antvJakarta, LiputanIslam.com, –Bisnis siaran langsung sepakbola selama ini dikenal sangat menguntungkan. Untuk itulah, para pemilik televisi berlomba-lomba untuk mendapatkan hak siar dari. Begitu kerasnya persaingan bisnis di bidang ini, dan begitu derasnya uang yang beredar, sampai-sampai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun sempat menjerat pejabat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang divonis melakukan korupsi di bidang bisnis siaran sepakbola ini.

Kita masih ingat, bagaimana Muhammad Iqbal, salah seorang pejabat KPPU tertangkap tangan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah menerima satu tas berisi uang Rp 500 juta dari eksekutif Grup Lippo Billy Sindoro. Pemberian uang tersebut dinyatakan sebagaioleh pengadilan merupakan balas budi Billy terkait putusan KPPU dalam sengketa monopoli siaran Liga Inggris.

Sangat besarnya keuntungan di bidang siaran sepakbola inilah yang membuat PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) begitu berkeras untuk mendapatkan hak siar Piala Dunia 2014. Tentunya perusahaan yang menaungi ANTV dan TV One itu sudah punya perhitungan bisnis sendiri. Tapi, mari kita lihat hitung-hitungan lain dengan sudut pandang yang agak berbeda.

Sumber-sumber menyatakan bahwa untuk membeli hak siar Piala Dunia 2014, perusahaan yang dimiliki keluarga Bakrie itu pada tahun 2012 lalu mengeluarkan dana hingga setengah trilyun rupiah, tepatnya Rp 553 milyar. Viva grup berharap dipegangnya hak siar Piala Dunia ini bisa menghasilkan keuntungan yang berlipat mengingat animo masyarakat terhadap siaran sepakbola, apalagi sekelas Piala Dunia sangatlah besar.

Bahkan demi mengejar keuntungan yang berlipat di Piala Dunia 2014 nanti, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) tidak membagikan deviden untuk tahun buku sebelumnya (tahun 2011). Keputusan tersebut diambil dikarenakan perseroan akan menggunakan laba bersih 2011 sebagai modal kerja.

Selain tidak membagikan deviden, VIVA Grup diberitakan juga menjaminkan seluruh asetnya untuk menambah biaya modal, karena hampir seluruh biaya modalnya tergerus untuk menutupi biaya pembelian hak siar Piala Dunia. Dengan keberhasilan VIVA memegang haksiar Piala Dunia tersebut, perusahaan menargetkan bisa meraih pendapatan hingga Rp 1 triliun khusus dari program tersebut. Pendapatan itu tak hanya dari hak siaran televisi saja, melainkan juga kerja sama lain.

Tapi, perhatikan beberapa faktor di bawah ini. Bisa jadi VIVA Group akan gigit jari, dalam artian bahwa keuntungan yang diharapkan malah akan melayang. Justru kerugian yang akan didapat.
Pertama, Piala Dunia 2014 diadakan di Brazil, yang terletak di Benua Amerika. Selisih waktu Brazil dengan Indonesia adalah 11 jam lebih lambat. Jadwal yang disusun menunjukkan bahwa berbagai pertandingan akan digelar dan disiarkan jam 23:00, jam 03:00, dan jam 05:00 WIB (itu juga berarti jam 01:00, jam 05:00, dan jam 07:00 WIT).

Dengan jadwal siaran tersebut, mungkinkah ada yang mau mengadakan acara nonton bareng (nobar) pada jam-jam tersebut? Apalagi jika pertandingan diadakan di hari kerja. Padahal, acara nobar adalah andalan utama televisi dalam mengail iklan. Prediksi rendahnya minat pemirsa ini pasti akan berpengaruh terhadap rating acara, dan ini secara langsung akan mempengaruhi minat pemasang iklan.

Masalah kedua, terkait dengan fakta bahwa babak-babak paling seru, yaitu perdelapan final hingga partai puncak final berlangsung di bulan suci Ramadhan. Kebiasaan orang Indonesia, di bulan Ramadhan adalah tidur kembali selepas salat Subuh, supaya bisa menghemat kebugaran, karena sudah bangun sejak jam 3 untuk makan sahur. Maka, sudah bisa diperkirakan bahwa jumlah pemirsa akan berkurang. Ini sekali lagi akan mengurangi minat pemsang iklan.

Masalah ketiga terkait dengan iklan produsen rokok. Selama ini kita tahu, produsen rokoklah yang sangat getol mensponsori kegiatan-kegiatan olahraga, khususnya sepakbola. Dari sisi lain, kita juga tahu bahwa dengan alasan-alasan tertentu, pemerintah membatasi jam tayang iklan rokok, apapun bentuknya. Iklan rokok hanya diperbolehkan tayang mulai pukul 21:00 hingga 05:00 pagi.

Jika produsen rokok membatasi iklannya hanya untuk pertandingan-pertandingan tertentu (yang ditayangkan sampai jam 05:00), bisa diperkirakan betapa akan sangat minimnya pendapatan televisi.

Ini semua tentu saja hanya hitung-hitungan di atas kertas. Kita semua tidak tahu bagaimana kenyataannya nanti. Apalagi yang disiarkan adalah sepakbola. Hasil pertandingannya saja sering kali meleset dari prediksi pengamat. Untung-rugi dari bisnis siarannya pun bisa jadi akan menampilkan kejutan. (by dari berbagai sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL