwa pembantaian yang level kekejamannya tidak di bawah level kekejaman pembantaian Israel terhadap Palestina, kenapa tidak ada media yang memberitakannya secara intens?

Kalau media lebih berpihak ke non-Muslim, kenapa kita lebih familiar dengan ‘pembantaian’ di Rohingya ketimbang pembantaian di Lampung dan Sumbawa?

Kalau orang Bali sedemikian bencinya kepada umat Islam sebagaimana digambarkan oleh Jonru dan kawan-kawan, kenapa, setelah saudara-saudara mereka dibantai di Lampung dan Sumbawa, mereka tidak melakukan pembalasan dengan membantai Muslim yang ada di Bali?

Kenapa sehabis peristiwa Bom Bali, dimana pelakunya dengan terang-terangan mengatakan di depan pengadilan dan diliput televisi dari seluruh dunia mengatakan dia melakukan pembantaian itu karena menjalankan perintah agamanya, tapi kami umat Islam tidak diusir dari pulau ini?

Ketika terjadi peristiwa Bom Bali yang di blow-up dan dibesar-besarkan jasanya adalah Haji Bambang, tetangga saya selama lima tahun tinggal di Kuta Permai. Sedemikian populernya Haji Bambang di blow-up media, sampai dia mendapat anugerah pahlawan Asia, Kick Andy sampai diundang bicara di Dewan Keamanan PBB di New York.

Pertanyaannya kalau media lebih berpihak ke non-Muslim (baca: Hindu Bali). Kenapa dalam peristiwa Bom Bali ini, ‘jasa’ Haji Bambang yang diekspos, bukan jasa-jasa tokoh yang beragama Hindu?Silahkan dijawab dan direnungkan dengan pikiran jernih.

Kembali ke berita tentang pelarangan jilbab dan sikap intoleransi di Bali. Tentu saja, tidak semua berita yang disampaikan oleh media-media itu adalah isapan jempol belaka. Beberapa di antaranya mengandung kebenaran.

Benar ada protes atas perintah memakai jilbab di Hypermart. Tapi yang tidak disampaikan oleh Jonru dkk adalah: ‘yang melakukan protes atas kewajiban memakai jilbab itu adalah para karyawati penganut agama Hindu’.

Benar ada usulan pelarangan pemakaian jilbab bagi siswi di sekolah negeri, tapi ide ini masih sedang didiskusikan. Benar ada sentimen anti Islam di Bali, tapi itu yang melakukannya adalah sekelompok orang di bawah pimpinan Arya Weda (mantan anggota boyband yang satu grup dengan Indra Bekti yang mengangkat dirinya sendiri menjadi Raja Bali melalui berbagai organisasi yang mengatasnamakan Hindu yang dia bentuk). Bukan seluruh orang Bali.

Yang tidak disampaikan oleh Jonru dkk, di Bali sendiri ada perlawanan dari umat Hindu terhadap kelompok-kelompok intoleran ini. Contohnya, Jerinx yang dikenal sebagai drummer Grup Band ‘Superman Is Dead’, yang saat ini sedang gencar mengkampanyekan gerakan “Bali Tolak Reklamasi”, beberapa kali melancarkan tantangan terbuka kepada Arya Weda untuk berdebat soal ideologinya. Tapi tak pernah ditanggapi.

PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia) yang dalam konteks Islam setara MUI sendiri sudah mengecam tindakan intoleran seperti usulan pelarangan pemakaian jilbab bagi siswi muslim di sekolah negeri.

Jadi, berita yang kita dapat dari media itu memang mengandung kebenaran. Tapi kalau sumbernya adalah dkk, harap diingat hanya sedikit kebenaran yang mereka tampilkan. Jauh lebih banyak lagi kebenaran yang sengaja mereka sembunyikan. Sebab tujuan mereka memang untuk membangkitkan semangat kebencian.

Sayangnya bagi sebagian orang, Jonru itu dianggap layaknya utusan Tuhan. Apapun yang dia katakan, dianggap pasti benar jadi langsung diterima dengan serta merta tanpa saringan.

 

Disalin dari tulisan Win Wan Nur di Kompasiana, ia adalah seorang Muslim yang saat ini menetap di Bali

______________________
Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL