HabibBanyaknya lempar melempar ejekan akhir-akhir ini sungguh telah mencapai tingkat tak tertahankan, sampai-sampai waktu-waktu peringatan peristiwa mulia (contoh: Asyura) menjadi arena pertengkaran yang amat buruk. Dan kitapun jadi makin berani saling mencela dan mengutuk satu sama lain diantara kita , dan kita lupakan kewajiban untuk tabayyun (mengecek ke sumber berita).

Maka melempar tuduhan tak berdasar sudah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan “mengira-ngira” semakin marak.

Jika ada orang menyebut kebaikan Ahlulbait keluarga suci Nabi Saw, maka dengan cepat tudingan tuduhan Rafidhi segera mengarah kepadanya. Dan siapa yang menyebut keutamaan sahabat radhiallahu anhum, datang juga tuduhan Nashibi dari pihak lain.

Telah habis kesabaran Imam Syafi’i rahimahullah saat orang-orang menuduh beliau sebagai Rafidhi karena dalamnya cinta beliau kepada Ahlulbait, sehingga beliau berseru kepada mereka:
“Jikalau mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi..
Maka saksikanlah bahwa aku adalah Rafidhi…..”

Imam Syafi’i sebagaimana orang-orang yang menempuh jalan yang lurus, mereka mengerti bagaimana derajat kemuliaan Ahlulbait dan para sahabat radhiallahu anhum, dan ruh-ruh mereka menyaksikan betapa besar kecintaan mereka kepada Ahlulbait dan para sahabat.

Beliaupun tanpa ragu menegaskan secara terang-terangan kecintaan beliau kepada Ahlulbait dan para sahabat.

Rafidhi adalah mereka yang membawa kebencian kepada (terutama) dua sahabat besar Abu Bakar ra dan Umar ra serta memaki-maki keduanya tak henti-hentinya, wal ‘iyadh billah min dzalik.

Sedangkan Nashibi adalah mereka yang membawa kebencian terhadap keluarga Nabi Saw (Ahlulbait), dan menunjukkan permusuhan terhadap mereka terus menerus.

Anehnya kedua belah ekstremis itu, yang sama-sama dibutakan oleh kedengkian, telah menudingkan tuduhan kepada orang yang sama.
(Pihak Nashibi sengaja mencampur-adukkan antara mazhab Syi’ah dan Rafidhi, sedangkan pihak Rafidhi mencampur-adukkan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Nashibi , kedua ekstremis/ghulat itu berusaha menyeret kedua mazhab besar ini saling berhadap-hadapan sebagai musuh, naudzu billahi min dzalik…).

Apa yang kemudian dilakukan oleh Imam Syafi’i? Beliau justru mempertegas kebodohan posisi para ekstremis tersebut dengan menguraikan dengan jelas keutamaan Ali ra dan Abubakar ra:

“Jika kami memuliakan Ali maka kami dituduh Rafidhi dimata orang-orang bodoh itu…

Dan tatkala kami memuji Abu Bakar menjadikan kami Nashibi, maka akupun akan senantiasa menjadi Rafidhi dan Nashibi karena mencintai mereka berdua, hingga jasadku berkalang tanah.” (ba/ LiputanIslam.com)

___
Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisan Habib Ali al-Jufri

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL