Ada harapan baru bagi rakyat Yaman, terkait pembicaraan damai yang ditengahi PBB akan benar-benar bekerja. Namun, hal ini adalah kabar buruk bagi pihak yang berusaha untuk mempengaruhi perubahan rezim di negara miskin tersebut, terutama Arab Saudi dan kroni-kroninya.

Tahun lalu, ketika serangan atas Yaman dimulai, Saudi dan sekutunya mengklaim bahwa mereka akan menang hanya dalam hitungan hari atau minggu, sayang sekali, itu hanyalah angan-angan belaka. Dan ketika kejahatan ini gagal melumpuhkan Yaman, mereka lantas menargetkan sekolah, rumah sakit, dan banyak infrastruktur sipil lainnya untuk menyelamatkan muka.

Lebih satu tahun sudah Yaman digempur, dengan bantuan AS dan sekutunya, termasuk Israel, namun tidak ada kemajuan yang berarti. Itulah mengapa sekarang mereka berbicara tentang perdamaian, karena mereka tidak memiliki pilihan lainnya. Namun, tidak berarti mereka benar-benar menginginkan perdamaian.

Apa yang mereka inginkan sebenarnya?

Praktek-praktek ala kolonial, memecah dan menjadikan Yaman sebagai negara boneka masih bertengger di puncak agenda. Ada yang ragu? Maka lihatlah Afghanistan, Irak, Suriah, dan Palestina. Sama seperti yang telah terjadi di negara-negara tersebut, yang disebut pembicaraan damai bukanlah untuk benar-benar mengakhiri perang dan menghindari pertumpahan darah lebih lanjut. Ini hanyalah pergeseran taktik.

Koalisi jahat ini ingin mencapai tujuannya yang tidak bisa mereka raih di medan perang: menguasai Yaman, memecah Yaman berdasarkan etnis dan sekterian – agar Yaman tak lagi menjadi negara kesatuan.

Selain itu, Saudi dan sekutunya juga menginginkan jatuh dan melemahnya pejuang revolusioner Ansarullah, dengan menggunakan kombinasi tekanan internasional dan kesepakatan perdamaian yang akan dibicarakan.

Pola ini akan berulang. Di tengah negosiasi / pembicaraan damai, maka mereka akan melakukan operasi Pasukan Khusus secara berkelanjutan, dan serangan pesawat tak berawak (yang merupakan kebijakan sepihak AS dan upaya kontra-terorisme Barat). Sejak tahun 2001, serangan pesawat tak berawak menargetkan kelompok Al Qaeda, namun kini akan menargetkan Ansarullah. Lalu akan diberlakukan zona larangan terbang di area perbatasan Saudi-Yaman dengan dalih “bantuan kemanusiaan”. Selanjutnya, mereka akan mengadopsi resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap kelompok perlawanan Ansarullah dalam bentuk sanksi dan embargo senjata (mirip dengan yang ditimpakan kepada Hizbullah Lebanon dan Hamas Palestina). Mereka juga akan melakukan tindakan ilegal untuk mengekang upaya politik, diplomatik dan ekonomi Yaman.

Artinya, gencatan senjata yang terjadi sama sekali tidak dimaksudkan untuk mendukung legitimasi dari proses politik di Yaman. Tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kelangsungan pemerintahan otoriter di kawasan itu, dan menekan kekuatan populer yang beroposisi pada status quo.

Untuk tujuan ini, maka penghasut perang akan terus membangun pangkalan militer di dalam dan sekitar Yaman, memblokade dan mengembargo senjata untuk Ansarullah. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL