coverJudul: Tan Malaka, Pahlawan Besar yang Dilupakan Sejarah

Penulis: Masykur Arif Rahman

Tahun Terbit: 2013

Penerbit : Palapa (Yogyakarta)

Tebal: 298 halaman

“Tan Malaka orang yang luar biasa dan petualangannya sangat menarik, saya harus melintasi dua benua dan 11 negara untuk mencari jejak sejarahnya, jejaknya ada dimana-mana.”(Harry A. Poeze, lebih 20 tahun meneliti Tan Malaka.

Pada bulan Februari lalu,  media massa memberitakan adanya diskusi tentang pemikiran Tan Malaka (yang semula akan menghadirkan Hary A. Poeze, PhD) yang dibubarkan ormas Islam di Surabaya. Peristiwa ini justru membangkitkan rasa ingin tahu banyak orang. Siapa Tan Malaka sebenarnya?

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Tan Malaka adalah tokoh yang sangat berjasa bagi Indonesia. Dialah pencetus pertama berdirinya Republik Indonesia, sebagaimana ditulisnya dalam bukunya yang berjudul ‘Naar de Republiek Indonesia’ (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, beberapa tahun sebelum Bung Hatta dan Bung Karno menulis buku soal konsep kemerdekaan Indonesia. Pemikirannya banyak dijadikan rujukan oleh Bung Karno dan tokoh pergerakan lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno bahkan memberinya gelar sebagai ‘orang yang ahli dalam revolusi’, sementara Moh Yamin dalam tulisannya di sebuah artikel koran menyebut Tan Malaka sebagai ‘Bapak Republik Indonesia.’

Melalui buku ini, pembaca akan diajak mengikuti perjalanan hidup Tan Malaka, yang ternyata memang sangat menarik dan revolusioner, sekaligus tragis. Dia ternyata sosok pemikir yang terjun langsung berusaha mendidik anak-anak di sekolah. Ya, Tan Malaka adalah seorang guru, yang benar-benar berpeluh mengajar anak-anak di sekolah-sekolah Syarikat Islam (SI), dengan gaji sangat minim, dengan ketersediaan biaya operasional jauh dari cukup. Dengan ijazah guru lulusan Belanda yang dimilikinya, Tan Malaka bisa (dan sudah) mengajar di sekolah milik Belanda dengan gaji sangat  tinggi. Namun kesempatan itu dia tinggalkan untuk mengajar di sekolah SI di Semarang pada Juni 1921.

Pemerintah kolonial saat itu mengizinkan dibukanya sekolah-sekolah SI karena mengira sekolah-sekolah itu akan tutup dengan sendirinya karena tidak ada dana. Tan Malaka dkk pun merencanakan membuat pasar amal untuk mencari dana, namun dilarang pemerintah. Akhirnya, murid-murid ke kampung-kampung dengan dikawal orang dewasa, untuk mencari sumbangan dari penduduk kampung. Bahkan Tan Malaka ikut terjun langsung, mengawal  murid-muridnya mencari sumbangan (hal 81). Dalam waktu singkat, sekolah SI memiliki banyak murid dan mendapatkan undangan untuk mendirikan cabang di berbagai kota. Cabang-cabang SI di berbagai kota lain pun meraih simpati masyarakat dan banyak yang mengirimkan anak-anak mereka bersekolah di SI. Bahkan cara mengajar TanMalaka pun sangat visioner: anak-anak dibebaskan untuk belajar dan mengerjakan sesuatu, sedangkan guru membimbing dan memberi nasehat.

Tan Malaka merumuskan tiga tujuan pendidikan di sekolah SI (hal 80):

  1. Memberi cukup banyak jalan kepada murid untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia yang kapitalisme (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dll)
  2. Memberi hak kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobi) mereka dengan membentuk perkumpulan
  3. Mengarahkan perhatian para murid pada kewajiban mereka yang akan datang kepada jutaan keluarga miskin.

Pemerintah Belanda akhirnya khawatir melihat kemajuan pesat sekolah SI. Tan Malaka pun dibuang ke Belanda pada Februari 1922, hanya delapan bulan setelah Tan Malaka mulai mengajar di SI.

Selanjutnya di buku ini diceritakan bagaimana perjuangan Tan Malaka untuk kemerdekaan Indonesia selama masa pembuangan, dengan bahasa yang menarik dan mudah dicerna, sehingga terasa bak membaca novel.  Di akhir buku, dikisahkan episode tragis kehidupan Tan Malaka (dan Indonesia), yaitu perpecahan di antara sesama tokoh pejuang kemerdekaan.

Tan Malaka menolak ajakan untuk bergabung dengan pemerintah Sukarno-Hatta karena dia menentang politik diplomasi yang merugikan Indonesia, dan karena kritik-kritiknya pada pemerintah, dia bahkan dijebloskan ke penjara sebagai tahanan politik. Di sisi lain, Tan Malaka juga menolak pemberontakan PKI melawan pemerintah dan bahkan mendukung tindakan pemerintah membungkam pemberontakan itu. Dia menulis (mengomentari pemberontakan PKI 1948):

“Tetapi karena aksi PKI Musso ditujukan kepada pemerintah Republik yang ada sekarang, pertama sekali, urusan dan kewajiban pemerintah  inilah pula membela kekuasaannya. Tidak bisa dua kekuasaan tertinggu ada dalam satu negara. Rakyat harus tahu mana pemerintah yang harus diikutinya.” (hal 268)

Pada bulan November 1948, Tan Malaka mengingatkan pemerintah akan terjadinya agresi militer Belanda akibat politik diplomasi yang tak kunjung memuaskan kedua pihak (Indonesia-Belanda). Namun pemerintah tak menghiraukan, dan terus berunding dengan Belanda. Benar saja, Desember 1948, Belanda melancarkan agresi, Sukarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera. Sukarno-Hatta memerintahkan Syafruddin Prawiranegara  untuk membentuk pemerintahan Darurat RI di Sumatera Barat.”

Sementara itu Jenderal Sudirman mengumumkan kondisi darurat Perang dan memilih jalan tegas untuk melawan belanda melalui perang gerilya. Tindakan Jenderal Sudirman ini sebenarnya sejalan dengan Tan Malaka, yang sejak awal menolak segala bentuk perundingan dengan Belanda. Tan Malaka aktif menyeru rakyat untuk berjuang angkat senjata melawan Belanda.

Ironisnya, militer RI dan lawan-lawan politiknya justru menuduh Tan Malaka ingin memberontak dari RI. Pada tanggal 21 Februari 1949, Tan Malaka ditangkap dan ditembak mati oleh tentara Militer Divisi I Jawa Timur. Dia ditembak mati dalam kondisi Indonesia sedang diagresi oleh Belanda dan pada saat dia sedang memimpin rakyat angkat senjata untuk mengusir Belanda. Sungguh tragis. (Fatma/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL