UEFA Champions League and UEFA Europa League 1st and 2nd Qualifying Rounds DrawNyon, LiputanIslam.com –Krisis Gaza ternyata merembet ke dunia sepakbola. Konflik yang kini sedang melanda kawasan, menyebabkan klub-klub yang berasal dari Israel dilarang menggelar pertandingan antar klub Eropa musim 2014/15. Keputusan tersebut dikeluarkan oleh organisasi sepakbola Eropa (UEFA) dalam sidang Panel Darurat UEFA yang berlangsung 16 Juli.

Akibatnya, klub-klub Israel harus mengajukan venue (tempat pertandingan) alternatif di luar wilayah negaranya apabila ingin menggelar pertandingan kandang di Liga Champions dan Europa League musim ini. Demikian yang dilansir dari situs resmi UEFA.

Saat ini, ada satu klub asal Israel yang tengah berlaga di kualifikasi Liga Champions, yaitu Maccabi Tel Aviv. Selain itu, ada dua klub yang menjalani kualifikasi Liga Europa, yakni Hapoel Tel Aviv dan Hapoel Be’er Sheva.

Maccabi Tel Aviv dijadwalkan akan menggelar laga kandang pada leg kedua babak kedua kualifikasi Liga Champions melawan FC Santa Coloma pada Rabu (23/7/2014) dinihari. Sedangkan Hapoel Tel Aviv menjamu Astana dari Kazakhstan pada leg kedua babak kedua kualifikasi Liga Europa pada Kamis (24/7/2014) dinihari WIB. Hapoel Be’er Sheva berkesempatan menggelar partai kandang pada leg kedua babak kedua kualifikasi Liga Europa melawan tim asal Kroasia, NK Split pada Kamis (24/7/2014).

Sejarah Sepakbola Israel

racismSecara geografis, Israel sebenarnya masuk ke kawasan Asia. Israel masih bergabung dengan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) sampai tahun 1970, sebelum pindah ke Federasi Sepakbola Eropa (UEFA). Alasan kepindangan tersebut tidak lain karena masalah politik.

Israel dimusuhi sebagian besar negara-negara Asia, hingga dalam beberapa even kejuaraan, seringkali kali sebuah negara memilih untuk tidak bertanding (WO) ketika harus menghadpai Israel. Sikap itu adalah bentuk boikot atas Israel dan solidaritas atas perjuangan bangsa Palestina.

Bahkan Indonesia saat menjadi tuan rumah Asian Games IV 1962 sama sekali tidak mengundang Israel. Akibatnya, Indonesia mendapat sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC), tidak boleh mengikuti Olimpiade Tokyo 1964.

Gerah dengan situasi seperti itu, Israel mengajukan diri untuk berpindah status dan menjadi anggota UEFA. Dengan demikian, sejak tahun 1970, timnas Israel dan juga klub-klubnya selalu bertanding dengan status sebagai negara Eropa.

Boikot di Ajang Olimpiade

Untuk urusan sepakbola, masalah Israel memang relatif selesai. Akan tetapi, tetap saja, banyak sekali event lain yang masih membuat Israel gerah. Di ajang Olimpiade yang mempertandingkan seluruh atlet dari berbagai belahan dunia, kasus WO dan enggan bertanding itu sangat sering terjadi.

Arsh Miresmaili, Juara Dunia 2003, dengan syal Al-Quds dan tangan memegang Al-Quran,

Arsh Miresmaili, Juara Dunia 2003, dengan syal Al-Quds dan tangan memegang Al-Quran,

Arash Miresmaili, pejudo asal Iran, memilih tidak bertanding melawan pejudo asal Israel, Ehud Vaks pada laga Olimpiade Athena 2004. Padahal Miresmaili adalah unggulan pertama peraih medali emas di kelas terbang (66 kilogram). Dia datang ke Yunani dengan status sebagai Juara Dunia Judo Kelas 66 kilogram 2003 Osaka. Dua tahun sebelumnya, tahun 2001 di Munich, ia juga menyabet medali emas ajang kejuaraan yang sama.

“Saya telah berlatih berbulan-bulan, dan kini dalam kondisi sangat fit. Tapi saya tidak menyesal dengan pilihan untuk tidak bertanding ini. Ini adalah masalah solidaritas dengan saudara-saudara kami yang tertindas di Palestina,” kata Arash.

Atas sikapnya ini, Komite Olimpiade Iran memberinya bonus sebesar 115.000 dolar. “Arash harus diberi penghargaan khusus layaknya peraih medali emas,” kata Muhammad Derakhsan, Ketua Federasi Judo Iran.

Sebelumnya, dalam Kejuaraan Judo Dunia 2001, pejudo Iran Mahed Malek Mohammadi, menolak bertanding dengan pejudo Israel, Yoel Razvozov. Dalam kejuaraan yang sama, juara Asia Masoud Haji Akhoundzade (juga asal Iran), membatalkan pertandingan dengan pejudo Israel Zvi Shafran. Alasan Mahed dan Masoud sama seperti Arash.

Sikap seperti ini juga ditunjukkan atlet negara lain di cabang yang berbeda. Pada kejuaraan dunia tenis meja 2003 di Paris, ofisial Israel mengajukan protes, karena petenis asal Yaman dan Arab Saudi menolak bertanding dengan petenis Israel. Kala itu, petenis Yaman Hani Al-Hammadi sudah siap di depan penonton, namun dengan sengaja membatalkan pertandingan melawan Gay Elensky asal Israel. Sehari kemudian, Elensky kembali menang WO karena lawan berikutnya adalah petenis Arab Saudi Nabil Al-Maghawi, yang juga menolak bertanding.

Nabil dan Hani kemudian dilarang bermain selama setahun, namun ia menjadi pahlawan di negerinya – tentu juga di mata rakyat Palestina, karena sikapnya itu. “Tindakanku di Paris adalah benar, dan aku bangga. Sangat wajar bagi warga Arab atau muslim menolak bertanding dengan atlet Israel, sebagai protes terhadap agresi Israel di tanah Palestina,” kata Nabil. (by)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL