us-israel-terror“Obama ‘berpijak’ pada peperangan yang panas. Peradaban Barat terancam oleh Islamic State (IS/ISIS/ISIL).”

“Kami memiliki alasan untuk berlindung/ bertahan. Maka perang atas nama kemanusiaan adalah solusinya.

“Orang-orang jahat mengintai. Take them out,” kata George W. Bush.

“Kami memiliki “Responsibility to Protect”. Perang kemanusiaan adalah solusinya.”

Kutipan diatas adalah narasi yang sering kita jumpai. Media Barat telah menabuh genderang perang. Agenda militer Obama didukung oleh propaganda besar. Maka, ‘perang global melawan terorisme’ digembar-gemborkan sebagai upaya kemanusiaan.

Salah satu tujuan utama propaganda adalah untuk ‘menciptakan musuh’, sebagai legitimasi politik atas tersendat-sendatnya pemerintahan Obama. Dan untuk itu, musuh di luar yaitu jaringan Al-Qaeda (yang didukung CIA) harus dibasmi.

Tujuannya adalah untuk menanamkan doktrin, melalui berbagai media, berulang-ulang, sehingga masuk ke dalam pikiran/ batin publik, bahwa Islam adalah ancaman bagi dunia Barat.

Perang kemanusiaan dilancarkan di beberapa tempat: Rusia, China, dan Timur Tengah. Itulah target utama saat ini.

Xenophobia [1] dan Agenda Militer

Gelombang xenophobia yang diarahkan terhadap umat Islam telah mewabah di seluruh kawasan Eropa Barat yang terkait dalam geopolitik. Hal ini adalah bagian dari agenda militer. Mereka konsisten mengutuk musuh.

Negara-negara Muslim memiliki lebih dari 60 persen dari total cadangan minyak. Sebaliknya, Amerika Serikat (AS) hanya memiliki sekitar 2 persen dari total cadangan minyak. Irak memiliki cadangan minyak lebih dari lima kali cadangan minyak AS.

Sebagian besar minyak dunia terletak pada negeri-negeri mayoritas Muslim. Tujuan dari AS memimpin perang adalah untuk mendapatkan minyak. Dan untuk mencapai tujuan ini, maka negara-negara di kawasan pun ditargetkan dengan berbagai makar, seperti perang, operasi rahasia, destibilisasi ekonomi, atau pergantian rezim.

Inkuisisi AS

Proses pembangunan konsensus untuk berperang mirip dengan inkuisisi Spanyol [2]. Hal ini membutuhkan subordinasi sosial, dan konsensus politik yang tidak bisa dipertanyakan. Dalam versi kontemporer, inkuisisi diartikan sebagai pembenaran bahwa perang adalah sarana untuk menyebarkan demokrasi dan nilai-nilai Barat. Dalam hal ini, berlaku kaidah baik versus jahat.

Menurut AS dan sekutunya, perang adalah untuk mencapai perdamaian. Lalu, kebohongan besar kini dianggap sebagai kebenaran. Dan kebenaran menjadi ‘teori konspirasi’. Dan mereka yang berkomitmen untuk menyuarakan kebenaran dikategorikan sebagai ‘teroris’.

Menurut Paul Craig Roberts (2011), konsep teori konspirasi telah mengalami redefinisi menurut Orwellian, yaitu:

Sebuah “teori konspirasi” tidak lagi berarti sebuah kejadian dijelaskan dengan konspirasi. Sebaliknya, sekarang teori konspirasi berarti penjelasan, atau bahkan fakta, yang berada di luar – apa-apa yang dijelaskan oleh pemerintah dan medianya.

Dengan kata lain, sebuah kebenaran tidak membuat nyaman bagi pemerintah dan Kementrian Propaganda-nya, dan kebenaran didefinisikan ulang sebagai teori konspirasi, dengan maksud, agar penjelasan yang masuk akal ini harus kita abaikan (karena hanya sekedar teori konspirasi-pen).

Fiksi dianggap sebagai kenyataan. Jurnalisme investigatif telah dihapus. Analisis faktual isu-isu sosial, politik dan ekonomi dianggap sebagai teori konspirasi.

Ancaman nyata terhadap keamanan global berasal dari aliansi AS-NATO-Israel, namun realitas yang disajikan di lingkungan inkuisitorial malah berkebalikan: para penghasut perang dibuat seolah-olah berkomitmen untuk perdamaian, para korban perang dinyatakan sebagai pelaku/ penyokong utama peperangan.

Media, kaum intelektual, ilmuwan dan para politisi, serempak, mengaburkan kebenaran yang tak terucapkan bahwasanya AS-NATO memimpin perang menghancurkan umat manusia.

Ketika kebohongan menjadi kebenaran, maka tidak ada jalan untuk mundur. Ketika perang telah dilancarkan sebagai upaya kemanusiaan, keadilan dan sistem hukum internasional, sedangkan pasifisme dan gerakan anti-perang dianggap kriminal. Menentang perang menjadi tindak pidana. Maka, kebohangan besar harus diungkap, dengan mulai mempertanyakan, “Apa tujuan kebohongan itu dilakukan?”

Pembunuhan terhadap pria, wanita, dan anak-anak. Menghancurkan keluarga dan penduduk, dan menyalahi komitmen antar sesama manusia dalam masyarakat. Kebohongan ini, telah menghalangi solidaritas antar manusia, dan membuat masyarakat menjunjung tinggi perang, dan meyakini bahwa pengerahan aparat/ militer adalah satu-satunya jalan.

Kebohongan ini telah menghancurkan, baik nasionalisme maupun internasionalisme. Maka, membongkar kebohongan mereka berarti menghancurkan proyek pidana global, yang tujuan utamanya adalah mengeruk keuntungan. Ya, sebuah keuntungan yang didapat dengan agenda militer, dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, yang secara tidak sadar telah menciptakan zombie-zombie.

Mari kita balikkan arus. Lawan penjahat perang yang didukung oleh kelompok-kelompok lobi. Patahkan inkuisisi Amerika. Lemahkan perang Salib AS-NATO-Israel. Tutup pabrik-pabrik senjata dan pangkalan militer. Pulangkan pasukan. Dan para anggota angkatan bersenjata harus melawan perintah dan menolak berpartisipasi dalam perang kriminal. (LiputanIslam.com)

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Prof Michel Chossudovsky, yang berjudul ‘What is a Conspiracy Theory?’ di Global Research

[1] Xenofobia adalah ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing. Beberapa definisi menyatakan xenofobia terbentuk dari keirasionalan dan ketidakmasukakalan. Berasal dari bahasa Yunani ξένος (xenos), artinya “orang asing”, dan φόβος (phobos), artinya “ketakutan”).

[2] Inkuisisi (dengan huruf I besar) adalah istilah yang secara luas digunakan untuk menyebut pengadilan terhadap bidaah oleh Gereja Katolik Roma. Istilah ini juga dapat bermakna tribunal gerejawi atau lembaga dalam Gereja Katolik Roma yang bertugas melawan atau menyingkirkan bidaah, sejumlah gerakan ekspurgasi historis terhadap bidaah (yang digiatkan oleh Gereja Katolik Roma), atau pengadilan atas seseorang yang didakwa bidaah.

Tetapi hal yang berbeda terjadi di Spanyol, Inkuisisi Spanyol memiliki dua penguasa yang berbeda, yaitu Paus dan Raja. Kekuasaan Paus merupakan kekuasaan dalam hukum-hukum (canon law) yang digunakan dalam inkuisisi serta dalam masalah pengangkatan pejabat inkuisisi (grand inquisitor). Sedangkan kekuasaan Raja terletak pada pengusulan pejabat inkuisisi dan masalah keuangan lembaga tersebut. Meskipun raja terlibat dalam otoritas dan kekuasaan inkuisisi, namun kekuasaan raja hanya bersifat keduaniawian, tidak memasuki wilayah rohani dan kepentingan agama.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL