wto bonnieJudul Buku: WTO dan Perdagangan Abad ke-21

Penulis: Bonnie Setiawan

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Resist Book

Tebal: 205 halaman

 

Produk impor sedemikian membanjiri pasar Indonesia, sampai-sampai terasa sulit mencari barang buatan bangsa sendiri. Sebuah negara dengan penduduk 250 juta lebih, mengapa tidak mampu berproduksi untuk memenuhi keperluan bangsa sendiri?

Fenomena ini adalah dampak liberalisasi perdagangan barang dengan penurunan tarif besar-besaran. Di samping masuknya barang impor secara besar-besaran, juga negara telah kehilangan pendapatannya dari tarif bea masuk barang. Liberalisasi impor membuat Indonesia tidak bisa tumbuh menjadi negara industri, dan semata-mata menjadi pasar hasil industri negara lain.

Lalu mengapa Indonesia mau meliberalisasi perdagangannya? Sebabnya, Indonesia menjadi anggota WTO, serta bergabung dengan IMF dan Bank Dunia, dan karenanya terikat oleh aturan-aturan yang memaksa Indonesia untuk meliberalisasi ekonominya.

Sejak krisis 1997/1998 sebenarnya Indonesia belum benar-benar pulih. Sebabnya, sebagaimana ditulis Bonnie, di samping masalah-masalah politik yang tak banyak berubah, sistem ekonomi yang dianut pun tidak berubah. Pemerintah pada hakikatnya hanya memelihara krisis karena tidak pernah mengutak-atik masalah fundamental keuangan Indonesia.

Di bidang keuangan, Indonesia pun kini menjadi hamba sahaya IMF. Sebagaimana dijelaskan oleh Bonnie, meskipun Indonesia sudah melunasi utangnya kepada IMF, Indonesia masih berada dalam status monitoring IMF. Akibatnya, segala urusan keuangan Indonesia masih di bawah kendali IMF. Ibarat kapal, nahkoda Indonesia adalah IMF.  Segala hal harus melalui ijin dan sepengetahuan IMF, dan IMF punya kewenangan untuk menolaknya. IMF ngotot memaksa Indonesia untuk tetap memberlakukan sistem devisa bebas dan nilai tukar mengambang bebas.

Di buku setebal 205 halaman ini, Bonnie Setiawan mengantarkan kita pada pemahaman atas isu-isu seputar WTO,  dampaknya bagi Indonesia, dan munculnya sistem perdagangan baru abad ke-21. Bonnie menjelaskan bahwa sesungguhnya perdagangan global abad ke-21 ini telah menyatukan investasi, jasa, manufaktur, dan perdagangan dalam satu jaringan global raksasa.

Indonesia, kini berada di pusaran jaringan global raksasa itu, namun sayangnya masih sebagai pemain pinggiran. Indonesia bisa disebut sebagai contoh klasik dari bagaimana penerapan liberalisasi ekonomi merupakan dasar dan penyebab dari krisis-krisis yang tak berkesudahan. Keberanian untuk melawan, harus muncul dari anak bangsa ini. (Dewi)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL