1938_aJakarta, LiputanIslam.com, –Kalau saja Indonesia merdeka tujuh atau delapan tahun lebih awal, sejarah itu betul-betul jadi milik kita. Indonesia akan tercatat sebagai timnas Asia pertama yang berpartisipasi di putaran final Piala Dunia sepakbola.

Ya, di edisi ketiga Piala Dunia 1938 yang berlangsung di Perancis, ada satu tim peserta yang sebagian anggotanya adalah orang-orang bertubuh pendek, bersawo matang, dan memiliki nama-nama khas kawasan Nusantara. Ada nama Achmad Nawir, Anwar Sutan, Tjaak Pattiwael, Suwarte Soedarmadjie, hingga Hans Taihuttu.

Sayangnya, karena kawasan Nusantara masih dijajah Belanda, mereka tidak bernaung di bawah bendera Indonesia. Kesebelasan inipun diberi nama Hindia Belanda. Indonesia (Hindia Belanda) menjadi salah satu dari enam belas peserta putaran final Piala Dunia 1938. Lima belas lainnya adalah timnas Belanda, Italia, Norwegia, Perancis, Belgia, Brasil, Polandia, Cekoslovakia, Hungaria, Swis, Jerman, Swedia, Austria, Kuba, dan Rumania.

Meskipun demikian, tetap saja sejarah itu menjadi milik anak-anak Nusantara. Di bawah bendera manapun, mereka tetap tercatat sebagai para pemain sepakbola yang ikut di Piala Dunia. Dan mereka berasal dari kawasan Nusantara.

Juga perlu diingat, nama Achmad Nawir pastilah Muslim. Dialah kiper dan kapten tim Indonesia. Kemungkinan besar, Achmad Nawir, Anwar Sutan, dan Suwarte Soedarmadjie adalah Muslim pertama yang tampil di putaran final Piala Dunia.

Sayangnya, Indonesia langsung tersingkir setelah menderita kekalahan dari Hungaria. Meski kebobolan banyak gol, penggawa Indonesia dianggap tampil menjanjikan. Apalagi, tim Hungaria yang dihadapi anak-anak Indonesia itu memang termasuk favorit juara. Hungaria melaju sampai babak final sebelum dikalahkan oleh juara bertahan Italia.

Lolosnya Indonesia ke Piala Dunia sejatinya lebih karena faktor keberuntungan. Karena terlibat perang Asia Timur di 1937, Jepang mengundurkan diri dari Piala Dunia. Timnas Indonesia pun langsung lolos ke babak final Piala Dunia di Prancis 1938, tanpa harus melewati babak kualifikasi. Menurut sumber lainnya, Negeri Matahari Terbit itu tak jadi berangkat karena faktor transportasi.

Untuk memenuhi undangan tersebut, Hindia Belanda membentuk skuat yang terdiri dari perpaduan antara warga lokal suku Jawa, Maluku, warga etnis Tiongkok plus Indo-Belanda. Johannes Christoffel van Mastenbroek (Belanda) ditunjuk untuk menangani tim nasional Hindia Belanda.

Skuat Hindia Belanda diketahui berangkat ke Prancis tanpa mendapat restu dari PSSI yang berdiri pada tahun 1930. Para pemain dan staf kepelatihan diberangkatkan oleh sebuah organisasi bentukan pemerintah kolonial Belanda, Nederlandcshe Indische Voetbal Unie (NIVU). FIFA lebih mengakui NIVU daripada PSSI.

Sekitar 9,000 penonton hadir di Stadion Velodrome Municipal, Reims untuk menyaksikan sebuah pertandingan putaran pertama Piala Dunia 1938 antara Hungaria dan Hindia Belanda. Turnamen ini masih menggunakan sistem gugur. Jadi, yang kalah langsung tersingkir.

Wasit Roger Conrie (asal Prancis) memimpin pertandingan yang digelar pada 5 Juni 1938 itu. Ia didampingi hakim garis Carl Weingartner (Jerman) dan Charles Adolphe Delasalle (Prancis), memimpin dua tim yang masuk ke dalam lapangan hijau.

Tim Hindia Belanda dilaporkan oleh BBC bermain dengan mengenakan kaos oranye berkerah putih, celana pendek selutut berwarna putih dan kaos kaki berwarna biru muda. Sedangkan tim Hungaria memakai kostum serba putih.

Kapten tim Hindia Belanda Achmad Nawir memakai kacamata dalam bermain. “Kapten timnya itu dokter, yang menggunakan kacamata,” ujar wartawan The Times.

Wartawan olahraga Belanda, CJ Goorhoff, berkesempatan meliput pertandingan Hindia Belanda vs Hungaria secara langsung di stadion yang kini berganti nama jadi Stadion Auguste Delaune. Dalam laporannya, seperti dikutip dari BBC, permainan tim Hindia Belanda kurang mampu mengembangkan permainan. Namun di babak kedua, permainan mereka lebih baik

“Mereka bermain terbuka dan berani menyerang,” tulis Goorhoff dalam ulasan pertandingannya.

Bintang Hungaria Gyorgy Sarosi tidak menyangka Hindia Belanda sanggup menandingi timnya. “Pertandingan melawan Hindia Belanda agak berat karena mendapat perlawanan. Banyak kejutan,” kata pencetak dua gol Hungaria ke Hindia Belanda, seperti diungkapkan kembali oleh Goorhoff.

Komentar Sarosi pasca-pertandingan ini memang beralasan. Sebab, rata-rata tinggi badan para pemain Hindia Belanda adalah sekitar 160 cm, sangat berbeda dengan badan skuat Hungaria yang memiliki postur tinggi besar.

Alhasil, Hindia Belanda harus menerima kekalahan telak 0-6 dari Hungaria. Hindia Belanda tersingkir, Hungaria melenggang ke babak berikutnya, bahkan sampai babak final setelah mengalahkan Swiss 2-0 di perempatfinal dan Swedia 5-1 di semifinal. Italia kemudian tampil sebagai kampiun selepas menghajar Hungaria 4-2.

Di Mana Mereka?

Usai dikalahkan Hungaria, mereka kembali ke Belanda, dan menggelar laga persahabatan dengan timnas Belanda di Stadion Olimpiade, Amsterdam, pada 26 Juni 1938. Hasilnya? 9-2 untuk timnas Belanda!

Akhirnya, setelah tiga bulan berada di Eropa, mereka melakukan perjalanan pulang pada 1 Juli, dalam perjalanan selama tiga pekan, sebelum akhirnya berlabuh kembali di Tanjung Priok.

Setelah ‘pesta’ Piala Dunia 1938 berakhir, kemana pergi para pemain itu? Tidak ada catatan yang menunjukkan kiprah mereka selanjutnya, utamanya ketika Belanda harus angkat kaki ketika Indonesia merdeka.

“Tidak jelas kemana mereka,” demikian laporan situs yang dikelola di Belanda, Java Post, dalam artikel berjudul Een historische voetbalreis, yang diunggah 23 Maret 2012 lalu. Hanya ada catatan tragis terkait yang dialami pemain tengah Frans Alfred Meeng. Menurut situs Java Post, pemain kelahiran 1910 ini ikut tenggelam bersama kapal Jepang Junyo Maru yang ditenggelamkan oleh kapal selam Inggris pada 18 September 1944. (by/dari berbagai sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL