GazaCity, LiputanIslam.com – Memasuki hari kesepuluh dari operasi militer Zionis Israel yang diberi nama “Operation Protective Edge,” telah gugur 227 orang syuhada Palestina di Jalur Gaza. Dan seperti terlihat di foto, seperti inilah pemandangan di Jalur Gaza setiap hari. Asap hitam mengepul, debu-debu beterbangan, rumah-rumah hancur, wanita-wanita menangis, anak-anak dipelukan ayahnya dalam kondisi tak bernyawa.

Berikut ini adalah tulisan pilu dari Safaa El Derawi, seorang asisten Middle East Children’s Alliance, yang diterjemahkan dari artikel Maan News Agency.

Saya telah mencoba menulis dua hari yang lalu, tapi saya tidak tahu harus memulai darimana.

Apakah saya memulainya – dengan berbicara tentang teror dan ketakutan yang kami rasakan karena pengeboman terus menerus oleh jet tempur Israel? Ataukah saya harus menceritakan kepada Anda bahwa tembakan dari Angkatan Laut Israel juga bisa saja membunuh kami setiap saat?

Kuputuskan untuk menulis tentang hari Jum’at di malam itu, yang paling sulit dan paling berat. Banyak rumah dan masjid yang dibom secara acak, termasuk Rumah Sakit untuk penyandang cacat.

Kami menghabiskan sepanjang malam dalam ketakutan dan ketegangan. Tanpa listrik, dan berusaha untuk menenangkan anak-anak. Kami sudah berusaha keras, tapi anak-anak itu tidak berhenti menangis.

Di lingkungan tempat tinggal saya, tiga rumah dan sebuah masjid dibom dalam rentang waktu 15 menit. Sebelumnya, telah ada peringatan yang memerintahkan mereka untuk meninggalkan rumah, tapi tetangga di sebelah memutuskan untuk tetap tinggal di rumahnya.

Saya menelepon Masha, dia adalah teman saya, setelah mendengar kabar adanya pengeboman di kamp pengungsi di Deir al-Balah, tapi kami tidak terhubung. Jantungku berdebar kencang. Dia menghubungi beberapa waktu kemudian untuk mengabarkan, bahwa ia telah meninggalkan rumahnya.

Awalnya, tetangga Masha menerima peringatan terlebih dahulu sebelum rumah mereka dibom. Rumah berlantai empat yang dihuni oleh 4 keluarga, hanya diberikan waktu selama tiga menit untuk keluar dari rumah menyelamatkan diri !

Kini, mereka tinggal di kamp yang penuh sesak. Tanpa memiliki apa-apa. Dengan waktu tiga menit yang mereka miliki untuk keluar dari rumah, barang-barang apa yang bisa mereka bawa? Secarik kertas, atau pakaian?

Sayang, tiga menit tidak cukup bagi mereka untuk bisa keluar dari rumah sembari membawa barang-barang. Dan kini, mereka tidak memiliki apa-apa.

Rumah-rumah mereka kemudian dibom, dibom lagi, membunuh dan melukai banyak orang. Sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, rumah-rumah pun hancur lebur.

Keluarga Masha, adalah satu dari ratusan keluarga lainnya yang harus menyaksikan rumahnya dihancurkan. Mereka menjadi tunawisma, tanpa memiliki apapun. Dan terpaksa, keluarga Masha harus menumpang di rumah keluarganya yang lain.

Tragedi inilah yang terjadi di Gaza. Kisah yang sama, terjadi berulang-ulang dan menimpa keluarga yang berbeda-beda.

Kami telah melewatkan kondisi yang sangat sulit selama bertahun-tahun berada di Gaza, wilayah yang diblokade Israel, dan kini, kami terancam akan dibunuh setiap saat.

Tapi kami mencintai kehidupan, dan kami akan tetap tinggal disini.

(ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL