tentara Hizbullah memamerkan roket dalam pawai di Lebanon

roket Hizbullah lebanon

Oleh: Affan Ramli, Pengajar Sosiologi di Universitas Teuku Umar Aceh.

Hasan Khomeini, cucu tertua dari anak bungsu Ayatullah Khomeini, dua bulan lalu muncul ke panggung politik Iran. Ia mendaftar sebagai kandidat anggota Majlis Ahli Kepemimpinan, sebuah lembaga negara paling berkuasa di negara persia itu pasca revolusi 1979. Tak disangka, Hasan mengalami nasib yang sama dengan sepupunya, Ali Eshraghi pada 2008. Kandas dalam proses seleksi kelayakan. Di negara Republik Islam ini, membawa nama orang tua atau kakek dalam berpolitik tidak banyak membantu, sekalipun sang kakek adalah pendiri negara.

Mengomentari pencalonan Hasan Khomeini itu seorang netizen Iran berceloteh, cucu Khomeini sesungguhnya dalam garis politik adalah Hasan Nasrallah, Sekjen Hizbullah Lebanon. Hampir senada dengan itu, Musa Kazim (2007) dalam kata pengantarnya untuk buku Denyut Perlawanan dan Rahasia Kekuatan Hizbullah, menyebut Nasrallah sebagai Khomeininya Arab. [1] Bagi Kazim bahkan bahaya yang ditimbulkan Nasrallahisme lebih menakutkan Amerika dan Israel di Timur Tengah dibandingkan efek Khomeinisme. Mengingat rakyat Arab lebih mudah dipengaruhi dan digerakan dengan lisan Arabnya Nasrallah ketimbang Khomeini yang Persia.

Hasan Khomeini dan Hasan Nasrallah pada faktanya memang memilih jalan politik berbeda. Hasan Khomeini memilih jalan politik Musawi [2] yang dipuji-puji media arus utama Barat sebagai reformis. Sebaliknya, Hasan Nasrallah memilih jalan politik muqawamah (perlawanan) yang digagas Ruhullah Khomeini. Pilihan politik muqawamah menempatkan Nasrallah sebagai sasaran celaan rezim-rezim Barat sekutu Amerika, melalui corong media massa arus utama.

Apa itu Muqawamah?

Media arus utama berhasil membentuk opini dunia tentang citra buruk muqawamah sejak kata ini melekat pada HAMAS Palestina dan Hizbullah Lebanon. Muqawamah berusaha dihadirkan di mata publik sebatas kumpulan militan Islam yang anti Amerika dan Israel. Sebagaimana diingatkan Shaheema Ismail dalam artikelnya Hizbullah: Doing More than Fighting for the Sake of The Oppressed [3], hanya sedikit orang yang tahu bahwa kegiatan-kegiatan Hizbullah meliputi kerja-kerja sosial dan kebudayaan. Padahal Hizbullah sudah memiliki 8 cabang organisasi yang bekerja untuk pelayanan sosial dasar masyarakat Lebanon.

Hizbullah membangun klinik kesehatan, rumah sakit, sekolah, universitas, perusahaan listrik, lembaga penelitian, program pelayanan anak yatim dan anak-anak disabilitas. Pasangan muda dibantu modal, diajarkan keterampilan tangan, pertanian, dan ketrampilan lainnya. Anggota-anggota Hizbullah mendatangi keluarga-keluarga miskin, yatim, janda, dan orang sakit setiap bulannya untuk memastikan kebutuhan hari-hari mereka terpenuhi. Mereka menyediakan makanan, kebutuhan rumah tangga, dan pakaian. Dalam situasi krisis seperti perang saudara di Lebanon, saat Pemerintah gagal memberi bantuan, Hizbullah menyediakan air bersih untuk ribuan keluarga. Dalam kurun 1990-1994, lebih dari 20 juta liter air didistribusikan Hizbullah bukan hanya di Lebanon Selatan, bahkan sampai ke Beirut. Hizbullah membuka 40 klinik kesehatan yang memberi pelayanan gratis untuk warga (Ismail, 2006).

Para peneliti independen telah melihat bagaimana program-program sosial Hizbullah yang dijalankan secara konsisten sejak awal berdirinya tahun 1982, telah mengubah warga Lebanon Selatan dari penduduk daerah paling kumuh menjadi masyarakat Lebanon yang paling terlayani pemenuhan kebutuhan dasarnya. Hizbullah telah menyulap bagian selatan Lebanon itu dari daerah terbelakang menjadi basis perlawanan terhadap kekuatan zionisme Israel, imperialisme Amerika dan turunannya: ekstrimisme kelompok-kelompok Islam.

Tentu saja, program-program pelayanan sosial Hizbullah itu bukan semata strategi membangun simpati dan loyalitas warganya. Itu inheren dari inti spiritualitas muqawamah sendiri. Seperti diingatkan oleh Augustus Richard Norton[4], gerakan Hizbullah berangkat dari kesadaran realitas tatanan sosial timpang yang meletakan penindas (the oppressor) pada situasi beruntung di atas penderitaan komunitas-komunitas tertindas (the oppressed). Maka komunitas-komunitas tertindas di dunia harus bangkit menutupi sisi-sisi kelemahan mereka, memperkuat diri mereka untuk dapat berdiri tegak melawan para arogan. Itu sebabnya sebelum Hizbullah mengusir Israel dari tanah Lebanon pada tahun 2000, pekerjaan utama mereka sejak tahun 80an adalah memperkuat masyarakat Libanon Selatan agar dapat menegakan hak-hak mereka sendiri atas pelayanan sosial dasar, ekonomi, dan politik.

Kenyataan itu menyadarkan saya, konsep muqawamah itu sendiri meski seringkali diterjemahkan sebagai resistance dalam bahasa Inggris atau perlawanan dalam bahasa Indonesia, sesungguhnya kedua kata itu tidak dapat menjadi padanannya. Resist dan lawan diandaikan mereaksi musuh di luar, sementara muqawamah (diambil dari kata qawwama-yuqawwimu) bermakna menegakan (hak), baik dalam makna hak-hak komunitas tertindas maupun hak dalam arti kebenaran.

Aktualisasi nilai muqawamah karenanya pertama-tama adalah memenuhi hak-hak komunitas tertindas oleh diri mereka sendiri sebelum menuntut hak mereka yang dirampas dari kekuatan penindas. Inilah pola yang dibangun Hizbullah Lebanon, memastikan masyarakat miskin di Lebanon Selatan dapat memenuhi hak-hak sosial, politik, dan ekonominya sebelum mengusir zionisme Israel dari tanah mereka dan pada akhirnya dari tanah Muslim, Kristen, dan Yahudi Palestina.

Pun begitu, meski kata perlawanan tidak benar-benar dapat mewakili makna muqawamah tetapi penerjemahan seperti itu masih bisa diterima dengan dua catatan. Pertama, perlawanan tidak selalu dimaknai respon terhadap pihak luar, ianya dapat pula respon terhadap eksploitasi (kezaliman) diri sendiri, kezaliman dalam relasi internal komunitas perlawanan itu sendiri, kezaliman kita terhadap pihak lain, kezaliman pihak lain terhadap pihak lain, dan kezaliman siapapun atas apapun[5]. Kedua, perlawanan tidak bisa dibatasi maknanya sebatas sebuah tindakan, sebagaimana definisi itu sudah dipopulerkan oleh James C. Scott dalam beberapa karyanya[6]. Melampaui tindakan, perlawanan harus dilihat sebagai satu tatanan utuh (resistantial order), sejak dari alam mental (zihnian) yang masih berbentuk sistem pengetahuan (epistemik) sampai ke alam tindakan komunal yang dilembagakan sebagai sistem kebudayaan (pendidikan, ekonomi dan politik). Hanya dalam perspektif demikian, kata perlawanan pantas disepadankan dengan muqawamah.

Itu kelihatan jelas dari rekam jejak gerakan muqawamah Hizbullah, dimana perlawanan telah menjadi satu tatanan (pikiran dan kebudayaan) dalam tubuh komunitas itu. Dasar-dasar epistemik bagi terbangunnya Hizbullah misalnya, digali dari pesan-pesan universal perlawanan Husein putra Ali kepada seluruh kaum tertindas di dunia, lintas etnik, bangsa, agama, dan sekte. Untuk tujuan-tujuan yang universal pula, membangun peradaban umat manusia yang tidak dapat berkompromi dengan eksploitasi manusia dan pengrusakan semesta. Mandat perlawanan Hizbullah karenanya tidak sesempit membangun khilafah atau negara Islam, apalagi semata mengejar tujuan-tujuan sektarian. Faktanya, meski secara militer Hizbullah mampu mengubah Lebanon menjadi negara Islam, namun mereka tidak tertarik melakukan itu. Hizbullah mendukung pemerintahan nasional Lebanon yang sekuler dan diwakili berbagai partai politik, etnik, dan agama.

Itu sebabnya kita dapat mengerti mengapa umat Kristiani dalam jumlah besar memberi dukungan dan kesetiaannya kepada Hizbullah. Dukungan mereka sangat kuat, suara hati mereka seakan diwakili lirik-lirik lagu Ahibba-i (para kekasih ku) yang dilantunkan penyanyi perempuan Kristen Lebanon termasyhur, Julia Boutros[7]. Bukan hanya umat Kristen, Hizbullah telah dilihat oleh bangsa Lebanon lintas etnik, mazhab, dan agama sebagai pahlawan bersama mereka yang telah mengembalikan kepercayaan diri kaum tertindas Lebanon dan dunia Arab secara luas. Itu tidak serta merta, melainkan hasil konsistensi mengarahkan ujung senjata mereka hanya kepada kekuatan arogan dunia yang melahirkan zionisme Israel dan ekstrimisme Arab. Hizbullah bahkan berkali-kali harus memilih diam ketika anggotanya dibunuh oleh kelompok politik internal Lebanon lainnya sebagai upaya provokasi mendorong perang saudara kembali terulangi.

Poros Perlawanan Nusantara

Dengan itu semua, epistemologi, ideologi, dan strategi pelembagaan perlawanan dalam tatanan kebudayaan komunitasnya, Hizbullah kini dalam usianya yang ke 34 tahun telah menjelma menjadi kekuatan perlawanan tangguh di kawasan Timur Tengah. Sebagaimana ditulis dalam artikel bersejarah sebuah Harian di Libya, Al-Zahf Al-Akhdar pada tahun 2002, Hizbullah secara alamiah telah membentuk sebuah poros perlawanan (axis of resistance) skala regional bersama Iran, Suriah, dan Irak. [8] Lalu kini ditambah Yaman. Sebuah poros perlawanan yang menegakan hak-hak komunitas tertindas, juga saat bersamaan menjadi mimpi buruk bagi kepentingan Amerika dan sekutunya di kawasan itu.

Lalu bagaimana kita di nusantara, adakah kemungkinan membangun poros perlawanan yang sama di kawasan ini atau kita terjaring dalam poros perlawanan dunia yang kini bersumbu di Iran? Sejarah mengajarkan kita, sejak gagalnya Partai Komunis Indonesia (PKI) nyaris tidak ada kekuatan di negeri ini yang dapat mengganggu kepentingan kekuatan kapitalisme transnasional dan lokal yang merampas tanah, air dan segala isinya untuk memperbesar kerajaan bisnis mereka. Tatanan eksploitatif semakin mapan dan bermasa depan cerah di tanah kita. Pemerintahan partai politik [9] tidak berfungsi selain menjadi pelayan yang saban waktu sedia menggelar karpet merah bagi kelancaran agenda neoliberalisme. Untungnya kita memiliki dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah yang siap melawan agenda islamisasi negara dan menjamin NKRI tetap sekuler, tetapi sayangnya tidak punya agenda muqawamah di hadapan kekuatan modal.

Dalam konteks kita saat ini, saya tidak percaya gelombang perlawanan rakyat dapat digerakan kembali berbasis ide komunisme. Sama tidak mungkinnya jika berbasis Islam formal (syariat). Apalagi nasionalisme yang senantiasa berakhir di ujung lidah belaka. Kekuatan epistemik muqawamah kita harus digali dari spiritualisme agama-agama nusantara yang telah dilembagakan dalam tatanan adat. Spiritualisme Islam misalnya yang dilembagakan melalui sufisme merupakan satu-satunya tradisi pemikiran Islam yang memusatkan perhatian pada perlawanan terhadap kezaliman dan kefasadan. Sufisme, tradisi yang berpengaruh luas dalam kebudayaan masyarakat muslim awal nusantara ini melahirkan tatanan adat yang sangat humanistik, berkeadilan dan berperadaban dalam mengurus urusan bersama dan mengelola harta bersama.

Maka, muqawamah kita harus dimulai dari komunitas tertindas di unit-unit paling kecil, seperti desa, marga, mukim, nagari, dan lainnya. Pendidikan-pendidikan perlawanan harus dijalankan secara konsisten di komunitas itu dalam beberapa tahun pertama. Lalu pemerintahan komunitas harus dikelola oleh kader-kader muqawamah guna memastikan program-program pelayanan sosial dan kebudayaan berjalan baik di komunitas. Pemerintahan komunitas muqawamah memastikan kebutuhan masyarakatnya terpenuhi. Keluarga miskin, anak-anak yatim dan tidak mampu lainnya terlayani.

Pekerjaan berikutnya adalah mengganggu agenda partai politik dan majikannya (korporat-korporat industri ekstraktif) merebut sumberdaya alam di wilayah komunitas adat. Jika memungkinkan “VOC-VOC” itu harus dibersihkan jejaknya dari wilayah komunitas. Pada tahap ini, muqawamah nusantara mungkin memerlukan pasukan militan yang bertugas mengganggu tidur nyenyak pemilik kerajaan bisnis eksploitatif itu, bukan untuk melawan tentara negara.

Tugas muqawamah terakhir dan mungkin terberat adalah mengembangkan lembaga-lembaga alternatif sebagai model-model baru tatakelola urusan publik. Seperti mengembangkan lembaga keuangan sendiri yang bebas dari relasi ekonomi eksploitatif, mengembangkan universitas sendiri dengan sistem pengeloaan baru dan sistem pengetahuan baru, mengembangkan perusahaan-perusahaan manufaktur dan jasa yang dikongsikan bersama para pekerja dengan hubungan produksi yang adil dan beradab.

Dari peta jalan demikian itu, komunitas-komunitas muqawamah nusantara secara alamiah akan membentuk poros perlawanan kawasan. Kita akan merepotkan kekuatan kapitalisme di berbagai sudut bumi nusantara. Bukan tidak mungkin, poros perlawanan nusantara mampu menggoyahkan tiang-tiang utama tatanan imperialisme dunia yang dikira telah mapan di kawasan kita. Seperti lirik lagu Boutros, bikum sanughayyiru dunia, wa yasma’u shautanal qataru, karena mu (muqawamah) kita akan mengubah dunia dan takdir akan mendengarkan suara kita!***

Catatan akhir:

[1]Rif’at Sayyed Ahmad (2007), Denyut Perlawanan dan Rahasia Kekuatan Hizbullah. Pustaka IIMaN: Jakarta.
[2]Mir Musawi adalah tokoh politik kubu reformis yang terlibat dalam kekacauan pasca kalah pemilu dari Ahmadinejad pada tahun 2009. Para pendukungnya mengkampanyekan ketidakpercayaan pada lembaga-lembaga negara pelaksana Pemilu.
[3]Lebih lanjut lihat buku Hizbullah Party of God, An Islamic Movement Perspective. Crescent International: London.
[4]Lebih jauh lihat buku Augustus Richard Noroton (2007), Hezbollah. Princeton University Press, New Jersey.
[5]Tentang gradasi aras perlawanan ini telah kami jelaskan panjang lebar pada artikel lain dari buku Adat Berdaulat, Melawan Serbuan Kapitalisme di Aceh.
[6]Diantaranya dalam buku Weapons of the Weak, Scott (1985) merumuskan perlawanan sebagai setiap tindakan oleh kelas yang dikuasai (subordinat) untuk tujuan mengurangi atau menolak pengakuan (klaim) yang dibebankan atas mereka oleh kelas penguasa (superordinat); atau untuk memajukan pengakuan sendiri berhadapan langsung dengan kelas-kelas penguasa. Kelas-kelas penguasa yang dimaksud, di antaranya, para tuan tanah, para pemodal, dan negara.
[7]Ahibba-i merupakan salah satu dari dua lagu Julia Boutros yang didekasikan untuk Hizbullah, dapat dilihat pada link ini https://www.youtube.com/watch?v=pdZgkGI5h0A.
[8]Terkait hal ini lebih lanjut dapat dibaca pada link ini https://en.wikipedia.org/wiki/Axis_of_Resistance.
[9]Istilah pemerintahan partai politik saya gunakan untuk membedakannya dari pemerintahan komunitas di desa-desa, marga, nagari, mukim dan nama lain dari berbagai wilayah adat nusantara.

—–

Tulisan ini disalin dari artikel di tautan berikut: http://islambergerak.com/2016/02/belajar-dari-hizbullah-menata-perlawanan/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL