Bu RismaSurabaya, LiputanIslam.com – Dolly hendak ditutup, para pekerja seks komersial (PSK) meradang. Usai menggelar aksi menulis di atas secarik kertas, perwakilan wisma yang ada di Gang Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, bergiliran membacakan keluh kesahnya jika rumah bordilnya ditutup.

Aksi menulis para PSK dan mucikari di Gang Dolly dan Jarak digelar hari ini, Kamis (5/6’2014), di sepanjang lorong (gang) prostitusi yang melegenda di Asia Tenggara tersebut, seperti dilansir Merdeka.com.

Ratusan lebih PSK dan mucikari dari beberapa wisma di Jarak dan Dolly, termasuk PSK dan mucikari eks-lokalisasi Sememi dan Moroseneng yang terlebih dulu ditutup Pemkot Surabaya, juga ikut bergabung menyuarakan aspirasinya di secarik kertas putih. Rencananya, tulisan-tulisan itu akan diserahkan ke Komnas HAM dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  di Jakarta, Jumat besok (6/6).

Usai menulis unek-uneknya itu, perwakilan PSK dari masing-masing wisma membacakan karya tulisnya itu dengan lantang di hadapan rekan-rekanya.

Dian, PSK dari Wisma Ratu Kembar, membacakan tulisannya: “Kalau lokalisasi ini ditutup, apakah kalian pemerintah mau mencukupi semua kebutuhan kami? Hidup di kampung sangat sulit. Harga bahan makanan mahal, pendidikan mahal, semuanya mahal. Sementara pemerintah tak mau berjuang untuk kami semua,” ucap Dian membacakan keluh kesahnya.

Selanjutnya, Rani, salah satu PSK Gang Dolly. “Saya tidak setuju lokalisasi ditutup. Kami pantang menyerah, kami jangan ditindas, kami akan bersatu melawan. Ibu Risma (Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini) janganlah kami ditindas, jangan hanya karena penguasa, anda menindas kami.”

“Seandainya Anda (Risma) berada di posisi kami, seorang ibu akan melindungi anak-anaknya. Janganlah Anda memburu piala dunia saja, berpikirlah sebelum bertindak. Anda bukan seorang ibu tapi seorang pengkhianat,” tegas Rani.

PSK yang lain, dengan logat Jawa berpadu Bahasa Indonesia, mengecam aksi penutupan yang dilakukan si Singa Betina, Tri Rismaharini . “Oalah Bu Risma, Bua Risma, sampeyan iku yo wong Jowo, aku iki yo wong Jowo, lah lapo lokalisasi ditutup. Trus kami harus mencari makan di mana untuk keluarga kami, bukalah hati sampeyan,” katanya.

PSK lain, juga membaca tulisannya. Kali ini cukup singkat dan tegas. “Risma, siapa sih loh? Masbuloh (masalah buat loh)?,” ucapnya singkat dan diakhiri makian ala Suroboyoan.

Selanjutnya, perwakilan PSK-PSK dari wisma yang lain, secara bergantian membacakan tulisan-tilisan yang akan dikirimnya ke Jakarta, Jumat besok.

Dan aksi diakhiri, orasi mucikari yang seluruh tubuhnya dilaburi cat warna putih. Sembari membawa sapu lidi, dia berteriak lantang: Merdeka…merdeka…merdeka.

“Kita sudah lama susah. Kalau kita ditindas, kita akan melawan. Kalau tetap ditutup, kita akan membuat mereka malu. Bukan kita yang malu, tapi merekalah yang harus malu dengan kehidupan kita. Merdeka. Merdeka. Hidup lokalisasi, hidup lokalisasi, hidup berjaya, hidup berjaya,” teriaknya.

Meski demikian, Bu Risma tetap membulatkan tekadnya untuk menutup kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak pada 15 Juni mendatang meski ada penolakan para penghuni kawasan tersebut.

“Ndak apa-apa demo. Saya kan harus menyelamatkan yang lebih besar lagi. Masa depan bangsa ini kan harus diselamatkan. Terutama anak-anak di sana,” tutur Risma usai menerima penghargaan Adipura Kencana di Istana Wapres, Jakarta, Kamis, (5/6/2014) seperti dilansir Jpnn.

Menurut Risma niatnya ini bahkan telah didukung oleh warga Surabaya. Terutama juga warga yang tinggal di sekitar kawasan Dolly.

“Saya harus beri ruang pada anak-anak di situ agar mereka bisa berhasil seperti anak-anak lain di Surabaya. Mereka juga penerus bangsa,” tegas Risma. (ba/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL