Oleh: Iqbal Aji Daryono*

Jumat pekan kemarin, pak khatib di masjid saya berkhotbah tentang tema menyebarkan salam. Ia memberikan contoh sebuah peraturan daerah sebagai salah satu manifestasi salam. Bukan perda syariat atau sejenisnya, melainkan perda larangan menyetrum ikan di sungai-sungai.

“Sebab begini, jamaah Jumat yang dirahmati Allah. Kalau tindakan menyetrum ikan itu dibiarkan, maka yang mati bukan cuma ikan yang besar, tapi juga yang kecil-kecil, bahkan telur-telur ikan pun akan mati karenanya. Itulah salah satu perilaku merusak alam dan lingkungan, yang tidak mencerminkan sikap menyebarkan salam.”

Entah karena saya selama ini selalu tertidur waktu khotbah Jumat atau bagaimana, yang jelas rasanya sudah lama sekali saya tidak mendengar tema khotbah Jumat yang sekontekstual itu. Bukan berarti tema pengajian di masjid saya selalu yang galak-galak sih (Anda jangan terburu nafsu main tuduh begitu dong hehehe). Maksud saya, kebanyakan selama ini tema-tema standar saja.

Tema standar itu misalnya nasihat agar jamaah rajin salat di masjid, memperbanyak shalawat kepada Nabi, berbakti kepada orangtua, memperbanyak rasa sabar dan syukur, hidup bertetangga dengan baik, bersedekah yang rutin, membantu fakir miskin dan anak yatim, beramal jariyah, menjaga anak-anak dari pengaruh negatif tontonan, dan sebagainya.

Adapun tema-tema kontemporer semacam pelestarian alam semacam yang disebut Pak Khotib itu bisa saya katakan sangat jarang. Maka saya senang sekali mendengarnya, dan tiba-tiba hilanglah kantuk saya.

***

Apa yang saya ceritakan barusan memang hanya di lingkup sekecil masjid kampung. Tetapi, sebenarnya yang kecil-kecil itu bisa menjadi sedikit jawaban atas keriuhan yang terjadi pada hari ini, terkait ide menghapus pelajaran agama di sekolah-sekolah. Oleh seorang praktisi pendidikan, pelajaran agama dipandang hanya menimbulkan eksklusivisme pada anak-anak. Sementara, oleh banyak suara lainnya, sumbangsih konkret hasil pendidikan agama di tengah masyarakat dilihat relatif minim.

Mari kita rembuk yang kedua dulu.

Tantangan selalu berubah dari waktu ke waktu. Kompleksitas persoalan di hari ini sudah beda dengan tantangan kehidupan di masa lalu. Ambil saja contoh tema khotbah tadi. Barangkali pada 30 tahun lalu menyetrum ikan di sungai belum menjadi masalah lingkungan. Ikan-ikan masih melimpah, lagi pula alat setrum belum terakses luas. Ketika sekarang ekosistem sungai semakin rusak, dan muncul pandangan ilmiah bahwa menyetrum ikan merupakan perusakan lingkungan, agama bisa dengan sigap mengambil posisi di situ.

Pak khatib menyatakan bahwa menyetrum ikan bukan cerminan perilaku yang menyebarkan salam. Dengan kata lain, menyetrum ikan di sungai pada zaman ini sudah menjadi bentuk nyata akhlak tercela. Kalau spirit itu diadaptasi di lingkungan sekolah, kurikulum pendidikan agama dan guru-gurunya bisa membahasakan dengan lebih lugas lagi: menyetrum ikan di sungai adalah perbuatan tercela, dan karena itu siapa pun yang melakukannya akan berdosa.

Kita tidak perlu alergi dengan istilah “dosa”. Bahwa idealnya anak-anak memahami buruknya menyetrum ikan di sungai dari perspektif kelestarian lingkungan, saya pun sepakat. Namun, dalam ajaran agama (karena saya muslim tentu saja yang saya mengerti adalah ajaran Islam), dosa dan pahala adalah mekanisme yang diyakini, sekaligus “bahasa” yang paling gampang dipahami. Vonis dosa yang dijatuhkan kepada penyetrum ikan sangat mungkin lebih efektif untuk membentuk perilaku anak-anak yang cara berpikirnya masih simpel itu.

Soal setrum-setruman cuma salah satu contoh kecil saja. Poinnya, agar pendidikan agama memunculkan sumbangsih nyata yang memberi warna positif bagi masyarakat, kurikulum dan para pengajarnya memang harus selalu up to date dalam menjawab persoalan-persoalan konkret di tengah publik. Dengan kontekstualisasi pelajaran agama atas isu-isu kontemporer yang dekat dengan lingkungan anak didik, kontribusi pendidikan agama pasti tampak jauh lebih nyata.

Nah, tantangannya adalah mengambil sudut pandang agama atas hal-hal yang sekilas tampaknya bukan domain agama.

Misalnya, sudah adakah guru agama yang mengatakan bahwa menyerobot lampu merah itu dosa? Jika sudah ada, dan tersistem dalam kurikulum, bukan tidak mungkin saat Anda menerabas lampu merah sambil memboncengkan anak Anda, dia akan mengingatkan, “Pak, jangan, Pak! Itu dosa!”

Bagi yang tidak terbiasa mendengar kalimat semacam itu, pasti terasa menggelikan. Tapi jangan tertawa dulu. Anak memang harus dipahamkan bahwa melanggar lampu merah itu mengancam keselamatan diri sendiri dan orang lain, itu pasti. Namun, poin saya, sudut pandang pendidikan agama harus bergotong royong dengan aneka sudut pandang yang lain untuk bersama-sama membangun sebuah masyarakat yang sehat.

Persoalannya, lagi-lagi, hal-hal semacam lampu merah itu secara umum lebih dikaitkan dengan denda tilang, alih-alih dengan dosa dan pahala. Jika terus-menerus begitu, pendidikan agama akan semakin gagal memainkan peran konstekstualnya. Dosa itu kalau meninggalkan salat, minum alkohol, dan makan daging babi. Sementara itu, mengendarai motor tanpa lampu di malam hari tidak ada urusannya dengan dosa. Begitu kesan awam yang terbangun, kan?

Kendalanya, agak sulit untuk membangun sudut pandang demikian jika anak hanya diajari secara kognitif. Praktik-praktik lapangan dan upaya membangun kebiasaan sebenarnya lebih dibutuhkan. Yang jadi masalah, guru mengalami kesulitan untuk memberikan menu praktik atas akhlak sosial.

Maka, ujian-ujian praktik untuk pelajaran Agama Islam pun biasanya sekadar berbentuk praktik salat, membaca surat-surat pendek, membaca doa-doa, menyebutkan Asmaul Husna, atau maksimal menyebutkan contoh-contoh perilaku terpuji yang meneladani Asmaul Husna. Praktik akhlak sosial sendiri sulit diajarkan.

Ada dua alasannya. Pertama, karena praktik di lapangan tidak terpantau guru di sekolah. Kedua, lagi-lagi, karena kadangkala guru tidak jeli melihat bahwa hal-hal yang tampak tidak berkaitan dengan agama pun sebenarnya bisa disikapi secara agama.

Saya ingat, dalam sebuah pelajaran tematik, anak saya yang kelas tiga SD itu pernah berpraktik menanam bibit pohon. Ketika belakangan saya tanya apa saja yang ia pelajari dari aktivitas itu, ia cuma menjawab dengan hal-hal yang terkait ilmu alam, juga tentang semangat hidup bersama. Hidup bersama yang ia maksudkan adalah bagaimana kita manusia hidup berdampingan dengan alam sekitar.

Saat saya tanya apakah dalam aktivitas itu juga dipaparkan hal-hal yang terkait pelajaran Agama Islam, dia seketika tampak bingung. “Lho, apa hubungannya menanam pohon dengan agama, Pak?”

Ini memang membutuhkan sinergi antara berbagai mata pelajaran, atau dalam istilah yang sudah saya sebutkan: antara berbagai sudut pandang. Bahkan praktik menanam pohon pun sangat bisa dijalankan dalam spirit pelaksanaan ajaran agama.

Saya ambil contoh. Dalam poin pelajaran membiasakan diri bersyukur, menanam pohon adalah bentuk syukur kepada Allah karena sudah dikaruniai bumi yang subur. Menanam pohon juga bisa menjadi cara umat manusia untuk mencegah kerusakan di darat dan di laut (nah, soal ini ada ayatnya).

Bahkan, dapat pula diajarkan bahwa menanam pohon merupakan bentuk konkret amal sedekah. Pohon memproduksi oksigen, kalau ia tumbuh besar orang-orang yang lewat di bawahnya akan menghirup oksigen darinya, dan karenanya si penanam telah bersedekah oksigen. Menarik, bukan?

Sayangnya, dalam pelajaran agama standar, wujud dari rasa syukur melulu cuma melafalkan alhamdulillah. Gambaran bersedekah pun tak pernah keluar dari konsep uang, yaitu dengan cara memberikan uang bagi fakir miskin dan anak yatim. Belum pernah saya mendengar sinergi pelajaran ilmu alam dan agama, sehingga nyaris tak ada yang sadar bahwa oksigen yang sangat mahal itu pun sangat bisa disedekahkan.

***

Beberapa contoh kecil tadi bisa dikembangkan dengan kreativitas penataan kurikulum, juga stimulasi kreativitas pengajaran bagi guru-guru agama. Pada level setelahnya, kita bisa masuk ke poin keresahan yang paling awal tadi: kenapa pelajaran agama malah membuat murid jadi eksklusif dan membeda-bedakan diri satu sama lain?

Silakan saja bila Anda lebih suka membahas isu-isu pemikiran radikal. Tapi saya sendiri lebih ingin membayangkan bahwa pendidikan agama dapat dijalankan secara kolaboratif antar-agama.

Dalam wilayah keimanan atau akidah, agama memang berbeda-beda. Namun dalam nilai-nilai moral dan akhlak sosial, ada semangat-semangat yang sama di dalam semua agama. Dimensi itulah yang bisa disinergikan dalam praktik-praktik komunal yang dijalankan para anak didik.

Mari ambil contoh yang paling sederhana. Dalam satu sekolah, ada beberapa agama yang dianut para murid. Karena porsi dan jadwal pelajaran agama mereka sama, diadakan beberapa kali praktik pelajaran agama bersama, dalam dimensi yang bisa disinergikan. Misalnya anak-anak dari semua agama diberi tugas membersihkan halaman sekolah dan menyirami rumput, sambil diberi penekanan bahwa tugas tersebut adalah pengejawantahan ajaran agama masing-masing.

Di halaman sekolah, anak-anak itu akan memahami dua hal. Pertama, apa yang tampaknya urusan “profan” saja ternyata juga bisa dipahami dengan semangat beragama. Kedua, mereka satu sama lain akan mengerti bahwa agama-agama yang dianut teman mereka juga mengajarkan nilai-nilai muamalah yang sama.

Dari pembiasaan praktik interaktif sederhana semacam itu, anak-anak akan sangat gembira menemukan persamaan-persamaan, alih-alih tumbuh menjadi pribadi-pribadi eksklusif yang lebih gemar membesar-besarkan perbedaan. (LiputanIslam.com)

*bapak dua anak, disalin dari Detik, 9 Juli 2019.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*