aljazairAlgiers, LiputanIslam.com, — Keberhasilan Timnas Aljazair lolos ke babak perdelapan final Piala Dunia Brasil disambut dengan rasa bangga rakyat Muslim negara itu. FIFA melaporkan, sesaat setelah turun dari pesawat, skuat Aljazair disambut langsung oleh Perdana Menteri Abdelmalek Sellal di Bandara Mohamed Boudiaf.

Selain itu, tim asuhan Vahid Halilhodzic juga disambut oleh ribuan warga yang memadati jalan dari bandara hingga markas tim. Para pendukung juga menyanyikan chants serta memuji para pilar Aljazair.

“Allahu akbar, Halilhodzic!” begitulah bunyi seruan para pendukung Aljazair seperti yang dilansir situs resmi FIFA. Semua orang bersorak gembira pada siang hari di tengah puasa bulan Ramadhan.

Bahkan stasiun televisi nasional Aljazair membuat acara spesial menyambut kedatangan Saphir Taider dkk. Mereka menamai acara tersebut dengan “Terima kasih, Pahlawan”.

Aljazair melaju ke babak 16 besar setelah tampil sebagai runner-up Grup H. Di grup ini, Aljazair sama sekali tidak diunggulkan untuk bisa melaju ke babak selanjutnya. Belgia dan Rusia adalah dua tim unggulan. Belgia dihuni generasi emas semisal Eden Hazard, Marouane Fellaini, Romero Lukaku, dan Kapten Manchester City, Vincent Kompany. Sedangkan Rusia ditangani pelatih bertahan dingin Fabio Capello.

Seandainyapun ada alternatif unggulan, para pengamat menunjuk tim Korea Selatan. Negeri Ginseng ini pada perhelatan Piala Dunia 2010 lalu juga lolos ke babak 16 besar. Bahkan Korea berhasil masuk semifinal Piala Dunia 2001. Sementara itu, Aljazair bisa disebut tim “anak bawang”. Mereka tak pernah lolos dari babak grup.

Tim berjulukan “Rubah Gurun” itu sudah mencicipi tiga Piala Dunia. Di Spanyol 1982 mereka bahkan berhasil mengalahkan Jerman Barat 2-1 di partai perdananya. Merka terelininasi di fase grup hanya karena kalah selisih gol. Pengamat meyakini, kegagalan itu akibat adanya “main mata” antara Austria dan Jerman.

Empat tahun kemudian Aljazair kembali berpartisipasi di Piala Dunia (di Meksiko). Dan lagi-lagi mereka tersingkir di babak pertama, menjadi tim terbawah di antara Brasil, Spanyol, dan Irlandia Utara.

Setelah gagal mengikuti lima edisi Piala Dunia berikutnya, Aljazair akhirnya kembali tampil di turnamen tersebut pada 2010 di Afrika Selatan. Hanya saja pencapaian mereka buruk: hanya dapat satu poin dari tiga pertandingan, dan tidak mencetak gol pula.

Dengan prestasi yang bisa dibilang minim dibandingkan para kontestan Piala Dunia lainnya, sangat wajar jika tim ini dipandang sebelah mata. Tapi, fakta bicara lain. Mereka memang kalah dari Belgia. Tapi, mereka kemudian menggebuk Korea, dan menahan imbang Rusia. Status runner up pun mereka genggam untuk kemudian melenggang ke babak berikutnya, untuk pertama kali dalam sejarah.

Di babak 16 besar, mereka menghadapi salah satu favorit juara, Jerman.Laga melawan Jerman itu akan selalu diingat sebagai laga di mana kiper mereka, Rais M’bolhi, tampil impresif dengan menggagalkan berbagai peluang Der Panzer.

Aljazair memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak extra time.Di babak itu, gawang Aljazair kebobolan lewat dua gol lewat Andre Schuerrle (yang berbau keberuntungan) dan Mesut Oezil. Aljazair sendiri hanya mampu membalas lewat Abdelmoumene Djabou. (by)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL