anisOleh: Karim Raslan*

Anis Syafiqah, mahasiswi berjilbab berusia 24 tahun ini adalah gambaran yang cocok tentang mahasiswa aktivis Malaysia masa kini.

Dengan penampilannya yang rapi dan pembawaannya yang kalem, Anis yang gemar membaca buku karya Chomsky dan tengah kuliah di jurusan Ilmu Bahasa di Universitas Malaysia (UM) yang terkemuka ini, menemani saya berbincang di kantin kampusnya.

Dia begitu tenang dan mengagumkan. Dia menjawab setiap pertanyaan dengan bersemangat, yang diwarnai oleh kehangatan dan kecerdasannya.

Namun, terlihat juga Anis terbiasa menghadapi tekanan. Baru bulan lalu, dia bersama rekan-rekannya menggerakkan sekelompok orang dengan misi #TangkapMO1 (atau #ArrestMO1) di Kuala Lumpur.

Kelompok yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa ini menuntut tindakan terhadap orang nomor satu Malaysia (Malaysian Official 1), seperti yang dikutip dalam gugatan Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengenai negara bermasalah tersebut.

Saya mendengar Anis– atau lebih tepat melihatnya – pertama kali melalui sebuah video viral di dunia maya yang juga dikirimkan banyak orang kepada saya dalam beberapa minggu terakhir.

Dengan berdiri di luar sebuah universitas karena dilarang masuk, Anis memimpin sekelompok mahasiswa dan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap skandal 1MDB yang sedang berlangsung.

Awalnya dia berbicara dengan nada santai, tetapi perlahan-lahan suaranya semakin keras seiring dengan kemarahannya.

Pada satu waktu, dia memarahi petugas polisi yang menghalangi aksinya dengan berkata, “Seluruh dunia tahu kita telah dirampok, bagaimana bisa kita masih terlihat santai?”

Itu adalah sebuah aksi yang fenomenal yang dilakukan dengan penuh emosi dan pada waktu yang tepat.

Bagi orang-orang Malaysia, aksi itu mengejutkan karena dilakukan oleh seorang anak muda yang menarik, pandai berbicara, dan pada saat yang sama, menunjukkan frustasi dan kecemasan yang dialami masyarakatnya.

Dari mana munculnya perempuan muda yang luar biasa ini? Apakah dia sama seperti orang pada umumnya atau justru “sebuah pengecualian”?

Bagaimana dia, seorang berasal dari Sungai Besar-kota pantai yang jauh di utara pusat kota Selangor-dengan berlatar belakang keluarga kelas menengah (kedua orang tuanya berprofesi guru) ini, dapat mencuri perhatian tingkat nasional?

“Saya mengawali kegiatan aktivis saya dengan bergabung pada Persatuan Mahasiswa Islam (PMIUM). Tahun ini adalah perayaan ke-60 gerakan yang dibentuk oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Saya senang menjadi bagian dari gerakan ini, karena ini membantu saya untuk memahami peran mahasiswa, khususnya sebagai seorang muslim.”

“Saya tahu bahwa saya harus mengejar nilai-nilai agama Islam karena Islam mendasarkan pada prinsip keadilan. Rasisme dalam politik hanyalah sebuah permainan politik. Jadi, mengapa kita tidak bertemu dan bersatu dengan ras lainnya?”

“Saya ikut pemilihan umum di kampus dan saya terkejut karena saya menang dalam pemilihan itu, didukung oleh kelompok Pro-Mahasiswa. Saya berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan LSM dan menyaksikan gejolak dari sentimen pemilih menjelang Pemilihan Umum ke-13.”

“Saya tergerak untuk terlibat dalam aksi kelompok #TangkapMO1 karena sejak Departemen Kehakiman AS mengungkapkan penemuannya, tidak ada satupun yang tergerak untuk merespons. Semua yang saya lakukan adalah untuk membuka mata orang-orang, tidak peduli siapapun, yang terpenting adalah orang Malaysia harus sadar (terhadap apa yang sedang terjadi di negaranya). Perempuan memiliki peran yang penting dalam menumbuhkan kesadaran itu.”

Ketenangan dan kemampuan Anis dalam berbicara dan berargumen mengimbangi kepandaiannya dalam mengatur dan memobilisasi massa.

Menjelang demonstrasi, dia memimpin pertemuan-pertemuan dengan LSM-LSM dan politisi dari partai oposisi, untuk membicarakan dan menyelesaikan agenda serta ego yang bermacam-macam.

Pemahaman Anis tentang peran mahasiswa mengembalikan ingatan pada kegiatan aktivis mahasiswa di era 60-an dan 70-an.

“Walaupun saya tahu bahwa saya memiliki tanggung jawab untuk belajar, kegiatan aktivis itu membantu kita memahami apa yang sudah kita pelajari. Mahasiswa adalah pemangku kepentingan yang kritis. Memang benar, kata ‘universitas’ memiliki kaitan dengan kata ‘universal’. ”

“Semakin kita membuka mata rakyat, semakin kita menjadi satu.”

Banyak orang di luar Malaysia merasa kebingungan dengan tingkat apatisme masyarakat Malaysia saat ini.

Apakah mereka peduli terhadap apa yang terjadi?

Atau apakah mereka sudah terbiasa dengan korupsi dan penyalahgunaan wewenang?

Anda boleh tidak setuju dengan kehidupan politiknya, namun Anis Syafiqah dan rekan-rekannya sangat jelas peduli terhadap arah negaranya.

Anak-anak muda ini bukanlah kelompok milenium yang hanya bisa berkeluh kesah lalu tidak melakukan apa-apa. Anis dan teman-temannya ingin membuat perubahan dan mereka memiliki keberanian atas keyakinan mereka.

Tentu saja, hal ini tidaklah mengejutkan mengingat UM memiliki sejarah yang panjang terkait aktivisme mahasiswa. Banyak alumnusnya (salah satunya Anwar Ibrahim) telah menjadi pemimpin partai politik dari dua sisi yang terbelah.

Kehadiran Anis Syafiqah dan teman-temannya memperbaharui tradisi universitas tersebut.
Ketika saya hendak mengakhiri obrolan, saya terpana dengan caranya menggunakan bahasa secara elegan, dan bagaimana dia menghadapi tantangan hidup di tengah ketatnya kontrol pemerintah Malaysia.

Dia menceritakan kepada saya bagaimana dia berhadapan dengan pihak berwenang. Dia berkata, “Saya tidak mengatakan bahwa saya akan melanjutkan atau menghentikan apa yang saya sedang perbuat. Namun, saya akan memikirkan langkah terbaik apa yang dapat dilakukan, dan saya akan melakukannya.” (liputanislam.com)

*kolumnis dan pengamat ASEAN, disalin dari Kompas, 22 September 2016.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL