Asian_Football_Confederation1Rio de Janeiro, LiputanIslam.com, –Perhelatan Piala Dunia selama ini hanya menjadi ajang pertarungan negara-negara dari Benua Amerika dan Eropa. Sejarah mencatat, dari 19 kali perhelatan Piala Dunia, hanya 8 negara yang pernah menjadi juara: Brasil (5 kali), Italia (4), Jerman (3), Argentina (2), Uruguay (2), Inggris, Prancis, dan Spanyol.

Brasil, Argentina, dan Uruguay mewakili Benua Amerika menjadi kampiun sepakbola sejagad. Sementara itu Benua Biru Eropa diwakili oleh Italia, Jerman, Inggris, Prancis, dan Spanyol.

Negara-negara Afrika dalam beberapa edisi Piala Dunia terakhir ini menunjukkan prestasi yang luar biasa. Beberapa wakil mereka sampai di babak delapan besar alias perempat-final. Bagaimana dengan Asia? Dibanding negara-negara Afrika, prestasi tim-tim Asia di Piala Dunia sebenarnya tidak lebih buruk.

Lebih Dulu Berpartisipasi Dibanding Afrika

Afrika baru ikut perhelatan Piala Dunia 1970 diwakili oleh Maroko. Sementara itu, Asia sudah menjalani debutnya Piala Dunia di Prancis 1938. Indonesia, yang ketika itu masih jadi negara jajahan Belanda dan memakai nama Dutch East Indies, tercatat menjadi negara Asia pertama yang lolos ke hajatan sepakbola paling akbar tersebut.

Lolosnya Indonesia ke Piala Dunia sejatinya lebih karena faktor keberuntungan. Karena terlibat perang Asia Timur di 1937, Jepang mengundurkan diri dari Piala Dunia. Timnas Indonesia pun langsung lolos ke babak final Piala Dunia di Prancis 1938, tanpa harus melewati babak kualifikasi.

Sebagaimana sejarah kemudian tertulis, Indonesia langsung berhadapan dengan Hongaria, tim yang belakangan menjadi finalis di edisi tersebut. Indonesia yang dilatih Johan Mastenbroek kalah telak dalam laga yang digelar Velodrome Municipal, Reims. Kebobolan empat gol di babak pertama, Indonesia kembali digelontor dua kali di 45 menit kedua. Indonesia tunduk 0-6.

Karena ketika itu Piala Dunia menggunakan sistem gugur sejak pertandingan pertama, Indonesia pun langsung angkat koper. FIFA pun mencatat Indonesia sebagai negara yang pernah lolos ke putaran final namun punya jumlah pertandingan paling sedikit.

Di tahun 1950 Asia kembali absen di Piala Dunia. Baru empat tahun kemudian ada lagi wakil Benua Kuning, yang kali ini memunculkan Korea Selatan. Sama seperti Indonesia, Korsel juga jadi bulan-bulanan di Swiss ketika itu. Skuat besutan Kim Yong-Sik digilas Hongaria 0-9 dan dihajar Turki 0-7.

Di Swedia 1958 dan Chile 1962 kembali tidak ada wakil Asia tampil. Namun mulai 1966, Asia mulai jadi langganan di turnamen tersebut. Ketika itu, di Inggris, Korea Utara malah memcatat hasil yang luar biasa karena bisa menembus babak perempatfinal. Sebelum akhirnya kalah 3-5 dari Portugal, Korut juga kalah dari Uni Soviet (0-3), berimbang dengan Chile (1-1) dan menjungkalkan Italia (1-0).

Terkait ketiadaan negara Asia di Piala Dunia 1950, 1958 dan 1962, ada beberapa alasan yang mendasari. Selain masalah ekonomi, beberapa tim memutuskan mengundurkan diri dari babak kualifikasi karena alasan politis.

Sampai Piala Dunia 2010 lalu, total baru 12 negara Asia yang pernah berpartisipasi di Piala Dunia. Daftar tersebut termasuk Israel (yang kini masuk zona Eropa), Indonesia (yang ketika itu bernama Dutch East Indies), serta Australia yang sempat tampil di zona Oceania.

Pernah Sampai Semifinal

Negara-negara Afrika mulai disebut-sebut sebagai tim kuda hitam dalam beberapa edisi final Piala Dunia terakhir. Selain karena para banyak pemainnya yang berprestasi di tingkat klub, prestasi mereka juga cukup mengejutkan.

Di tahun 2002, Senegal mampu menerobos kepungan para raksasa Eropa dan Amerika hingga ke babak delapan besar. Di tahun 2010, giliran Ghana yang menunjukkan kekuatan menakutkan dengan menjejakkan kakinya di fase delapan besar dunia.

Tapi, sejatinya, prestasi Asia juga tak kalah mentereng. Adalah Korea Selatan yang membuat mata dunia terbelalak. Pada 2002, saat menjadi tuan rumah bersama Jepang, Korea Selatan berhasil melangkah sampai babak semifinal. Langkah skuat besutan Guus Hiddink ketika itu dihentikan Jerman dengan skor 0-1.

Menakar Peluang

Untuk edisi tahun ini, Asia diwakili empat negara, yaitu Australia, Iran, Jepang, dan Korea. Australia jatuh dalam grup “neraka”. Tim berjuluk “The Socceroos” ini mesti menghadapi duo finalis Piala Dunia 2010: Spanyol dan Belanda. Juga Cile, yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Jika berkat keajaiban Australia berhasil lolos dari Grup B itu, Socceroos kemungkinan besar mesti menghadapi Brasil dalam putaran berikutnya. Tentu saja bisa dibayangkan, betapa sangat sulitnya peluang Australia untuk berkiprah lebih jauh.

Sedangkan Iran berada dalam Grup F. Lawan terberatnya adalah Argentina. Dua kesebelasan lain dalam Grup F adalah Nigeria dan Bosnia-Herzegovina. Memang tak seberapa menakutkan jika dibandingkan Messi dan kawan-kawan.

Tetapi tetap saja, kedua negara itu di atas kerta lebih kuat dibandingkan Tim Melli (julukan Iran). Peringkat dunia kedua negara itu saat ini juga di atas Iran. Iran berada pada peringkat ke-45 FIFA (terbaik di antara negara-negara Asia lainnya). Sementara itu Nigeria berada pada posisi ke-36, dan Bosnia-Herzegovina menempati peringkat ke-21.

Taruhlah Iran berhasil lolos ke babak perdelapan-final (enam belas besar). Lawan yang akan dihadapi ada di grup E. Di sana bercokol Prancis, Swiss, Honduras, serta Ekuador. Rasanya, sangat berat bagi Negeri Muslim ini ini untuk bisa melaju lebih jauh.

Jepang terperangkap dalam grup yang cukup sulit. Berada di Grup C, Jepang mesti berhadapan dengan Kolombia, Yunani, dan Pantai Gading. Kolombia menempati posisi keempat FIFA. Yunani adalah kuda hitam. Negara ini pernah menjadi juara Piala Eropa tahun 2004. Sedangan Pantai Gading diyakini banyak pihak akan menjadi negara Afrika yang paling berprestasi.

Korea Selatan (Korsel) berada dalam Grup F bersama Belgia, Rusia, serta Aljazair. Belgia menjadi bahaya terbesar di sini. Lihat saja generasi emas pemain berbakat seperti Eden Hazard, Romelu Lukaku, serta Vincent Kompany. Semuanya bermain di Liga Primer Inggris.

Rusia saat ini dilatih pelatih bertangan dingin Fabio Capello. Negara ini terkenal dengan kedisiplinan pemainnya. Sedangkan Aljazair dipenuhi oleh talenta-talenta dengan cita rasa Prancis yang sangat kental. Banyak dari mereka yang lahir dan besar di Prancis.

Peluang Asia memang berat. Tapi pepatah mengatakan bahwa bola itu bundar, bisa menggelinding ke mana saja. Hasil akhir pertandingan juga bisa bergulir ke manapun mengikuti suratan takdir. (by/dari berbagai sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL