franck-ribery-fdfdfParis, LiputanIslam.com, –Awal tahun ini, perhatian jagat sepakbola kembali tersedot kepada even pemilihan terbaik dunia. Ada tiga nominator. Para pengamat sepakat bahwa ini adalah pemilihan yang sangat ketat dan sulit.Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Franck Ribery adalah tiga nama yang dianggap pada level setara sepanjang tahun 2013 lalu. Ronaldo dan Messi adalah bintang dengan skil individu yang tak diragukan lagi. Sedangkan Ribery meroket bersama Bayern Munich untuk menjadi penguasa Jerman dan Eropa.

Mengacu kepada hasil-hasil di tahun sebelumnya, cukup banyak yang menjagokan Ribery. Pemain terbaik biasanya ditandai dengan keberhasilan meraih trophy bersama klub. Dari sisi ini, Ribery seolah menjadi kandidat tunggal. Di tahun 2013, Ribery menggondol gelar juara Bundesliga, DGB Pokal dan Liga Champions. Messi hanya juara kompetisi domestik spanyol La Liga. Ronaldo malah gagal mempersembahkan satu gelar pun bagi klubnya, Real Madrid.

Tapi, apa dikata? Pada penghargaan di Zurich itu, justru Cristiano Ronaldo yang terpilih sebagai pemain terbaik dunia. Ronaldo menyabet FIFA Ballon d’Or (nama resmi penghargaan tersebut) setelah meraih 1.365 poin. Messi gagal meraih trofi kelimanya secara beruntun, karena hanya mengumpulkan 1.205 poin, sedangkan Ribery di tempat ketiga dengan 1.127 poin.

Ribery sendiri mengaku kecewa. Menurutnya pemilihan Ballon d’Or sarat dengan kepentingan politis. Gelandang Bayern Muenchen itu pun mengaku tidak lagi tertarik dengan trofi tersebut.

Banyak juga pihak yang kecewa dengan hasil tersebut, dari mulai publik Muenchen, Jerman, warga Perancis, para wartawan, hingga warga Muslim. Pihak yang terakhir ini harus kembali menunggu kesempatan lahirnya bintang Muslim baru yang menyabet penghargaan pemain terbaik dunia.

Sejarah mencatat, baru ada dua pemain Muslim yang meraih penghargaan tersebut. Pertama adalah George Weah dan yang kedua adalah si maestro legendaris Zinedine Zidane. Seandainya Ribery berhasil menjadi yang terbaik tahun lalu, ia menjadi pemain Muslim yang ketiga.

Tapi, kesempatan bagi Ribery sejatinya masih terbuka lebar. Jika ia bisa membawa Perancis meraih prestasi tertinggi di ajang Piala Dunia Brasil, bukan hal yang mustahil jika Ribery akan bisa mendekati prestasi seniornya Zinedine Zidane. Anda bisa, Ribery?

Kisah Keislaman Ribery

Dilihat dari nama dan wajahnya, tak mudah untuk tahu bahwa Ribery adalah seorang Muslim. Ya, Ribery memang bukan orang yang lahir sebagai orang Islam. Ia adalah warga asli Perancis. Sebagaimana mayoritas warga asli lainnya, Ribery terlahir sebagai orang Kristen.

Akan tetapi, kisah hidupnya berubah sejak tahun 2005 lalu. Ketika sedang merumput di Turki, a seorang ulama memperkenalkan ajaran Islam kepadanya.

riberyKejadian ini awalnya tak diketahui masyarakat. Publik mulai mencium hal ini pada tanggal 17 Juni 2006, saat Ribery jadi buruan para pencari berita. Bukan hanya lantaran performanya yang kian meroket. Pesepak bola yang kala itu membela Prancis di ajang Piala Dunia, memantik kontroversi dengan gerak-geriknya sebelum laga kontra Swiss, di Gelsenkirchen, Jerman.

Ribery membuka lebar-lebar kedua tangannya beberapa detik sebelum kick-off dimulai. Media-media terutama yang berasal dari Prancis bertanya-tanya: benarkah sang bintang telah memeluk agama Islam?

Selepas laga itu, media terus membuntuti aktifitas Ribery di luar lapangan. Bahkan majalah L’Express, memotret aktivitas beribadah Ribery di masjid di selatan Marseille. Lama-lama, Ribery pun gerah. Dia mengaku, telah memeluk agama Islam sejak 2005, atau kala masih memperkuat klub Turki, Galatasaray.

Ribery memang setahun tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Di sana, Ribery berkenalan dengan Wahiba yang kemudian dia peristri. Konon Wahiba berperan besar menuntun Ribery mengenal ajaran Islam. Dari pernikahan tersebut, Wahiba memberinya dua anak, Hizsya dan Shahinez.

Kepada majalah Paris Match, Ribery mengungkapkan Islam telah membawanya pada keselamatan. Dia menemukan kedamaian ketika mempelajari agama barunya itu.

“Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Akhirnya, saya menemukan Islam,” ujar gelandang yang kini memperkuat Bayern Muenchen itu.

Setelah delapan tahun menjadi Mualaf, kepribadian Ribery berubah drastis. Dari yang awalnya temperamen, jadi lebih sabar. Dia juga tak lagi sombong. Ribery, oleh para tetangganya disebut sebagai pria rendah hati.

Bapak dua anak ini tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai Muslim. Ia senantiasa melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan dalam kondisi apa pun.

Steve Bradore dari Organisasi Syuhada yang melayani para mualaf Prancis, telah mengatakan bahwa muslim Prancis merasa bangga sekali dengan Ribery. “Dia adalah sumber kebanggaan kami karena penampilannya yang khas dan kerendahhatiannya,” kata Steve, seperti dikutip dari situs Islamonline.net.

Karier Ribery begitu sukses. Dia telah mengoleksi berbagai gelar. Puncaknya, terjadi di musim lalu. Bersama Bayerm Muenchen, Ribery merengkuh treble winners dengan menjuarai Liga Champions, Bundesliga Jerman, dan Piala Jerman.

“Aku bersyukur dengan apa yang telah aku raih sejauh ini. Aku menjalaninya dengan bahagia, dan aku terus berdoa agar mendapat segala yang terbaik untukku dan untuk keluargaku,” lugas Ribery. (by/dari berbagai sumber)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL