Sheikh nImrBenyamin, salah seorang pendiri kelompok perdamaian CodePink dan organisasi hak asasi manusia Global Exchange, dalam artikelnya menyebutkan sepuluh alasan menentang Arab Saudi. Berikut kesepuluh alasan tersebut:

Pertama, Arab Saudi menjalankan sistem monarki absolut dari sebuah klan yang besar, yaitu keluarga Al-Saud, dan tahta kerajaan diwariskan secara turun-temurun. Kabinet dipilih secara langsung oleh raja, serta kebijakan kabinet harus sesuai dengan kemauan kerajaan. Partai politik sangat dilarang di Saudi karenanya tidak ada pemilu nasional.

Kedua, mengkritik kerajaan, atau melakukan pembelaan terhadap HAM, bisa membawa seseorang menerima hukuman kejam ditambah pula dengan kurungan penjara di Saudi. Ali al-Nimr ditangkap dan ditahan pada umur 17 tahun hanya karena memprotes pemerintah yang korup. Ia kini bahkan dijatuhi hukuman mati berupa pemenggalan di hadapan publik. Raif Badawi dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun dan hukuman cambuk 1.000 kali atas kritiknya terhadap hukum kerajaan. Waleed Abulkhair harus menjalani hukuman penjara, sebagai konsekuensi atas pekerjaannya sebagai pengacara HAM. Undang-undang baru Saudi bahkan menyamakan kritik terhadap pemerintah dan kegiatan damai lainnya dengan terorisme. Pemerintah ketat mengontrol pers dalam negeri, melarang wartawan dan editor mempublikasikan artikel yang dianggap menyinggung keagamaan maupun otoritas yang berkuasa. Lebih dari 400.000 situs internet yang dianggap tidak sesuai dengan kemauan kerajaan atau mengandung unsur politik yang dianggap sensitif, diblokir. Sebuah hukum yang berlaku mulai Januari 2011, mengharuskan semua blog dan website, atau siapa pun yang memuat posting berita atau komentar secara online, memiliki lisensi dari Kementerian Informasi atau menghadapi resiko denda dan/atau penutupan website.

Ketiga, Saudi Arabia menempati ranking teratas dalam tingkat pemberian hukuman mati di dunia, membunuh ratusan orang pertahun atas berbagai tuduhan meliputi perzinahan, anggapan kemurtadan, penggunaan narkoba dan ilmu sihir. Pemerintah telah melakukan lebih dari 100 pemenggalan untuk tahun ini saja, dan hampir kesemuanya dilaksanakan dalam ruang publik.

Keempat, perempuan Saudi adalah warga kelas dua. Polisi agama menegakkan kebijakan segregasi gender dan sering melecehkan perempuan, menggunakan hukuman fisik berlebihan untuk menegakkan hukum atas para wanita.

Kelima, tidak ada kebebasan beragama. Pemerintah melarang praktek umum dari agama apapun selain Islam dan membatasi praktik keagamaan dari minoritas muslim serta kaum Sufi.

Keenam, Saudi adalah pengekspor ideologi ekstremis dalam Islam, yaitu Wahabisme, ke seluruh dunia. Selama tiga dekade terakhir, Arab Saudi telah menghabiskan 4 miliar dolar pertahun untuk masjid, madrasah-madrasah, pengkhotbah, siswa, dan buku buku provokatif untuk menyebarkan Wahabisme. Jangan lupa bahwa 15 dari 19 tersangka pelaku serangan 9/11 adalah warga Saudi, termasuk Osama bin Laden sendiri.

Ketujuh, Kerajaan Arab Saudi dibangun dan bisa berjalan berkat buruh asing, namun lebih dari enam juta pekerja asing hampir tidak memiliki perlindungan hukum. Mereka yang berasal dari negara miskin, banyak yang terpikat untuk bekerja di kerajaan itu dengan harapan palsu dan terpaksa menanggung kondisi kerja dan hidup yang berbahaya. Migran perempuan pembantu rumah tangga tak terhitung jumlahnya yang melaporkan kekerasan fisik, seksual, dan emosional yang luar biasa.

Kedelapan, Arab Saudi mendanai terorisme di seluruh dunia. Sumber Wikileaks membocorkan bahwa pada tahun 2009, sebuah rekaman yang berisi kutipan kementerian Luar Negeri Hillary Clinton mengatakan, “Dana dari Arab Saudi merupakan sumber dana yang paling signifikan untuk kelompok teroris di seluruh dunia … dan semakin meningkat semenjak Arab Saudi menjadi basis tetap dukungan keuangan penting untuk al -Qaeda, Taliban, Lashkar e-Tayyiba dan kelompok teroris lainnya.“ Di Suriah Saudi mendukung pasukan sektarian paling ekstrim dan ribuan prajurit asing yang bergabung dengan mereka. Dan sementara pemerintah Saudi mengutuk ISIS, banyak ahli, termasuk ketua penulis 9/11 Comission Report, Bob Graham, percaya bahwa ISIS adalah produk dari cita-cita Saudi, uang Saudi dan dukungan organisasi Saudi.

Kesembilan, Saudi telah menggunakan aparat militer besar-besaran mereka untuk menyerang negara-negara tetangganya demi meredam pemberontakan demokratis. Pada tahun 2011, militer Saudi (menggunakan tank-tank) menjelajah negara tetangga Bahrain dan secara brutal menghancurkan gerakan pro-demokrasi bangsa itu. Pada 2015, Saudi melakukan campur tangan dalam konflik internal di Yaman, dengan serangkaian kampanye bom mengerikan (menggunakan amunisi cluster buatan Amerika dan jet tempur F-15) yang telah menewaskan dan melukai ribuan warga sipil. Konflik tersebut telah menciptakan krisis kemanusiaan yang sangat parah hingga mempengaruhi 80 persen dari orang-orang Yaman.

Kesepuluh, Saudi mendukung kudeta di Mesir yang menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memenjarakan 40.000 lebih pembangkang politik ke penjara.
—-

Artikel ini dimuat di Counterpunch, disalin dari akun facebook Hadi Joban.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL