bolt/gettyimage

bolt/gettyimage

Beijing, LiputanIslam.com – Ketika Usain Bolt menyondongkan kepalanya sesaat sebelum finis, ketika itulah dia menyelamatkan dirinya sendiri dari sorotan-sorotan yang belakangan mengikuti dan dari rival yang terus merongrongnya.

Bolt, 29 tahun, hidup di atas reputasinya sebagai manusia tercepat di dunia. Reputasi yang ia dapatkan setelah menorehkan catatan waktu 9,58 detik dan 19,19 detik untuk jarak 100 dan 200 meter pada Kejuaraan Dunia 2009, seperti diberitakan detiksport.

Maka, ketika performanya sepanjang 2015 dinilai berada di bawah standar, ia pun mendapatkan sorotan yang tak putus. Terlebih, rivalnya saat ini, Justin Gatlin, sudah 29 perlombaan tidak pernah kalah dan sukses menorehkan waktu tercepat di 100 meter untuk tahun ini, yakni 9,75 detik.

Jadilah perlombaan tadi malam sebagai pertaruhan antara reputasi Bolt dan ujiannya untuk mengalahkan Gatlin. Beberapa pihak menilai, perlombaan tersebut sebagai pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, mengingat Gatlin sempat dua kali tersandung kasus doping.

Tapi, Bolt membantah itu semua. Meski banyak pihak menilai dia bakal tertekan, pria asal Jamaika itu menyebut dirinya amat rileks.

“Tujuan utamaku memang jadi yang nomor satu sampai aku pensiun dan aku berusaha sebaik mungkin,” ujarnya seusai perlombaan, menyiratkan dirinya masih punya keyakinan besar di dalam dirinya sendiri.

Tepat ketika dirinya menyondongkan kepalanya sebelum mencapai garis finis, Bolt akhirnya menegaskan bahwa dia belum habis –setidaknya untuk saat ini.

“Dia telah menyelamatkan gelar juaranya, menyelamatkan reputasinya sendiri –dan mungkin menyelamatkan olahraga yang ia geluti ini,” seru komentator BBC yang juga mantan juara dunia, Steve Cram.

Usaha Bolt untuk tetap berada di depan belum selesai. Di tengah kecepatannya yang dinilai sudah menurun, generasi baru sudah muncul pada diri Trayvon Bromell (20) dan Andre De Grasse (20). Keduanya siap menyalip Bolt kapan pun.

Selisih Bolt dengan Gatlin tadi malam pun hanya 0,01 detik. The Wall Street Journal dengan jeli menjabarkan bagaimana selisih waktu Bolt dengan pelari yang dikalahkannya semakin tipis.

Jika pada 2008 dan 2009, ketika dirinya meraih emas di Olimpiade Beijing dan menjadi pemenang di Kejuaraan Dunia, ia bisa meninggalkan lawannya hingga 0,20 dan 0,13 detik, maka sejak 2012 selisih itu terus terpangkas. Pada 2012, ketika mendapatkan emas di Olimpiade, Bolt hanya unggul 0,12 detik. Sementara pada Kejuaraan Dunia 2013, ia hanya unggul 0,08 detik.

Tak heran jika usaha Bolt untuk mempertahankan reputasinya sebagai seorang juara dan manusia tercepat di dunia, kian hari kian sulit. Tapi, untuk saat ini, bolehlah Bolt tersenyum lega melihat kilatan di dirinya belum sirna.

“Dia memang tidak berada dalam kondisi 100% untuk kejuaraan kali ini, tapi Usain Bolt menang lagi. Ini menunjukkan bahwa seorang legenda kadang melewati batas fisiknya; dalam beberapa kesempatan bahkan melewati batas logika,” tulis gelandang Manchester United –klub yang digilai Bolt–, Juan Mata, pada blog pribadinya.

Senada dengan Mata, penyerang Manchester City, Sergio ‘Kun’ Aguero, juga menyuarakan kekagumannya pada Bolt. “Kaulah orangnya, Usain Bolt! Selamat, kawan!” tulis Aguero di akun Twitter pribadinya, tak lama setelah Bolt melintasi garis finis. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL