love 7Oleh: Cahaya Gusti

Suatu hari hari ada seseorang wanita setengah baya datang ke rumah, wajahnya kusam, menndakan banyak masalah, beliau curhat berkeluh kesah bahwa beberapa hari tubuhnya sakit tidak wajar dan jiwanya gelisah. Setelah saya amati sakitnya terkena gangguan Jin. Lalu sayapun bertanya, “ Agama Ibu apa….?”

“Agamaku Hindu Nak,” jawabnya.

“Ibu gak pernah ke pura…?” Tanyaku kembali.

“Ya . sudah lama tidak pernah ke Pura,” jawabnya dengan malu.

“ Tiap malam di rumah sembahyang apa tidak” tanyaku.

“Sudah lama juga saya tidak pernah sembahyang di rumah,” jawabnya.

“Sekarang Ibu pulang dulu, jangan lupa tiap malam sembahyang sesuai dengan keyakinan anda (Hindu) yang khusyu’ dan dihayati. Selama tiga malam ini bacalah Trysandya 40 kali tiap malamnya. Lalu Ibu boleh ke sini lagi saya bantu menghilangkan sakitnya,” ucapku.

Sang Ibu menjawab, “Ya Nak,” sambil manggut-manggut.

“Bu, tahukah anda mengapa dalam agama Hindu kalau sembahyang pakai bunga?” tanyaku.

“Gak tahu maksudnya nak….” jawabnya.

Sayapun menjelaskan, “Bunga itu adalah simbol, agar ketika kita sembahyang menghadap Tuhan hati dan jiwa kita harus harum, bersih dari sifat-sifat tercela, maka doa kita akan dikabulkan Tuhan.”

Sang Ibu manggut-manggut kepalanya, sambil jawab, “Ya Nak.”

Setelah tiga hari, ibu itu datang kembali ke rumah, sekarang wajahnya menjadi cerah, tubuhnya sehat tanpa ada gangguan sakit sama sekali.

Sayapun bertanya, “Ada apa Bu….?”

“Saya yang sakit kemarin, katanya setelah tiga hari disuruh kesini…” jawabnya.

“Ibu sehat segar bugar dan tidak ada gangguan sakit sekarang, ini semua adalah hasil sembahyang dan doa Ibu, sehingga gangguan sakitnya menjadi hilang. Jika kita setiap hari rajin sembahyang maka jiwa dan tubuh kita menjadi bercahaya, jika kita menjauh dari Tuhan, maka diri kita menjadi gelap. Karena tidak terkena cahaya Tuhan, maka tubuh dan jiwa kita mudah sakit, sebagaimana tanaman yang tidak terkena sinar matahari,” jawabku.

Sang ibu menganggukkan kepala sambil menjawab, “ Ya Nak.”

Sayapun menimpali, “Karena Ibu sudah sehat, maka saya tidak perlu lagi mendoakan Ibu.”

“Saya tetap minta doanya agar saya sehat,” jawabnya.

Lalu sayapun ambil air satu gelas saya bacakan Alfatehah dan saya suruh ia meminumnya. Sebelum pulang sayapun berpesan, agar rajin sembahyang baik di rumah maupun pergi ke Pura.

Setelah ibu itu pulang dengan hati bahagia, ada teman saya yang nyletuk, “ Kenapa tidak kamu Islamkan orang itu tadi?”

“Ibu itu datang kesini ingin berobat karena sakit, bukan ingin pindah agama,” jawabku.

Temanku ternyata tidak terima dengan jawabanku, dia pun menyahut, “ Ketika seseorang sakit dia butuh kesembuhan, jika dengan lantaran kamu bisa sembuh, maka kamu Islamkan, pasti dia mau.”

“Orang itu datang ke sini bukan ingin masuk Islam, tapi ingin berobat. Saya tidak mau menjebak orang apalagi mengiming-imingi penganut agama lain dengan janji-janji dan menyogok mereka dengan cara murahan, itu namanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Biarkan seseorang masuk Islam atas kesadaran dirinya,” jawabku.

Kita semuanya beragama karena warisan dari keyakinan orang tua kita, seseorang menjadi Islam, karena orangtuanya Islam. Seseorang menjadi Kristen, karena orang tuanya memang Kristen. Orang beragama Hindu dan Buddha, karena agama orang tuanya adalah Hindu dan Buddha.

Karena mempunyai keyakinan agama dari warisan orang tua, sebagaimana anak yang mendapatkan harta warisan, akhirnya seenaknya sendiri dalam mengambur-hamburkan harta. Beda dengan orang yang kaya/ sukses dari hasil kerja sendiri maka akan banyak perhitungan dalam pengeluaran keuangan.

Begitu juga dalam beragama, karena beragama dari warisan orang tua, banyak dari kita yang meremehkan keyakinan agamanya, sehingga ogah-ogahan untuk memperdalami dan menghayati lebih dalam makna agama dalam kehidupan kita. Akhirnya jiwanya mudah goyah dan keropos dalam menghadapi kerasnya kehidupan di dunia.

Yang unik lagi ketika seseorang pindah agama ke agama lainnya, mereka malah suka menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Karena sekarang dia merasa menjadi manusia benar, ini namanya Agama Nggumunan (mudah heran), itu pertanda jiwa mereka ndeso, jiwa mereka masih kanak-kanak, sehingga mudah heran dan takjub dengan yang baru dilihat, lalu menjelek-jelekan agama yang dianut sebelumnya. Mereka bukannya mendapatkan pencerahan jiwa melainkan kemunduran jiwa.

Yang lebih aneh adalah munculnya sosok-sosok yang baru pindah agama yang di dalam kelompoknya langsung dijadikan tokoh. Mereka pun merasa pantas berfatwa. Padahal yang beragama warisan saja puluhan tahun belum bisa menjadi ustadz, seorang muallaf beberapa tahun sudah jadi mufti yang suka mengeluarkan fatwa.

Jonru dan Felix Sauw adalah contoh orang yang “gagal” dalam pencerahan, bukannya jiwa keduanya menjadi matang dan dewasa, justru malah suka menebarkan fitnah dan kebencian sesama manusia. Islamnya kedua orang itu bukannya menambah Islam semakin hebat, malah menjadikan Islam semakin negatif. Bagaimana tidak? Mereka di media sosial sering sekali menebar fitnah, membuat fatwa, namun fatwanya beraliran “Ahlul Fitnah wal Jamaah.” (Semoga kedua orang itu jiwanya menjadi semakin benar-benar tercerahkan dan menjadi dewasa dalam beragama.)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL