aniesahokagusOleh: Wisnu Nugroho*

Tahapan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta baru saja dimulai. Uji kesehatan fisik dan mental para kandidat tengah dilakukan.

Terdaftarnya tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur di KPU DKI Jakarta, Jumat (23/9/2016) mengawali tahapan panjang yang berujung pada hari pemilihan 15 Februari 2017.

Ketidakpastian dan ketegangan yang muncul karena penetapan pasangan calon ini sempat jadi ketidakpastian dan ketegangan nasional. Itulah berkah sekaligus kutukan Jakarta sebagai Ibukota Negara dengan APBD 2016 Rp 67,1 triliun.

Karena besarnya nilai berita, semua media di Indonesia menjadikannya sebagai berita utama. Perkembangan terbaru kerap disiarkan langsung sejumlah televisi dengan kategori breaking news.

Tak heran jika ketidakpastian dan ketegangan di Jakarta menjadi ketidakpastian dan ketegangan nasional juga.

Tidak hanya secara nasional, beberapa media asing pun mengendus nilai berita yang sama. Berita awal Pilkada DKI Jakarta juga jadi berita di sejumlah negara.

Ketidakpastian dan ketegangan di Jakarta itu bertambah karena penentuan pasangan calon penantang petahana dilakukan di saat-saat akhir.

Penentuan Agus HarimurtiYudhoyono dan Sylviana Murni bahkan diputuskan, Jumat (23/9/2016) dini hari, saat sebagian besar warga Jakarta terlelap tidur.

Sebelum penentuan yang dilakukan di kediaman Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, dilontarkan pernyataan bahwa Pemilihan Gubernur DKI Jakarta adalah Pilkada dengan rasa Pilpres.

Meskipun disampaikan sambil bergurau oleh SBY yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, pernyataan itu merupakan gambaran realitas Pilkada DKI Jakarta. Jalannya Pilkada DKI Jakarta 2012 adalah buktinya.

“Pemerahan” Ahok

Rasa Pilpres dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 kental terasa sejak dukungan kepada petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat diberikan PDI-P, Selasa (20/9/2016) di Kantor DPP PDI-P di Jalan Diponegoro, Jakarta.

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri menggunakan hak prerogatifnya untuk mencalonkan Ahok. Hak yang digunakan itu dikawal dengan mengantar pendaftaran Ahok-Djarot ke KPU DKI Jakarta, sehari setelahnya.

Di KPU DKI Jakarta, Ahok yang bukan kader atau anggota PDI-P “dimerahkan” Megawati dengan pengenaan jaket merah PDI-P meskipun tanpa atribut. “Pemerahan” Ahok ini menjadi tanda yang nyata kepada lawan-lawan politik sekaligus kawan-kawan politik pendukung Ahok siapa pemimpin koalisi.

Seperti diketahui, sebelum resmi didukung PDI-P dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok sudah mendapat dukungan dari tiga partai sempalan Golkar, yaitu Partai Nasdem, Partai Hanura, dan Partai Golkar.

Menyaksikan sempalan motor orde baru ini menyatu terasa ajaib. Keajaiban itu bertambah saat mereka berkoalisi dengan PDI-Pyang menjadi “lawan” saat orde baru tumbang.

Tetapi, itulah politik. Liat, lentur, dan punya logika sendiri untuk tidak mengatakan tidak berideologi.

Dalam logika ini, koalisi pertama di untuk Pilkada DKI Jakarta2017 ini bisa dipahami sebagai representasi koalisi di pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi). PartaiGolkar paling lantang untuk urusan dukungan ke Jokowi ini.

Kegairahan dan rasa pilpres yang dipertontonkan dalam koalisi pimpinan PDI-P memancing koalisi politik kedua untuk Pilkada DKI Jakarta.

Koalisi kedua dipimpin Partai Demokrat dengan dukungan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), danPartai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Selain karena pasangan Agus-Sylviana, yang menyatukan empat partai ini di Cikeas adalah masa lalu yang indah. Selama sepuluh tahun di dua periode Presiden SBY (2004-2014), keempatnya merupakan sekutu dan pembantu setia pemerintah.

Dimotori SBY, keempatnya punya pengalaman dan ingatan manis bisa mengalahkan Megawati  baik di dua putaran Pilpres 2004 dan satu putaran Pilpres 2009 yang mencengangkan.

Pengalaman dan ingatan manis ini bisa jadi modal dasar untuk koalisi melawan petahana di DKI Jakarta yang merupakan representasi Megawati.

Diajukannya “putra mahkota” SBY yang karakternya mirip dengan ayahnya menambah manis ingatan akan kemenangan dan kejayaan di masa lalu itu. Orang kerap menyebutnya “deja vu”.

Hadirnya mayor infanteri yang mundur dari TNI untuk menjaga wibawa SBY ini cukup mengejutkan. Bukan karena sosoknya yang memang terlihat disiapkan, tetapi karena terlalu cepatnya Agus turun ke dunia politik yang dirintis ayahnya.

Pararel dengan yang terjadi di Cikeas, kegairahan rasa pilpres juga terasa di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subiantodi Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat (23/9/2017) malam.

Pencalonan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang mengejutkan ditambah hadirnya Prabowo membuat pilkada makin terasa seperti pilpres.

Koalisi Partai Gerindra dengan Partai Keadilan Sejahtera merupakan representasi partai oposisi pemerintah, meskipun dua bulan lalu, calon gubernurnya adalah pembantu pemerintah.

Situasi Festival 

Meskipun kegairahan di tahap awal Pilkada DKI Jakarta 2017 terasa, dihubungkannya pilkada dengan pilpres memunculkan kekhawatiran.

Terlebih, ingatan publik akan pilpres adalah Pilpres 2014 yang mengkoyak-koyak kesatuan warga dan kemudian membelahnya.

Jejak terbelahnya warga masih bisa dijumpai hingga saat ini. Sebutan pilkada rasa pilpres bisa menyuburkan kembali keterbelahan warga karena politik lima tahunan ini.

Namun, belum sempat kekhawatiran itu menemukan bukti, kegairahan baru penepis kekhawatiran itu kita saksikan. Kegairahan itu hadir di sela-sela pemeriksaan kesehatan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sabtu (24/9/2016).

“Wefie” yang dilakukan Anies-Sandi, Ahok-Djarot, dan Agus-Sylvi sebelum pemeriksaan kesehatan di RSAL Mintohardjo sedikit meredakan kekhawatiran situasi pilpres terulang.

Atas inisiatif Anies yang membawa telepon selular, keenamnya tersenyum menatap kamera yang “dijepret” Anies tiga kali.

Foto terbaik lantas diunggah Anies di akun instagramnya @aniesbasewdan dengan keterangan “swafoto menjelang pemeriksaan kesehatan”. Foto ini lantas viral dan melegakan lantaran meluruhkan kekhawatiran.

Meme kocak berbagai versi yang kemudian beredar dengan mengedit swafoto itu turut mengurangi kekhawatiran itu.

Cairnya hubungan keenam orang yang dikonstruksikan secara politik berlawanan ini didasari pertemanan dan pengenalan yang baik satu sama lain sebelumnya.

Anies yang berinisiatif mengambil foto itu menyebut kontestasi politik seperti pilkada adalah sebuah festival atau pesta. Dia menyebut ada festival gagasan, festival karya dan festival rencana, bukan arena pertempuran.

Keterangan Anies soal festival ini punya perspektif ganda. Pertama, untuk masa depan yaitu Pilkada DKI Jakarta yang tidak ada jaminannya. Kedua, untuk masa lalu yang di era digital banyak sekali jejaknya.

Untuk jejak digital ini, kita masih ingat bagaimana Anies dan Sandi yang berseberangan saat Pilpres 2014. Tidak hanya dengan Sandi, Anies juga berseberangan dan menyerang Prabowo ketika itu.

Untuk posisi yang saat ini berubah total, keterangan Anies di balik ide swafoto di RSAL Mintohardjo bisa dimaknai dan mungkin dimaklumi.

Anies sedang ada dalam situasi festival, situasi pesta. Festival baru dan pesta baru tengah dimasukinya setelah jeda dua bulan lamanya.

Kita sambut ajakan pesta di Jakarta itu dengan gembira sambil merawat ingatan kita yang mudah lupa karena indahnya buaian kata-kata.

Saat pesta, biasanya kita optimal dalam berpura-pura atau mengada-ada. (liputanislam.com)

*disalin dari Kompas, 25 September 2016.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL