tuhan maafJudul: Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk (Renungan dan Inspirasi Spiritual Orang Kantoran)

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit: Elex Media Komputindo (Gramedia)

Tahun Terbit: 2013

Tebal:346 halaman

 

Buku yang cukup tebal, namun menggunakan kalimat-kalimat yang enteng ini, terdiri dari empat bagian:

1. Menata Hati, Membenahi Nurani

2. Rumahku, Surgaku

3. Memancarkan Cahaya Surga di Tempat Kerja

4. Memperkokoh Semangat dan Visi Hidup

Berapa jam sehari Anda sempatkan waktu untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah?

“Tuhan maaf, kami orang-orang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surga tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.”

Demikian kalimat-kalimat pembuka di buku ini. Penulis berupaya menyentak kesadaran pembaca, betapa untuk Tuhan, manusia harus “menyempatkan” diri, untuk sedekah manusia harus ‘menyisihkan’ rizki. Seolah untuk Tuhan kita berikan yang ‘tersisa’, yang ‘sedikit’.

Padahal, ungkap penulis, manusia seharusnya menyerahkan seluruh hidupnya untuk Allah (sebagaimana tercantum dalam QS Adz-Dzariyat:56).

Penulis menyoroti fenomena orang-orang sibuk (hal 4-7):

-Ketika ada sms, kita bergegas membaca dan mmebalasnya, tetapi mengapa ketika Tuhan memangil-manggil untuk menghadap-Nya, kita bergitu berani untuk menundanya?

-Ketika bos memanggil, betapa takutnya kita, sehingga cengan cepat kita menghadapnya. Namun ketika panggilan Tuhan berkumandang, betapa berani dan lamanya kita untuk menghadap-Nya. Padahal yang memanggil kita adalah Tuhannya bos, Atasannya atasan.

-Betapa manusia begitu pelit kepada Tuhan, Untuk bersedekah, kita menyisihkan harta. Kita begitu boros pada dunia, tetapi untuk bekal kehiduan abadi, malah kita tabung harta yang tersisih.

-Betapa murahnya angka satu juta ketika shopping, tetapi ketika ada kotak amal dan pengemis, berapa uang yang kita ambil dari dompet?

-Berapa waktu pagi yang kita habiskan untuk membaca koran? Kemudian bandingkan berapa waktu yang kita habiskan untuk membaca Surat Cinta dari Tuhan (Al Quran)?

-Betapa semangatnya kita duduk di barisan depan ketika menonton pertandingan atau konser musik, tetapi mengapa ketika sholat berjamaah, kita lebih memilih shaf terbelakang?

Pada bagian 3, penulis menulis sub judul “Jihad dalam Kubikel” (ruang kecil yang dibangun oleh sekat-sekat pembatas di kantor). Para pekerja kantoran banyak menghabiskan waktu seharian di dalam kubikel, menyelesaikan berbagai tugas dari bos. Lalu bagaimana bisa berjihad di sana?

Menurut penulis (dengan berlandaskan pada Quran dan hadis), jihad tidak selalu bermakna perang fisik.

“Kini jihad harus membuahkan terpeliharanya jiwa, terwujudnya kemanusiaan yang adil dan beradab, melebarnya senyum, serta terhapusnya air mata” (hal 185)

Jenis-jenis jihad pada masa modern ini, menurut penulis:

-memberantas kebodohan

-ilmuwan berjihad dengan memanfaatkan ilmunya

-guru berjihad dengan metode pendidikannya

-pemimpin berjihad dengan keadilannya,

dan untuk mereka yang berada di kubikel: karyawan berjihad dengan kejujuran dan profesionalitasnya

Secara umum, buku ini memotivasi dan memberi saran-saran praktis kepada pembaca (terutama orang-orang sibuk dan kantoran) untuk tetap mefokuskan langkah hidup mereka di jalan Allah. (Fatma/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL