ismail amin 3

Sumber foto: facebook

Oleh: Ismail Amin, Mahasiswa Al-Mustafa International University

Aristoteles pernah mengibaratkan dunia yang kita diami ini adalah kebun yang dikelilingi dan dijaga oleh pagar. Pagar itu disebut negara. Negara adalah kekuasaan yang dihidupkan oleh sikap hidup masyarakat yang saling menjaga dan memuliakan.

Sikap hidup dan tingkah laku itu dibentuk dan lahir dari politik dan kebijakan yang diatur oleh Raja. Raja itu diperkuat dan didukung tentara, agar pandangan politik dan kebijakannya dijalankan rakyat. Raja dan tentara dihidupi oleh harta. Harta tersebut berasal dari hasil kerja rakyat yang dikumpulkan. Jadi, Raja pada hakikatnya, pengelola harta rakyat yang kemudian dikembalikan dalam bentuk keadilan, perlindungan dan pemerataan agar rakyat bisa memiliki kesempatan yang sama dan aman untuk bekerja dan menata hidup.

Dalam perspektif konstitusi kita, negara adalah sekelompok masyarakat dengan berbagai keragamannya, yang hidup dalam satu wilayah yang sama yang diatur secara konstitusional untuk mewujudkan kepentingan bersama.  Jadi fungsi paling asasi dari dibentuknya negara adalah kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Dan yang menjalankan tugas tersebut adalah Raja dalam pandangan Aristoteles, dan pemerintah dalam bahasa kita sekarang.

Pemerintah berkewajiban mengurus, mengelola dan mengatur perangkat-perangkat negara untuk kesejahteraan rakyat. Karena hakikatnya, rakyatlah yang membiayai semua ongkos pengelolaan tersebut.

Nah, apa pemerintah telah sedemikian menjalankan tugas mengatur urusan-urusan publik yang memudahkan kepentingan pribadi rakyatnya? Amir Santosa, Dosen ilmu politik di FISIP UI turut mempertanyakan hal yang sama, dalam artikelnya, “Apakah Kita Masih Butuh Pemerintah?!” [2004].  Dan jawabannya, hampir semua hal dalam kehidupan harian kita, kita urus dan atur sendiri.

Kita mulai saja dari yang paling dekat dari rumah. Di pelosok kampung, jika kita membutuhkan air, maka kita harus menggali dan membuat sumur sendiri. Kalau memerlukan air bersih, harus berjalan berkilo-kilo dan harus antri berlama-lama, untuk sejumlah air yang harus dibayar dengan sejumlah uang. Jika jalanan di depan rumah kita berlubang atau rusak. Maka bersama tetangga kita bergotong royong menyumbang uang untuk memperbaikinya. Kalau itu jalan raya, tidak sedikit kita lihat, warga setempat menahan setiap kendaraan yang lewat untuk meminta sumbangan perbaikan jalan.

Bicara masalah keamanan. Itu juga kita urus sendiri. Bagi yang kaya atau kantoran, mereka menggaji satpam. Kalau dikompleks perumahan, melakukan ronda bersama warga, yang konsumsinya ditanggung bersama juga. Membuang sampah juga kita urus sendiri. Untuk setiap sampah yang diambil tukang sampah, harus ada sejumlah uang yang harus kita berikan. Kalau sampah menumpuk karena tidak mendapat perhatian pemerintah, kita kerja bakti bersama warga untuk membersihkannya.

Di jalan, kita harus selalu menyiapkan uang receh untuk membayar jasa tukang parkir. Untuk lancar di tikungan, kitapun harus bayar. Sopir angkutan umumpun mengurus dirinya masing-masing. Mereka bisa seenaknya berhenti atau menaikkan penumpang, dimana dan kapan saja. Pengendara motorpun bebas berbelok dan melambung sesukanya, tanpa harus memberikan aba-aba. Jika ada yang sedang membangun dan merenovasi rumah, bisa meletakkan timbunan pasir, batu bata dan material lainnya sesukanya, hatta dipinggir jalan sekalipun. Tidak peduli itu bisa mengganggu pemakai jalan, tidak akan ada yang menegur. Tukang becak atau gerobak dorong bisa melintasi lampu merah atau berjalan disebelah kanan sekalipun.

Ke masjid sekalipun tidak gratis. Kita harus bayar parkir. Bayar sewa penitipan sandal. Didalam, ada celengan yang diedar minta diisi. Dan begitu keluar, sudah ada pengemis dan anak jalanan meminta bukti kesalehan kita.

Anak-anak kita mau sekolah. Kita sendiri yang mengurus semuanya. Mulai dari mencari sekolah yang sesuai kantong dan mencari biayanya, meskipun penghasilan tidak mencukupi. Kalau gaji kita tidak mencukupi, urusan sendiri untuk mencari penghasilan tambahan. Begitupun kalau kita atau ada anggota keluarga yang sakit. Perlu ambulans kita urus sendiri.

Di rumah sakit, semuapun kita urus sendiri. Kalau ketahuan tidak punya uang, sejak awal kita akan mendapat penolakan atau penyikapan yang berbeda. Dan kembali kita mengemis sumbangan ke handai taulan dan teman-teman terdekat. Ada yang dari kita yang meninggal. Keluarganya harus mengurusnya sendiri, dari pekuburan sampai membayar tanah sewa kuburan. Bersyukurlah, karena kita senasib, jadi kita masih tersentuh untuk saling membantu.

Saya saat ini sedang berada di Iran. Saya rasakan sendiri, banyak hal yang tidak perlu saya urus sendiri. Tempat sampah ada hampir ditiap depan rumah, dan kita tinggal menaruhnya disitu. Sebelum pagi hari. Tempat sampah itu sudah kembali kosong dan bersih karena jam 12 malam truk sampah sudah mengambilnya tanpa harus membangunkan kita untuk meminta bayaran. Saya sendiri punya motor, dan setiap bepergian kemana saja, saya tidak pernah dipusingkan untuk membayar uang parkir.

Listrik, air dan gas dibayar setiap 2-3 bulan, itupun setelah sebelumnya mendapat bantuan subsidi yang dimasukkan kedalam rekening di awal bulan. Buat air minum, setahu saya warga Iran tidak perlu mengebor atau buat sumur sendiri. Karena Qom kebetulan gurun pasir, tidak ada aktivitas warga berburu air keluar kota, karena sudah disediakan perusahaan air minum. Dibeberapa kota, bahkan airnya bisa langsung diminum. Di jalan-jalan yang ramai dilewati, disediakan secara gratis air minum lengkap dengan gelas plastiknya. Masuk toilet umumpun gratis.

Ke masjid, tidak ada uang parkir. Tempat penitipan barang gratis, bahkan untuk yang ingin menjaga sendiri keamanan sendalnya disediakan kantong plastik gratis. Dihari-hari tertentu, jamaah masjid malah disuguhi teh panas dan sebiji kurma.

Rakyat Iran akrab dengan tradisi perayaan dan festival. Dan setiap itu diadakan di tempat-tempat umum, sampah-sampah yang menumpuk justru sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan sebelum festival berakhir. Saya pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Ditabrak dari belakang oleh sopir taksi ketika sedang mengendarai motor bersama anak dan istri. Tidak ada keramaian mendadak yang berlebihan, sebagaimana biasanya terjadi di negeri kita saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Sopir taksi yang menabrak, tetap tenang berdiri disamping kami menunggu kedatangan polisi. Tanpa harus takut dan khawatir digebuki dan dihakimi massa. Ambulance datang, membawa istri dan anak saya kerumah sakit. Penabrak dibawa kekantor polisi, dan semuanya kembali sebagaimana biasa. Jalan kembali lancar, dan yang tidak ada sangkut pautnya, tidak perlu sibuk bertanya atau mengintervensi macam-macam. Semuanya berlangsung kurang lebih 15 menit.

Untuk kelahiran anak yang kedua. Ambulance datang menjemput kerumah. Dan tidak dikenai biaya sedikitpun. Untuk biaya persalinan dan sewa kamar, semuanya baru dibayar setelah semuanya selesai. Karena saya mahasiswa, biaya persalinan diganti oleh pihak kampus. Untuk ke rumah sakit atau dokterpun, saya dibekali buku saku asuransi kesehatan, dan mendapat diskon untuk setiap merujuk ke dokter atau membeli obat di apotek. Untuk ke kampus, kami disediakan bus kampus antar jemput, tanpa pungutan biaya.

Mungkin ada yang mengatakan, pelayanan pemerintah Iran banyak yang gratis karena warganya membayar pajak. Kitapun juga pembayar pajak yang tidak kalah taatnya. Kita bayar PBB, bayar iuran televisi, bayar parkir, bayar uang sekolah, dan semuanya. Masuk ke toilet umumpun kita bayar.

Urus KTP kita bayar, bahkan kitapun bayar pada pegawai yang baru mau melayani dengan baik setelah kita salami dengan menyelipkan uang di sakunya. Untuk menyelamatkan nyawa TKI yang divonis hukuman gantung di luar negeri, kita sendiri yang ramai-ramai menyumbangkan uang. Untuk kelompok yang dituding sesat, harus mampu membayar sewa pengamanan polisi setiap menyelenggarakan kegiatan karena khawatir diserang dan digebuki kelompok yang berseberangan.

Jadi sebenarnya, kapan kita baru merasakan keberadaan pemerintah di negeri kita? Pemerintah baru terasa, ketika kita mendengar ada demonstrasi mahasiswa dan buruh ketika harga minta diturunkan. Pemerintah baru ada jika berpidato dan tiba-tiba saja, harga BBM sudah naik. Pemerintah baru terasa keberadaannya setiap menjelang pemilu. Mengetuk pintu rumah dengan senyum seramah mungkin, dan merengek untuk dipilih kembali. Kita baru mendengar keberadaan pemerintah, jika tiba-tiba anak sekolah diliburkan dan diminta berdiri berjam-jam di pinggir jalan untuk menyambut kedatangan mereka sembari mengibar-ibarkan bendera kertas dan diminta berteriak-teriak mengelukan pemerintah.

Sementara legislatif, baru terasa benar keberadaannya ketiba tiba-tiba diberitakan televisi ada anggota DPR yang tersangkut kasus suap dan korupsi. Ada anggota DPR yang tidur ataupun menonton video porno saat bersidang. Dan semakin terasa keberadaannya ketika mereka menuntut kenaikan gaji.

Pertanyaannya, untuk apa ada pemerintah dan apa kita masih memerlukannya, jika masalah keamanan, ketertiban, kesehatan, kesejahteraan dan banyak hal lainnya, kita yang harus mengurusnya sendiri? Sementara pemerintah baru muncul ketika memelas untuk dipilih kembali dalam pemilu?

 

_______________

Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL