Qatar-2022Doha, LiputanIslam.com –Kegalauan masih menyelimuti penyelenggaraan Piala Dunia 2022 yang rencananya akan digelar di Qatar. Selepas melewati isu tak sedap penyuapan dalam proses penentuan tuan rumah PD 2022, Qatar hingga kini masih belum bisa meyakinkan negara-negara dunia terkait kemampuannya dalam menyelenggarakan even besar tersebut ketika dikaitkan dengan masalah cuaca.

Sebelum ini, sempat ramai opsi untuk menggeser waktu gelaran ke musim dingin. Kini, ada opsi lain yang muncul, yaitu laga di malam hari, bahkan tengah malam.

Jika ini yang terjadi, tentu akan menjadi preseden baru bagi dunia olahraga. Belum pernah ada sebelumnya even olahraga yang digelar secara resmi hingga menembus waktu tengah malam. Tentu tujuan olahraga sebagai sarana menyehatkan tubuh tidak akan terlihat dalam kebijakan ini, andai betul-betul dilaksanakan. Malam hari, apalagi tengah malam, adalah waktu untuk beristirahat untuk tubuh. Menggenjot fisik di waktu-waktu itu adalah tindakan yang sangat buruk kesehatan.

Tapi, bagi penyelenggara, hal ini sepertinya tidak menjadi masalah. Tokh sisi bisnis dan entertainment sepakbola sudah jauh lebih menonjol ketimbang sisi kesehatannya. Karenanya, kebijakan apapun akan diambil demi menyelamatkan bisnis yang sangat menggiurkan ini.

Seperti dilansir detik.com, ancaman suhu tinggi memang menjadi problem utama Piala Dunia 2022. Sebagaimana diketahui, ajang empat tahunan itu selalu digelar di musim panas, saat kompetisi liga-liga di Eropa sudah berakhir. Hal ini karena mayoritas peserta Piala Dunia adalah negara-negara Eropa.

Namun menjadi masalah ketika Qatar memenangi hak untuk menggelar Piala Dunia 2022. Negeri ini punya suhu tinggi, apalagi di musim panas. Pada bulan Juni-Juli, bulan-bulan di mana biasanya Piala Dunia digelar, temperatur udaranya rata-rata bisa mencapai di atas 40 derajat celcius, bahkan kemungkinan menyentuh 50 derajat.

Suhu tinggi jelas membuat para pemain bakal kepayahan menunjukkan penampilan terbaik, sementara penonton juga bakal kurang nyaman menyaksikan pertandingan.

Pihak Qatar sendiri sudah menjanjikan stadion-stadion berteknologi canggih untuk mengatasi suhu tinggi, namun solusi ini masih dianggap kurang memuaskan. Opsi berikutnya adalah menggeser waktu turnamen tersebut ke musim dingin antara Desember-Februari. Tapi opsi ini bakal membuat liga-liga di Eropa mengubah jadwal.

Di tengah berbagai keberatan atas opsi-opsi tersebut, muncul opsi lainnya, yakni menggelar pertandingan di malam hari.

“Meskipun masih tetap akan panas, tapi tidak akan terlalu menyiksa,” kata Pengurus Sepakbola Chile Harold Mayne-Nicholls kepada DPA.

Harold mengakui sebelumnya ada dua opsi. Tapi mempertimbangkan berbagai aspek, opsi menggelar pertandingan di malam hari atau tengah malam dinilai lebih mudah ketimbang menggeser jadwal ke musim dingin.

“Satu, menggelar Piala Dunia di musim dingin, yang mana akan merepotkan liga-liga Eropa. Opsi lainnya adalah bermain di bulan Mei dan Juni, ketimbang Juni dan Juli, dan menggelar pertandingan lebih lambat. Katakanlah pada malam jam 19.00, 21.30, dan tengah malam, atau bahkan lebih lambat,” lanjutnya.

“Itu akan sedikit membantu dan lebih mudah daripada mengubah seluruh liga Eropa,” demikian pria yang memimpin tim evaluasi untuk tender Qatar itu seperti dilansir AS. (by)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL