KarbalaOleh: Ismail Amin

Pada peringatan Arbain kemarin, 20 Safar (bertepatan dengan 3 Desember) kota Karbala digulung lautan manusia. Saya bersama istri dan kedua anak saya, termasuk didalam lautan manusia itu. Pemerintah Irak secara resmi menyebutkan, ada total 27 juta peziarah yang memasuki kota Karbala untuk hadir dalam peringatan Arbain di kota tempat terbantainya keluarga Nabi Saw tersebut. Lautan manusia yang memasuki kota Karbala itu, tepinya ada di Najaf, sekitar 90 kilometer dari Karbala.

Lewat kesaksian dengan mata kepala sendiri, di tengah lautan manusia di Karbala, tidak semestinya tragedi Mina terjadi tiap tahunnya dalam penyelenggaraan haji di Haramain. Sayang sekali, dalam penyelenggaraan jamaah haji, yang jumlah manusianya tidak seberapa dibanding yang berkumpul di Karbala, selalu saja ada korban jiwa karena berdesak-desakan. Dalam perjalanan menuju Karbala, saya sesekali terjebak dalam situasi saling berdesakan, tapi selalu ada penjaga keamanan yang bertubuh tinggi dan besar yang kembali menormalkan arus lautan manusia itu.

Setiap tahunnya, kita selalu dijejali informasi haji yang memberitakan daftar nama-nama jamaah haji yang meninggal dunia di Arab Saudi, penyebabnya macam-macam, ada yang sakit, karena usia lanjut, karena masih anak-anak, karena dehidrasi, karena kelaparan, karena kelelahan, karena kepanasan dan karena kehabisan nafas setelah sebelumnya terjebak dalam insiden saling berdesak-desakan. Sehingga penyelenggaraan haji menjadi momok sendiri, yang mengancam nyawa dan keselamatan jamaah haji.

Di Karbala itu tidak terjadi. Saya sempat pingsan karena kelelahan dan dilarikan ke rumah sakit. Tapi Alhamdulillah, sehabis disuntik, saya dengan segar kembali bergabung ke istri dan kedua anakku didampingi tim medis, dan kembali berada di tengah-tengah lautan manusia itu. Meski tidak melihatnya, saya bisa membayangkan, betapa heroiknya tim medis membela lautan manusia untuk menggotong saya yang tidak berdaya, dan dilarikan ke rumah sakit. Dan diantar kembali untuk bergabung dengan keluarga.

Anda tahu, lautan manusia yang memasuki kota Karbala itu, sebelumnya menempuh jarak 90 kilometer dari Najaf dengan berjalan kaki, ada yang bahkan menempuhnya dari jarak ratusan kilometer dengan menghabiskan waktu sampai 2 minggu untuk tiba di Karbala, sekali lagi, dengan berjalan kaki. Lantas apakah keterangan penyebab meninggalnya jamaah haji di Mina dan bagian lain di Arab Saudi dalam prosesi haji karena kelelahan dapat diterima?

Yang turut dalam lautan manusia ke Karbala itu, ada yang lanjut usia, masih bayi, yang cacat bahkan lemah fisik, namun semuanya balik ke kampung halamannya dengan selamat.
Di Karbala, Anda tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk mendapatkan pelayanan ini: penginapan, makan dan minum, fasilitas untuk buang hajat, kamar mandi, kesehatan, penitipan barang, laundry, bahkan transportasi untuk kembali ke Najaf. Semuanya dipersembahkan pemerintah dan rakyat Irak secara gratis.

Apa karena mereka kaya? Tidak. Perang bertahun-tahun telah menyeret mereka dalam kesulitan ekonomi. Meski demikian, rakyat Irak punya slogan, “Berkhidmat untuk Imam Husain dan para peziarahnya adalah kebanggaan kami.”

Ah, kalau sekiranya, yang melayani tamu Allah Swt di Haramain itu orang-orang yang juga mencintai Al-Husain… (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL