Oleh: Ayudia az Zahra, Blogger

Hala Gorani 3

Foto propaganda oleh Hala Gorani wartawan CNN dalam krisis Suriah.Sumber: Syrian Free Press

Ketika tersiar kabar beberapa waktu yang lalu tentang pelarangan jilbab di Bali, dahi saya berkerut, dan hati saya membatin, “Ini tidak mungkin, seujung kuku-pun saya tidak percaya.” Pernah menetap di Pulau Seribu Pura tersebut dalam waktu yang cukup lama dan menyatu dengan adat istiadat masyarakat Bali, pelarangan jilbab ini terasa asing dan aneh, namun sayang,  apa yang saya yakini bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh media massa.

Di sekolah, saya masih ingat setiap hari Jum’at adalah hari yang sangat menyenangkan. Jika hari biasa sekolah usai pada pukul 15. 00 WITA, tidak demikian halnya dengan hari Jum’at. Pelajaran sudah berakhir pada jam 11.00 WITA . Alasannya, agar siswa muslim bisa melakukan shalat Jum’at. Begitu juga halnya dengan jilbab, memakai atau tidak memakai jilbab tidak menjadi masalah, dan muslim yang memang sangat minoritas di daerah tersebut rata-rata tidak memakai jilbab saat bersekolah.  Di hari Jum’at, dalam rangka ajeg Bali (sebuah program untuk melestarikan budaya Bali) sekolah-sekolah negeri biasanya mewajibkan siswa-siswinya menggunakan pakaian adat khas Bali yaitu kebaya dan safari. Namun, tidak demikian halnya dengan siswa yang beragama Islam. Bagi yang hendak berpakaian adat, dipersilahkan. Yang ingin tetap menggunakan seragam sekolah, juga diperbolehkan, dan yang tetap pakai jilbab juga tidak masalah, itu yang bisa saya gambarkan tentang kondisi Bali di tahun 2005.

Sehingga, ketika sebuah halaman di jejaring sosial mengadakan jajak pendapat yang bertema “Benarkah Jilbab Dilarang di Bali ?”, saya mendapati ternyata tidak hanya saya yang merasa bahwa berita tersebut ngawur. Misalnya, ada akun, sebut saja Putu yang merupakan warga asli Bali mengungkapkan rasa kecewanya dengan kabar yang terlanjur menjadi isu nasional tersebut dan menantang siapa saja yang percaya untuk datang ke Bali dan melihat sendiri kondisi Bali. Tidak lama berselang, seorang muslim yang menetap di Bali juga membenarkan pernyataan dari Putu.

***

Kasus kedua yang saya jumpai, ada seorang sahabat saya yang menuturkan kekesalan hatinya saat menjumpai akhwat- akhwat yang menurutnya doyan ghibah. Ghibah yang dimaksudnya adalah menuduh atau menggunjingkan tokoh- tokoh besar yang diduga Syiah. Misalnya; tentang Prof Quraish Shihab yang menjadi bulan- bulanan karena sikapnya yang tidak antipati terhadap Syiah. Oleh media-media takfiri, beliau dituduh Syiah, kadang dituduh antek Syiah. Contohnya lagi, Dr Jalaludin Rakhmat yang dituduh bertitel palsu. Tidak jarang juga, tokoh pembela Palestina seperti dr. Joserizal dan Dina Y Sulaeman dituduh Syiah dan digunjingkan habis- habisan lantaran sikapnya yang berbeda dengan para pendukung jihadis dalam menyikapi konflik Suriah.

Apa yang membuat kedua kasus di atas kini menjadi sebuah trend ? Saya menyimpulkan setidaknya ada 3  hal yang memicu, yaitu

1. Rasa ingin berbagi. Ari Ginanjar, penulis buku The ESQ way 165  menyebutkan bahwa pada fitrahnya, menusia memiliki beberapa sikap yang sesuai dengan sifat- sifat Allah yang tertuang di dalam al Qur’an seperti Maha Penolong, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Ilmu, Maha Melindungi. Merujuk pada surat as Sajadah ayat 9: “Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan hukum yang baik) dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Nya..” Artinya, sifat-sifat mulia itu juga ditiupkan ke dalam jiwa manusia. Sehingga ketika diberikan beberapa pertanyaan- pertanyaan yang berhubungan dengan interaksi antar sesama manusia, rata- rata memberikan jawaban yang sama. Contoh; “Jika Anda sedang makan di pinggir jalan lalu melihat seorang anak kecil menatap makanan yang Anda pegang dengan mata penuh harap, bagimana suara hati Anda? “ Normalnya, dikatakan bahwa suara hati yang muncul adalah ingin berbagi makanan tersebut dengan si anak. Suara- suara hati manusia pada dasarnya adalah sama, yang  sifatnya universal, dan inilah yang disebut dengan kesadaran spiritual (The ESQ Way hal 43 sd 45)

Nah, fitrah suci/kesadaran spiritual inilah yang dimanfaatkan oleh pihak- pihak tertentu. Mereka paham sekali, bahwa ketika seseorang mengetahui sebuah informasi yang dirasa bermanfaat, maka dia tidak akan segan- segan untuk meneruskan informasi tersebut kepada temannya, saudaranya, kerabatnya, bahkan hingga siswa- siswinya. Contohnya, informasi tentang kesesatan Syiah, ada seorang teman yang juga menuturkan bahwa di SMP anaknya pun tidak luput dari penyebaran informasi tersebut yang disampaikan oleh guru- gurunya. Sayang sungguh sayang. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan dan menjalin cinta kasih dengan sesama, kini menjadi ajang penyebaran kebencian kepada kelompok tertentu.

Seharusnya (dan hal ini yang sering diabaikan) sebelum kita menyebarluaskan sebuah informasi, terlebih dahulu kita harus memastikan keakuratannya. Saking pentingnya tabayyun ini, hingga Allah pun berfirman dalam sebuah surat, yang menyeru kepada umat manusia jika menerima berita dari orang-orang fasik, maka wajib baginya untuk memeriksa kembali apakah benar berita tersebut demikian adanya.

2. Berharap pahala

Seringkali, di akhir sebuah artikel ataupun tulisan, digunakan kalimat kalimat yang memikat untuk mendorong para pembaca dengan sukarela menyebarkan informasi tersebut. Misalnya: “Raih amal shalih dengan menyebarkan informasi ini.” Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan pahala hanya dengan sekedar klik icon ‘share’ atau ‘bagikan’?

Satu informasi yang belum tentu benar bisa di- share ratusan hingga puluhan ribu kali. Dan bayangkan jika setiap yang share memiliki ribuan teman atau follower, maka dalam sekejap saja dunia dibuat terhenyak, dan karena dorongan berbagi dan meraih amal shalih juga, mereka pun melakukan hal yang serupa.

3. Adanya dalil yang mendukung. Suatu hari, saya menemukan artikel yang membingungkan. Dalam artikelnya, si blogger yang taqlid pada ulama- ulama Saudi menuliskan sebuah fatwa tentang onani di bulan Ramadhan yang tidak membatalkan puasa. Dengan yakin, blogger tersebut merinci fatwa dan juga  dalil-dalilnya. Artikel itu dikomentari oleh banyak orang yang merasa tidak setuju dengan fatwa tersebut, dan perdebatan panas pun terjadi.

Ujungnya, sebagai senjata pamungkas, si blogger membawakan hadist dari Shahih Bukhari, yang bunyinya:

”Barang siapa ber- ijtihad, dan ternyata ijtihadnya benar, maka ia akan mendapatkan dua pahala, dan barang siapa ber- ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya salah, maka ia tetap mendapatkan satu pahala” (HR. al-Bukhari no. 894).

Apa mau dikata lagi, jika akhirnya hadist ini ditafsirkan: “Boleh menyebarkan informasi seluas- luasnya kendatipun informasi itu tidak valid, karena ada dalil yang mengabarkan, saat melakukan kebaikan dan ternyata itu keliru, ganjarannya adalah satu pahala, bukan berdosa.” Saya disini sama sekali tidak ingin melakukan tela’ah hadist karena itu bukan ranah/ bidang saya, dan saya serahkan kembali kepada ahlinya untuk memberikan penjelasan sejelas-jelasnya, untuk pertanyaan berikut ini:

a. Apakah ijtihad ini boleh dilakukan oleh semua orang?

b. Apakah ijtihad ini memiliki syarat tertentu?

Semoga ada yang berkenan menjawab pertanyaan saya tersebut.

———–
Redaktur menerima sumbangan tulisan untuk rubrik opini. Kirim ke redaksi@liputanislam.com

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL