LiputanIslam.com – Bernard Lewis, seorang Zionis Godfather telah merencanakan untuk memecah belah kaum Muslim di Timur Tengah agar Israel bisa mewujudkan cita-cita mereka, yaitu menguasai wilayah yang membentang dari sungai Nil sampai Eufrat, yang melintasi negara Irak, Lebanon, Suriah, Yordania dan Arab Saudi.

Hal itulah yang diingatkan kembali oleh ulama Mesir Mustafa al-Aqsari dalam sebuah khotbah Jum’at yang dipublikasikan oleh Memri TV. Skenario pecah belah ini, sedang berlangsung di Suriah, seperti yang pernah diungkapkan oleh Asy Syahid Syeikh Ramadhan al-Buthi bahwa “invisible hands (tangan tak terlihat) hendak pecah belah Suriah menjadi lima bagian.

Menurut al-Aqsari, sebagaimana sabda Nabi Saw bahwasanya hari kiamat tidak akan datang hingga terjadi pertempuran antara orang-orang Muslim melawan orang-orang Yahudi. Dikatakan, di zaman Nabi ada seorang Yahudi yang bernama Huyay bin Akhtab yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum muslimin. Segala dusta, tipu muslihat, dan pengkhianatannya menghiasi lembaran sejarah.

Huyay bin Akhtab masih “hidup”. Bernard Lewis merupakan Huyay modern yang juga senantiasa berupaya untuk memerangi kaum Muslimin. Menurut al-Aqsari, Bernard Lewis lahir dari kedua orangtuanya yang berdarah Yahudi pada tahun 1916. Tinggal di Amerika Serikat dan menjadi penasehat bagi Presiden AS Bush Sr dan juga anaknya, Bush Jr, yang telah tercatat rekam jejaknya menumpahkan darah umat Islam.

Sebagai kaum muslimin, langkah apakah yang bisa kita lakukan untuk menggagalkan rencana jahat mereka? Jawabannya ada pada Deklarasi Jakarta yang yang diselenggarakan oleh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bekerja sama dengan Universal Justice Network di Jakarta, yang telah menyepakati 10 poin yaitu:

1. Kami menyatakan bahwa pembunuhan sesama manusia berdasarkan warna kulit, keyakinan, etnis, dan agama adalah haram dan bertentangan dengan syariat.
2. Kami mendukung definisi muslim sesuai dengan Deklarasi Amman.
3. Kami menyatakan bahwa perbedaan internal umat tidak boleh berujung pada pengkafiran dan penyesatan terhadap sesama muslim; maka kami menyatakan bahwa perbuatan itu haram dan bertentangan dengan syariat.
4. Kami menyatakan bahwa semua perbedaan di antara sesama muslim harus diselesaikan dengan dialog dan konsensus seraya tetap menjaga kehormatan satu sama lain.
5. Kami akan aktif bersama-sama membangun dan menjaga hubungan sesama mazhab serta organisasi Islam yang berbeda dan menghadirkan kegiatan satu sama lain sebagai cara membangun, dan menjaga dan mengembangkan persaudaraan.
6. Kami akan mempromosikan dan menjaga harmoni di antara semua kelompok muslim melalui media cetak, elektronik, dan media sosial.
7. Kami merekomendasikan agar sekolah-sekolah mengembangkan silabus dan kurikulum yang mendorong perdamaian, persaudaraan, serta persatuan di antara sesama anggota masyarakat muslim.
8. Kami mendesak pemerintah untuk mengembangkan dan mengimplementasikan UU yang memerangi ujaran dan kebencian dan mendorong penindakan, pemidanaan yang lebih efektif terhadap pelanggaran atas UU tersebut.
9. Kami menyadari bahwa konflik sektarian adalah jebakan untuk melemahkan umat Islam dan kami harus mencerahkan umat tentang jebakan itu.
10. Kami akan aktif memediasi semua kelompok muslim yang berselisih agar bisa melakukan rekonsiliasi. Dan berpegang teguhlah kamu pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai (QS. 3:103).

Tentu, kita akan dihadapkan kepada pilihan, apakah meniru jejaknya Ustadz Felix Siauw dengan turut menabuh kebencian kepada sesama muslim, ataukah mengamalkan kesepuluh poin-poin yang telah disepakati dalam Deklarasi Jakarta tersebut. Semoga Allah senatiasa memberikan kita petunjuk dan menuntun kepada  jalan yang lurus. (fa/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL