amerika-iranRio de Janeiro, LiputanIslam.com, –Olahraga memang bukan politik. Betapa sering pula kita mendengar atau membaca pernyataan para pegiat olahraga yang menekankan pentingnya menjauhkan politik dari olahraga. Akan tetapi, tetap saja kita menyaksikan bagaimana hal-hal politis sering mewarnai even olahraga. Politik bahkan sering menjadi daya tarik olahraga.

Pada perhelatan Piala Dunia 1998 di Perancis, hampir semua penggemar sepakbola sepakat bahwa tak ada yang istimewa secara teknis dari duel antara Iran dengan Amerika Serikat. Gol Hamid Estili yang menyundul bola dari jarak belasan meter memang cantik. Begitu juga saat gelandang Mehdi Mahdavikia melesat bak anak panah dari lapangan tengah untuk akhirnya mencetak gol kedua bagi Iran. Tapi hanya itu.

Soal teknik dan strategi, partai yang disebut paling menarik tiada lain adalah duel Brasil dan Perancis di laga final. Lalau kalau soal prestasi individu, siapa yang bisa mengungguli maestro Zinedine Zidane?

Tapi, tetap saja, Iran versus Amerika dianggap yang paling menarik dan sangat menyedot perhatian dunia. Saat Iran dan Amerika Serikat harus berbagi tempat di Grup F Piala Dunia 1998, seluruh dunia langsung mengantisipasi duel tersebut. Sejarah hubungan politik AS dan Iran lah yang menjadi pemicunya.

Sejak Revolusi Iran di tahun 1979, hubungan diplomatis kedua negara sudah putus. Dalam beberapa moment relasi keduanya bahkan memburuk. AS berkali-kali mengancam akan menyerang Iran. Sedangkan di Iran sendiri, kegeraman atas kecongkakan AS seakan menjadi menu harian warga dan pemerintah.

Pihak keamanan Prancis saat itu dikabarkan melakukan persiapan ekstra menjelang laga tersebut. Petugas keamanan yang berjaga di sekitar Lyon, tempat duel kedua timnas, diperbanyak. Termasuk di dalam stadion di mana sempat diperkirakan akan ada aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok suporter Iran.

Muncul kabar, sebuah organisasi teroris memperoleh tujuh ribu tiket pertandingan AS vs Iran yang berlangsung di Stade Gerland, Lyon. Polisi anti huru hara dalam jumlah lebih dari biasanya turut disiapkan di dalam stadion untuk menghindari serangan massa yang menyerbu lepangan.

Kekhawatiran-kekhawatiran akan pecahnya keributan tidak terbukti. Pun begitu di atas lapangan, laga berjalan sengit namun tetap dalam batasan sportivitas. Sebelum kick off, tim Iran dan AS menunjukkan semangat olahraga yang penuh fair play sekaligus menegaskan kepada khalayak ramai bahwa sepakbola itu di luar hal-hal berbau politik.

iran_usa2Kedua tim bahkan menunjukkan sikap besahabat. Pemain Iran menunjukkan sikap simpatik dengan membawa seikat bunga mawar putih lambang perdamaian yang diberikan pada pemain AS. Kedua tim juga melewati sesi foto bersama dengan saling bergandeng dan berangkulan. Para petinggi Iran menegaskan bahwa Iran tak pernah memusuhi rakyat Amerika. Yang mereka persoalkan adalah para politisi Gedung Putih

Tim Iran di tahun 1998 dipenuhi oleh para pemain bintang. Sebut saja, penyerang Arminia Bielefeld Ali Daei yang setelah turnamen pindah ke Bayern Muenchen. Ali Daei tercatat sudah mencetak 109 gol timnas di akhir masa karirnya. Nama-nama bintang lainnya adalah gelandang Mehdi Mahdavikia, Khodadad Azizi, dan Karim Bagheri.

Sementara tim Amerika Serikat pada tahun 1998 diperkuat para pemain yang masih minim pengalaman di sepakbola dunia. Nama-nama tenar kala itu adalah striker Brian McBride, gelandang Claudia Reyna, bek Frankie Hejduk dan kiper Kasey Keller.

Iran membuka skor lima menit sebelum babak pertama usai. Umpan crossing dari Javad Zarincheh disambut sundulan Hamid Estili, pemain klub Bahman. Pada menit ke-84, Mahdavikia mencetak gol kedua Iran setelah menerima umpan terobosan dari Ali Daei. Mahdavikia berlari mengejar bola dan lolos dari jebakan offside AS. Penyerang Brian McBride memperkecil skor menjadi 2-1 tiga menit sebelum pertandingan berakhir.

Meskipun menang atas AS, Iran akhirnya gagal ke babak kedua, karena kalah bersaing dengan Jerman dan Yugoslavia yang masing-masing keluar sebagai juara dan runner up grup.

Peluang Partai Ulang

Pada perhelatan tahun ini, kedua tim sudah memastikan lolos ke Brasil. Tapi keduanya berada di grup yang berlainan. Iran berada di grup F bersama favorit Argentina, kuda hitam Bosnia-Herzegovina, dan jagoan Afrika Nigeria. Sementara itu, AS bergabung dengan Jerman, Portugal, dan Ghana di Grup G. Bagaimana peluang bagi keduanya untuk kemudian saling bertemu?

Melihat lawan-lawan mereka di grup masing-masing, kebanyakan pengamat melihat sangat kecil keduanya untuk saling bertemu lagi dan menciptakan kembali sensasi. Hanya saja, seperti kata pepatah, bola itu bundar. Dia bisa menggelinding ke arah mana saja. Begitu juga dengan hasil pertandingan. Segalanya tetap mungkin.

Sekecil apapun, mari kita lihat peluang tersebut. Tapi, harus diingat bahwa peluang bertemu hanya akan terjadi kalau kedua-duanya lolos ke babak selanjutnya, baik sebagai juara atau runner up.

skemaSkenario pertama, jika keduanya sama-sama menjadi juara grup atau sama-sama runner up, maka pertemuan mereka hanya akan terjadi di partai final. Tentu saja dengan syarat, mereka bisa melibas semua lawan di babak perdelapan, perempat, dan semi final.

Skenario kedua, jika Iran menjadi juara grup F, dan AS runner up grup G, maka keduanya berpeluang bentrok di babak perempat final. Syaratnya, di babak perdelapan final, Iran bisa mengalahkan runner up grup E (unggulan kedua grup E adalah Swis), dan AS melewati juara grup H (unggulannya adalah Belgia).

Jika Iran menjadi runner up grup, dan AS juara grup, maka keduanya juga bisa bertemu di perempat final. Syaratnya, Iran harus menundukkan juara grup E (unggulannya adalah Perancis), sedangkan AS harus melibas runner up grup H (unggulan kedua grup ini adalah Rusia).

Mungkinkah itu akan terjadi? (by/dari berbagai sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL