Ulama Sejagad MenggugatJudul: Ulama Sejagat Menggugat Salafi Wahabi

Penulis: Syaikh Idahram

Tahun Terbit: 2013 (cetakan ke-11, cet pertama:2011)

Penerbit: Pustaka Pesantren

Tebal: 338 halaman

 

Sebenarnya apakah sekte Muslim salafi itu? Mengapa mereka sering sekali melontarkan ujaran kebencian (hate speech) kepada orang-orang di luar mereka?

Dalam buku ini dijelaskan bahwa salafi adalah bentuk nisbat terhadap kata as-salaf, yang bermakna ‘orang-orang yang hidup sebelum zaman kita’. Secara terminologis, as-salaf mengacu kepada sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ”Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’at-tabi’in).”

Oleh karena itu, menurut penulis buku ini, seorang salafi berarti seorang yang mengikuti ajaran sahabat Rasulullah, tabi’in, dan  tabi’at-tabi’in. Siapapun yang mengaku muslim sedikit banyak memiliki kadar ‘kesalafian’ dalam dirinya meskipun dia tidak menggembar-gemborkan bahwa dirinya salafi.

Sayangnya, akhir-akhir ini istilah salafi sudah tercemar. Ada sebagian kelompok (sekte) yang begitu giat melakukan propaganda dan klaim sebagai satu-satunya kelompok salaf, sedangkan yang lain mereka tuding tidak mengikuti salaf. Yang lebih berbahaya, kelompok ini cenderung menyimpang dari ajaran Islam yang benar yang dianut oleh mayoritas umat Islam dari sejak zaman Rasulullah sampai sekarang.

Penulis melanjutkan,

“Siapakah sebenarnya kelompok yang mengaku sebagai Salafi yang sekarang mulai marak tersebut? Ketahuilah saudaraku, kelompok yang sekarang mengaku-aku sebagai Salafi ini dahulu dikenal dengan nama Wahabi. Sewakti di Jazirah Arab mereka dikenal dengan Wahhabiyah Hanbaliyah. Namun, ketika diekspor keluar Saudi, mereka menamakan dirinya dengan Salafi.” (hlm 35)

Prof Dr. Said Ramadhan Al Buthi adalah salah satu ulama besar yang membongkar topeng mereka ini. Dalam bukunya As-salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islamy, beliau mengatakan bahwa Wahabi berganti  baju menjadi Salafi atau terkadang Ahlussunnah –seringnya tanpa diikuti waljamaah- karena mereka merasa risih disebut Wahabi. Selain itu mereka juga mengalami kegagalan dalam propaganda mereka karena imej buruk yang sudah tersebar atas nama Wahabi. Semua orang yang mengetahui sejarah Arab pasti akan tahu bahwa sejarah kemunculan Wahabi dipenuhi dengan tumpahnya darah kaum muslimin.

Buku ini dengan rinci menjelaskan seluk-beluk Salafi Wahabi, dalam 3 bagian:

  1. Penyimpangan Tiga Tokoh Ulama Salafi Wahabi (Ibnu Taimiyah, Abdul Wahab, Nashiruddin Al Albani)
  2. Mewaspadai Para Tokoh Salafi Wahabi dan  Propaganda Mereka (antara lain: Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Albani, Ibnu Fauzan, Nashir As-Sa’di, Al Madkhali, dll)
  3. Bantahan dari Ulama Internasional

Di bagian ketiga ini, penulis membahas ratusan buku-buku para ulama Islam yang  membantah Salafi Wahabi, fatwa ulama Al Azhar bahwa Salafi Wahabi adalah sesat, serta pernyataan Pusat Fatwa Mesir dan Al Azhar bahwa pembagian tauhid versi Salafi-Wahabi adalah sesat.

Ternyata pembagian tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyyah (sebagaimana yang gencar disebarluaskan di mentoring/kegiatan keislaman di kampus-kampus) adalah pembagian tauhid versi Salafi Wahabi. Dalam buku ini disebutkan:

 “Pembagian tahuid menjadi dua macam ini adalah ajaran baru yang digagas oleh Ibnu Taimiyyah (wafat 1328 M)  dan kemudian dipopulerkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri wahabi, wafat 1792 M).Faham ini menyatakan bahwa tauhid (pengesaan) kepada Allahtidak cukup sebagai bentuk keimanan. Argumen mereka adalah: orang kafir zaman dulu juga telah bertauhid  (mengesakan Allah) dengan meyakini Dia sebagai pencipta dunia, namun tidak meyakini Allah sebagai Tuhan.” (hlm323-324)

Jadi, dalam doktrin Salafi Wahabi, ikrar syahadat tidak cukup; mereka menuduh, kebanyakan umat Islam hanya  beriman di mulut, tidak di hati. Akibatnya, mereka memiliki justifikasi untuk mengafirkan orang lain, meskipun sudah bersyahadat, dengan tuduhan ‘’mereka hanya beriman di mulut”. Dan atas dasar teologi seperti inilah sekte Salafi Wahabi menghalalkan pembunuhan terhadap sesama muslim, sebagaimana terjadi hari ini di Suriah. Korban para “mujahidin” beraliran Salafi Wahabi kini bukan saja orang-orang Syiah dan Kristen, tetapi juga orang-orang Sunni, bahkan termasuk Syekh Al Buthi dan beberapa ulama Sunni Suriah lainnya. Karenanya, buku sangat penting dipelajari oleh kaum muslimin Indonesia agar tidak terjebak dalam kesesatan pemikiran. (Fatma/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL