interior Boeing Jet 2 (foto:boeing.com)

interior Boeing Jet 2 (foto:boeing.com)

Fatma, ibu rumah tangga

Dikisahkan, suatu saat sahabat Utsman bin Affan ra menemui Rasulullah. Ketika itu Rasulullah sedang menyiapkan pasukan muslim menghadapi serangan dari tentara Roma (Perang Tabuk). Utsman yang dikenal sebagai saudagar kaya dan memiliki harta berlimpah, dengan enteng memberikan sumbangan seribu dinar. Ia juga membawa lebih dari 940 unta, kemudian membawa 60 kuda, sehingga genaplah 1000 hewan tunggangan yang disumbangkannya kepada pasukan Rasulullah (diriwayatkan Imam Tirmizi, Anas, Al Hakim).

Di riwayat ini terlihat, sedemikian mudahnya seorang tokoh merogoh kocek demi bangsanya. Namun yang terjadi di negara kita justru sebaliknya: sedemikian mudahnya pemimpin kita menghamburkan uang negara untuk membeli pesawat mewah.

Begitu pula halnya dengan Ali bin Abi Thalib ra, khalifah setelah Ustman bin Affan ra, yang hidupnya juga teramat sederhana. Ali ra bekerja keras membanting tulang untuk nafkah keluarganya. Istrinya, Fathimah, setiap hari menggiling gandum sampai melepuh tangannya.

Nasehat beliau terkait pemerintahan, terabadikan dalam sebuah surat kepada Malik al-Asytar ketika diangkat menjadi gubernur di Mesir, yang berbunyi, “Ini adalah pesan seorang hamba Allah, Ali bin Abi Thalib kepada Malik al-Asytar. Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa kekuasaan yang telah diserahkan kepadamu itu adalah hasil buruan yang jatuh ke tanganmu. Itu adalah amanah yang diletakkan ke pundakmu. Pihak yang di atasmu mengharapkan engkau dapat menjaga dan melindungi hak-hak rakyat. Maka janganlah engkau berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.”

Namun SBY terlihat senang karena akhirnya bisa menikmati pesawat kepresidenan yang telah tiba dari pabriknya, Boeing, tanggal 10 April yang lalu. Dalam kunjungan kerjanya ke Bali (5 Mei 2014), SBY berkata,Satu hal saja yang saya sampaikan, selama 10 tahun jadi presiden saya bersyukur di enam bulan terakhir bisa naik pesawat presiden dan itu bisa menghematkan anggaran kita.”

Benarkah menghemat anggaran? Mari kita hitung dulu.
Berikut rinciannya:

Harga total: US$ 91,2 juta
– Badan pesawat : US$ 58,6 juta
– Interior kabin   : US$ 27 juta
– Sistem keamanan : US$ 4,5 juta
– Biaya administrasi: US$ 1,1 juta

Rincian Interior
Kokpit    : Tempat duduk bagi dua awak, enam monitor penerbangan, dual GPS build-in, TCAS, GPWS, dan sistem panduan penerbangan Flight Dynamics.
Kabin depan : Kamar dengan tempat tidur besar, ruang tamu, ruang istirahat kru, kamar mandi dengan pancuran.
Kabin Belakang : 24 kursi penumpang yang bisa diselonjorkan jadi tempat tidur, ruang rapat, ruang olahraga, dan toilet.

Situs beritaprotes.com menulis, pesawat Boeing 737-800 Business Jet 2 warna biru itu dibeli dari Boeing Company dan sudah dibayar kontan dari kas negara, HANYA 58,6 juta Dolar AS saja. Dengan SEDIKIT tambahan biaya 27 juta Dolar untuk permak interiornya, lalu tambah SEDIKIT lagi 4,6 juta Dolar buat pemasangan sistem keamanannya, maka total jenderal uang mengucur dari kas negara HANYA 91,2 juta Dolar AS saja, atau setara dengan 1, 03 Trilyun rupiah.

Presiden SBY menyatakan bahwa dengan adanya pesawat kepresidenan ini, anggaran negara akan dihemat karena selama ini presiden harus sewa pesawat kepada Garuda bila hendak bepergian. Menurut Sudi Silalahi, Mensesneg, pesawat bisa dipakai selama 35 tahun mendatang. Pertanyaannya: berapa banyak lagi sebenarnya uang harus keluar untuk biaya operasional, biaya perawatan, dan lain-lain selama 35 tahun ke depan itu?

Koordinator Fitra, Ucok Sky Khadafi, menilai, pernyataan ‘pembelian pesawat akan menghemat anggaran’ adalah pernyataan asal bunyi. Menurutnya memiliki pesawat kepresidenan sendiri justru lebih boros ketimbang menyewa pesawat komersil milik Garuda. Dengan cara itu negara tak akan dirugikan karena Garuda itu BUMN. Artinya, dengan cara menyewa, kata dia, maka uang yang dikeluarkan Sekretariat Negara untuk sewa pesawat itu akan dikembalikan lagi ke kas negara.

Menyewa pesawat, kata Ucok, juga lebih efisien karena negara tak perlu keluar uang lebih saat pesawat tak dipakai. “Sedangkan pembelian pesawat harus mengalokasikan biaya perawatan, baik saat digunakan maupun tidak.”

Jadi, pembelian pesawat 1,03 T itu sebenarnya penghematan atau tidak sih? Anak-anak di Banten yang ke sekolah harus melalui jembatan berupa seutas tali, lebih tahu jawabannya.

 

————-

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL