messi2

Oleh: Doni Wahyudi

Lionel Messi adalah dewa di Barcelona. Tapi di Timnas Argentina dia adalah sasaran kritik dan kekecewaan jika Albiceleste gagal dapat Piala.

Tidak ada pemain dalam sejarah sepakbola dunia punya karier segemilang Messi. Puluhan trofi sudah didapat bersama Barcelona, sementara belasan penghargaan lain dia terima sebagai bentuk pengakuan individu – atas kehebatan kaki kiri dan liukan-liukannya di atas lapangan.

Tapi sebagaimana ungkapan ‘tidak ada yang sempurna’, seperti itulah Messi. Dia belum sekalipun memberi trofi mayor untuk Timnas Argentina.

Sudah empat final turnamen mayor di jalani sebagai penggawa Albiceleste. Semua berakhir dengan cerita sedih yang sama: gagal menjadi juara. Mulai dari Copa America 2007, Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan Copa America 2016.

Publik Argentina selalu bereaksi secara negatif atas kegagalan-kegagalan tersebut – mungkin karena sudah sangat lama tak meraskan gelar juara (terakhir Copa America 1993). Sasaran kekecewaan, ketiadakpuasan, dan kritik publik Argentina hampir pasti mengarah ke sosok yang sama. Lionel Messi.

Messi dapat kritik sangat keras saat Argentina kalah dari Jerman di Piala Dunia 2014. Messi memang tampil jauh di bawah standarnya pada pertandingan tersebut. Tapi kalau mau jujur, hampir semua pemain Argentina tampil tak oke di final itu (kecuali Angel Di Maria).

Kondisi serupa terjadi di final Copa America 2015. Ketika itu Messi disebut tidak menghayati bermain dalam seragam Argetina sebagaimana dia berada di atas lapangan saat memakai jersey Barcelona. Messi sempat dirumorkan akan pensiun usai dapat kritik tersebut, meski kemudian itu tak terbukti.

Dengan nama besar yang diagung-agungkan di seluruh dunia, (publik) Argentina berharap Messi paling tidak menyamai apa yang sudah dilakukan Diego Maradona tiga dekade lalu. Maradona akan selalu diingat oleh orang Argentina sebagai satu orang yang mengantar Tim Tango jadi juara Piala Dunia 1986.

Bagaimanapun, Maradona akan selalu jadi benchmarck akan kesuksesan Messi. Tak peduli Messi sudah meraih puluhan piala di Barcelona (jauh lebih sukses dibanding Maradona), Argentina akan selalu menganggapnya gagal jika belum pulang dengan menyerahkan gelar bagi ‘Tim Tango’.

Bukannya membantu meringankan beban juniornya, Maradona dalam beberapa kesempatan malah ikut menambah berat beban Messi. Simak saja komentar dia di hari-hari pertama Copa America Centenario, awal Juni lalu. Maradona menyebut Messi kurang punya kepribadian.

“Dia sungguh sosok yang baik, tapi dia tak punya kepribadian. Dia tak punya karakter untuk jadi pemimpin,” sahut Maradona.

Messi memang berbeda dengan Maradona, dan kebanyak pemain lain. Messi, mungkin, adalah tipe tertutup. Dia bukan tipe yang ‘menangis’ jika ditekel, tidak juga memprotes wasit dengan keras atas keputusan yang dinilai merugikan, atau meneriaki rekannya yang bermain jelek. Messi adalah Messi. Dia ada untuk dinikmati, bukan untuk jadi pemimpin. Terlepas dari fakta bahwa sejak 2011 dia memakai ban kapten timnas.

Tapi kini publik Argentina tidak akan bisa menikmati Messi bermain untuk mereka. Dia memutuskan pensiun membela timnasnya setelah kegagalan di final Copa America Centenario.

Messi kanak-kanak pada suatu ketika pernah mengatakan kalau mimpinya adalah untuk bermain di Timnas Argentina. Setelah empat final dan kritik yang tidak fair, dia memutuskan pensiun di usia 29 tahun.

“Mereka memperlakukannya seperti kriminal. Leo, dia paling terpukul atas kekalahan ini. Banyak dari kami akan mengikutinya pensiun,” sahut Aguero soal tekanan pada Messi dan keputusannya pensiun dini. (liputanislam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL