blok-mahakam-1Oleh: Muhammad Dudi Hari Saputra, Mahasiswa S2 Hubungan Internasional UGM.

Dalam survey kecil-kecilan yang dibuat sebuah TV swasta (Metro TV) terkait oil company mana yang terbesar memproduksi minyak; apakah Total (Perancis), Chevron (AS) atau Pertamina (Indonesia), mungkin karena semangat nasionalismenya, para pemilih memilih pertamina.

Padahal sebenarnya Chevron lah yang tertinggi (40%-50%) sedangkan Pertamina hanya pada kisaran angka produksi (18%-20%) dari total produksi minyak Indonesia.

Kenyataan pahit ini, lahir dari pemahaman bahwa minyak hanya sekedar komoditas (barang dagang) (UU minyak no 22 tahun 2001), bukan sebagai alat kepentingan nasional dan ketahanan nasional yang seharusnya dipertahankan seluruh kepemilikan, atau setidaknya mayoritas kepemilikan dan produksinya oleh negara melalui Pertamina.

Kita bisa belajar dari Petronas (Malaysia) dan Statoil (Norwegia) yang bisa mencapai 60% total produksi (baik nasional maupun global) dan Statoil memiliki revenue mencapai US$ 723 billion dengan total aset mencapai US$ 784 billion dan Petronas memliki revenue US$ 97 billion dan total US$ 157.

Sedangkan Pertamina hanya berada pada kisaran angka; revenue US$ 70 billion dan total aset US% 40 billion.

Ada beberapa sebab kenapa produksi dan pendapatan kita cukup rendah;
1. Sumur-sumur yang sudah tidak berproduksi lagi
2. Kekuatan kapitalisasi yang rendah untuk oil shifting
3. Penguasaan teknologi perminyakan yang belum advanced
4. Belum ada nya ekspansi kuat untuk produksi hasil minyak sekunder
5. Masih sedikit nya keterlibatan Pertamina dalam tender-tender pengelolaan minyak negara lain.

Saya mengambil contoh Petronas dan Statoil, karena;

Perusahaan negara ini betul-betul dijadikan “anak kandung” oleh negaranya, Petronas setidaknya mendapat 60% dari setiap total profit yang disetor ke negara dari Pemerintah Malaysia, sedangkan di Indonesia, Pertamina tidak demikian. Seluruh total profit diserahkan kepada negara sedangkan anggaran untuk Pertamina harus melalui pengajuan proposal dulu.

Selain itu, semua lokasi minyak strategis di Malaysia sudah diperuntukkan untuk Petronas sedangkan perusahaan asing hanya mendapatkan lokasi minyak yang sulit untuk melakukan proses lifting.

Kasus Blok Mahakam
Jika di Indonesia, yang terjadi malah kebalikannya, lokasi minyak strategis seperti Blok Ambalat bahkan Blok Mahakam pun sudah diperuntukkan perusahaan asing. Blok Mahakam yang diprediksi masih menyimpan kekayaan sebesar Rp. 1.200 Triliun ketika masa produksi Total Perancis dan Inpex Jepang berakhir pada tahun 2017.

Sehingga menteri BUMN, Dahlan Iskan mendorong Pertamina mengelola Blok Mahakam, walau ironis nya Menteri ESDM Jero Wacik menganggap Pertamina masih belum siap untuk itu.

Argumentasi Menteri ESDM bisa tertolak dengan pengalaman Statoil Norwegia yang sebenarnya bisa saja menerima perusahaan asing dengan investasi yang besar serta teknologi yang maju untuk mengelola blok migasnya, namun mereka menolak itu karena menganggap migas adalah asset nasional yang penting, ketika didirikan pada tahun 1972 perusahaan ini belum mampu memproduksi migas hingga tahun 1974, baru pada tahun 1975 produksi mulai ada. Sekarang Statoil menjadi perusahaan migas yang besar.

Jadi, tidak bisa diterima argumentasi bahwa Pertamina tidak mampu mengelola Blok Mahakam itu, selama keinginan itu masih ada, dan kita bisa meniru langkah Rusia misalnya yang melakukan transfer teknologi dari Exxon Mobil (AS) ke Gazprom (Rusia).

Usaha untuk pengelolaan Blok Mahakam oleh Pertamina (anak negeri) ini harus didorong oleh segenap elemen bangsa, dari Pemerintah, stake-holders, akademisi dan masyarakat. Karena, dampak dari pengelolaan minyak Blok Mahakan oleh Pertamina bisa memperkuat ketahanan energi nasional dan menambah pemasukan untuk nasional dan tentunya daerah (Kaltim), selain itu yang terutama adalah kedaulatan energi, sehingga pengelolaan minyak nasional dikuasai dan diatur sepenuhnya oleh negara, bukan pihak asing.

Akhir fakta, keironisan pun berbicara. Disaat ekspor refinery oil kita hanya 400.000 barrel perhari, Korea Selatan dan Singapura malah sudah mencapai diatas 1.000.000 barrel perhari, yang telah menempatkan minyak merupakan komoditas ekspor nomor 1 Korea Selatan dan menempatkan Singapura sebagai negara 3 terbesar dunia sebagai eksportir refinery oil, padahal negara-negara tersebut tidak memiliki sumber minyak, berbanding terbalik dengan Indonesia yang memiliki sumber minyak namun malah mengimpor minyak jadi.

 

————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke redaksi@liputanislam.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL