maria londa (foto;afp/kompas)

maria londa (foto;afp/kompas)

Incheon, LiputanIslam.com–Kekurangan fisik ternyata bukan halangan untuk meraih prestasi cemerlang di dunia olahraga. Maria Natalia Londa, pelompat jauh Indonesia, yang berhasil meraih emas dalam Asian Games 2014 ternyata memiliki paru-paru kecil dan ukuran kaki yang tidak simetris.

Pelompat jauh kelahiran 29 Oktober 1990 ini memiliki ukuran paru-paru yang lebih kecil dari orang normal. Akibatnya Maria sering pingsan ketika sedang menjalani latihan, terutama yang berkaitan dengan ketahanan. Di tengah latihan, tiba-tiba dia terjatuh dan hilang kesadaran.

Awalnya, hal ini menimbulkan kepanikan atlet lain dan juga pelatihnya, I Ketut Pageh. Namun, pada akhirnya mereka mulai terbiasa. Saat sadar dari pingsan pun, Maria berlaku seperti tidak terjadi apa-apa.

“Dokter sudah mengingatkan supaya saya berhati-hati. Namun, sebelum saya jatuh, sebelum saya pingsan, saya akan ayuk terus untuk latihan,” kata Maria ketika kepada Kompas.com.

Paru-paru kecil ternyata bukanlah satu-satunya cacat yang dimiliki Maria. Sulung tiga bersaudara ini juga memiliki panjang kaki yang tidak sama. Kaki kanan Maria memang sedikit lebih pendek dibanding kaki kirinya.

Ketika ditanya apakah kekurangan tersebut mengganggu performanya saat berlatih atau bertanding, Maria menjawab santai, “Enggak juga. Sama Tuhan dikasihnya begini, jadi disyukuri saja.”

“Ini juga ada bekas operasi di kaki kanan dan kiri,” kata Maria sambil menunjukkan bekas sayatan kecil di atas mata kaki bagian dalam di kedua kakinya. “Waktu itu pembuluh darahnya tersumbat, jadi harus dioperasi.”

Segala kekurangan fisik tersebut tak membuat Maria putus asa. Dengan semangat tinggi dan tak kenal lelah, dia berlatih tanpa pernah mengeluh. Buah kerja kerasnya mulai terlihat ketika dia meraih medali perunggu pada SEA Games 2009 (Laos) di nomor lompat jauh dan lompat jangkit.

Pada SEA Games 2011 (Indonesia) perolehan medali Maria naik menjadi perak di dua nomor tersebut. Lalu, pada SEA Games 2013 (Myanmar), Maria akhirnya meraih emas, juga di kedua nomor tersebut. Maria pun mendapat kepercayaan membela Indonesia di event olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2014, yang berlangsung di Incheon, Korea Selatan.

Dalam SEA Para Games  tahun 2014 di Myanmar, para atlet penyandang ‘cacat’ (difabel) Indonesia pun berhasil membuntikan ketangguhan mereka. Dalam pertandingan yang berlangsung 14-20 Januari 2014, Indonesia merebut status juara umum. Kontingen Indonesia berhasil menyabet  medali emas dalam jumlah yang fantastis, melebihi medali emas yang diraih atlet Indonesia dalam pertandingan ‘normal’ (SEA Games). Kontingen Difabel Indonesia meraih 99 emas, 69 perak, dan 49 perunggu. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL