Ibrahim Wadi, pemain sepakbola Palestina yang ditangkap Israel tahun 2012

Ibrahim Wadi, pemain sepakbola Palestina yang ditangkap Israel tahun 2012

Jika Anda mengikuti Piala Dunia, tak akan Anda lihat tim sepakbola nasional Palestina sebagai salah satu pesertanya. Namun jangan takut. Timnas Palestina berhasil lolos dari babak kualifikasi Piala Asia bulan lalu. Tim ini akan bertanding melawan Jepang, Yordania dan Irak di Melbourne Januari tahun depan – itu jika, Rezim Apartheid Israel mengijinkannya.

Bagi beberapa bintang internasional, sepakbola berarti penghasilan yang melimpah. Kapten Timnas Portugal dan bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo harus berterima kasih kepada Nike, Samsung, Tag Heuer, dan Emirates atas penghasilannya yang mencapai 77 juta USD tahun lalu. Namun untuk pemain Palestina, yang berasal dari Tepi Barat, Gaza, atau yang berada di pengungsian, sepakbola adalah permainan yang berbahaya.

Contohnya adalah Adam Abd al-Raouf Halabiya dan sepupunya, Jawhar Nasser Jawhar. Januari lalu, kedua pemain muda tersebut (masing-masing berumur 17 dan 19 tahun) menjadi sasaran tembak tentara Israel saat mereka berjalan pulang dari latihan di Stadiun Faisal al-Husseini di al-Ram, di Tepi Barat.

Mereka dikagetkan oleh anjing penjaga, untuk kemudian diseret ke tanah dan dipukuli oleh tentara. Menurut laporan medis, Jawhar ditembak dengan sebelas peluru; tujuh di kaki kirinya, tiga di kaki kanan dan satu di tangan kirinya. Sedangkan Halabiya, kedua kakinya juga menjadi sasaran tembak, sebelum akhirnya dipatahkan. Setelah menerima perawatan di Yordania, mereka ditangkap oleh otoritas Israel dalam perjalanan pulang, karena dituduh membawa bom.

Keduanya ditahan sejak itu menunggu pengadilan. Keduanya tidak akan pernah bermain bola lagi.

Pada bulan Januari 2009, tiga pemain bola Palestina, yaitu Ayman Alkurd, Shadi Sbakhe dan Wajeh Moshtahe, dibunuh saat operasi militer Israel, Operation Cast Lead, di Gaza. Pada bulan Maret, pemain sepakbola 18 tahun bernama Saji Daradwis ditembak mati oleh penembak jitu Israel dekat pos pemeriksaan Beitin dekat Ramallah. Juru bicara militer Israel mengatakan bahwa dia melempar batu.

Beberapa pemain bola Palestina juga telah ditahan oleh serdadu Israel. Pada bulan Juli 2009, enam bulan menjalani karirnya di tim sepakbola nasional Palestina, Mahmoud Sarsak secara administratif ditahan (tanpa tuduhan) oleh polisi perbatasan Israel. Dia menghabiskan waktu tiga tahun di balik jeruji besi penjara dan dilepaskan hanya setelah mogok makan 90 hari dan kampanye solidaritas internasional.

Pada tahun 2012, penjaga gawang tim Olimpiade Omar Abu Ruways ditangkap dengan tuduhan menjadi anggota sel teroris. Pemain yang lain, Samah Fares Muhamed Marava, ditangkap April lalu setelah kembali dengan timnya dari latihan di Qatar. Shin Bet (intelijen Israel) menuduh Marava mengeksploitasi statusnya sebagai pemain sepakbola Palestina untuk bertindak sebagai kurir untuk Hamas. Pada 30/9/2012, pemain klub Jerusalem’s Mount Scopus asal Gaza ditangkap tentara Israel di dekat Betlehem usai bertanding.

Pemain Palestina yang tinggal di kawasan pendudukan secara rutin mendapatkan penolakn ijin saat haruntus latihan ataupun bermain di kompetisi internasional. Pada bulan Oktober 2007, tim Palestina ditolak visanya untuk bertanding pada pertandingan kualifikasi penting untuk Piala Dunia 2010. Meskipun melancarkan protes, mereka tetap gagal bermain. FIFA juga sama sekali tidak melakukan jadwal ulang pertandingan, dan malah memutuskan timnas Palestina kalah WO.

Stadion sepakbolah Palestina di kota Gaza dibom pada bulan April 2006 dan hal tersebut beruang lagi pada bulan November 2012. Siapapun boleh menebak, apakah stadion tersebut juga akan terbebas dari bombardir Israel pada saat sekarang ini?

Februari lalu, ketua Asosiasi Sepakbola Palestina Jibril al-Rajoub mengatakan pada Ma’an News, “Brutalitas Israel (terhadap pemain sepakbola Palestina) menunjukkan tekad kuat mereka untuk menghancurkan olah raga Palestina”. Rajoub menyerukan agar Asosiasi Sepakbola Israel dikeluarkan dari FIFA, sebuah seruan yang diabaikan oleh kongres FIFA.

Jika Timnas Palestina berhasil sampai di Melbourne bulan Januari nanti, datanglah untuk menunjukan solidaritas Anda. Sementara itu, sekarang ini, mari kita berikan kepada Palestina semua bentuk solidaritas yang bisa kita berikan. (by/liputanislam.com)

Diterjemahkan dari tulisan Nick Everett di situs redflag.org.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL