LiputanIslam.com — Seorang laki-laki paruh baya, berkopiah putih, dengan cambang tipis yang juga terlihat mulai memutih – berdiri disebuah mimbar. Beliau adalah Ahmad Abu Alabiya, tokoh dari gerakan muqawwama Hamas. Beberapa waktu lalu dalam sebuah khotbah Jum’at, suaranya lantang menyerukan jihad melawan Israel. Dengan pasti Abu Alabiya berkata,” Jihad adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan Yerusalem dan Palestina.” Dan menurutnya, segala bentuk negosiasi [dengan Israel] dan konsesi hanyalah buang-buang waktu.

“Inilah jalan untuk menuju penaklukan Masjid Al – Aqsa dan Yerusalem. Jalan pembebasan adalah jalan yang ditempuh Salahudin al-Ayubi. Dia, membebaskan Masjid Al-Aqsa dari Tentara Salib setelah diduduki selama 90 tahun, yang mana Yerusalem menjadi ajang pembantaian puluhan ribu kaum muslimin. Darah suci mereka ditumpahkan di tanah Masjid Al-Aqsa yang diberkati. Lalu datanglah Salahudin dan pasukannya yang kemudian membebaskan Al-Aqsa– selayaknya mereka [front muqawwama] yang membebaskan Yerusalem dan Palestina

“Tapi bagaimana cara mereka membebaskan Yerusalem dan Palestina? Dengan melakukan jihad di jalan Allah, dengan melakukan segala bentuk perlawanan terhadap pendudukan, dan dengan perlawanan bersenjata. Jihad di jalan Allah, ini adalah satu-satunya jalan,” kata Abu Alabiya.

“Negosiasi dan konsesi hanya sia-sia, buang-buang waktu. Hal ini bertentangan dengan kepentingan rakyat Palestina. Satu-satunya cara untuk membebaskan Al-Aqsa, untuk sekali lagi menaklukkan dan untuk membebaskan Yerusalem dan Palestina, adalah melalui jihad di jalan Allah,” tambahnya.

Itulah seruan sejati dari Bumi Palestina, sebuah negeri di Timur Tengah yang telah enam puluh tahun lebih dijajah oleh Israel. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, tercatat dalam sejarah – ada Suriah dan Mesir yang berkali-kali berperang melawan Israel demi membela Palestina. Berkaca dari krisis Suriah, sepertinya kaum muslimin saat ini terbelah dua. Seluruhnya sepakat bahwa Palestina harus dibebaskan dari rezim Zionis Israel, namun keduanya menempuh jalan yang berbeda.

Kelompok Pertama

Untuk membebaskan Palestina, mereka harus menaklukkan negara-negara yang dianggap penghalang masuknya para mujahidin ke Palestina. Dalam hal ini mereka yakin bahwa Suriah harus dibebaskan terlebih dahulu dari Rezim Assad, Irak harus dibebaskan dari pemimpinnya yang kebetulan seorang Syiah —  dengan terror sepanjang tahun oleh militant ISIL, Lebanon harus dibebaskan dari Hizbullah yang mereka katakan sebagai Hizbusyaiton, Mesir harus mereka bebaskan dari cengkraman militer yang mengkudeta Mursi– yang kesemuanya itu menelan ratusan ribu korban jiwa. Darah tertumpah dimana-mana, wanita-wanita menjanda, anak-anak menjadi yatim. Mereka pun harus mengungsi.

Ide absurd ini dijalankan oleh negara-negara Arab yang mendukung pemberontakan di Suriah, dan dieksekusi oleh para jihadis yang menamakan dirinya Al-Nusra, Al-Qaeda, ISIS/ISIL, FSA, dan tentu saja diamini oleh pengikut fanatik mereka. Dan anehnya lagi, walau mereka berniat membabaskan Palestina, kelompok ini bersikap sangat mesra dengan Israel, Amerika Serikat dan sekutunya.

Kelompok Kedua.

Untuk membebaskan Palestina, mereka tidak menggunakan cara yang berliku. Karena penjajahnya adalah Israel, maka yang mereka perangi adalah Israel. Republik Arab Suriah, tercatat telah tiga kali terlibat dalam peperangan melawan Israel secara langsung. Bersama dengan Republik Islam Iran, bahu membahu menyuplai persenjataan dan amunisi untuk kepada muqawwama seperti Hamas, Jihad Islam dan juga Hizbullah dengan tujuan: menggebuk Israel. Keberhasilan Hizbullah dalam perang 33 hari di Lebanon Selatan melawan Israel, atau gencatan senjata dalam perang 8 hari di Jalur Gaza akibat Israel tak mampu menanggung serangan roket Fajr-5 ciptaan Iran, adalah bukti tak terbantah bahwa kedua negara “Axis of Evil” versi Bush tersebut adalah plot anti-Israel yang paling serius membela Palestina.

Tentu pilihan akan kembali lagi kepada kaum muslimin, apakah akan mengikuti kelompok pertama atau kedua dalam upaya membebaskan Palestina. Sikap kita hari, adalah kunci dari peristiwa besar di waktu mendatang. (fa/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL