sejuta hatiJudul: Sejuta Hati Untuk Gusdur

Penulis: Damien Dematra

Tahun Terbit: 2010

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 426 halaman

“Abdurrahman Wahid telah berangkat menuju penciptanya untuk waktu tak terbatas. Bangsa ini telah kehilangan pahlawan humanis yang tak mudah dicari penggantinya. Dengan novel ini, kenangan manis terhadap sahabat kita ini akan terus hidup dan segar dalam lipatan kurun yang panjang.” (Syafii Maarif, Guru Bangsa)

Meski telah berpulang, sosoknya yang humoris dan merakyat masih sangat melekat di dalam ingatan masyarakat. Tak heran jika kemudian, namanya kembali “dijual” oleh salah satu parpol dalam kampanye pemilihan legislatif lalu, sehingga sempat memicu konflik dengan keluarga almarhum. Tak mau kejadian berulang, putri almarhum, Alissa Wahid angkat bicara. Selaku Koordinator Umum Jaringan GUSDURian Indonesia, ia menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian bersikap netral dalam Pilpres, tidak mendukung salah satu calon manapun.

Gusdurian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para GUSDURian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman.

Besarnya “Gusdur effect” dalam kancah perpolitikan Indonesia, mungkin akan membuat kita ingin mengenal lebih jauh, siapakah sebenarnya sosok yang terkenal dengan kalimat saktinya,“gitu aja kok repot” ini.

Buku ini diadaptasi dari skenario film Gus Dur: The Movie, yang awalnya direncanakan akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada ulang tahun Gus Dur yang ke-70 pada Agustus 2010. Namun Allah berkehendak lain. Beliau wafat pada hari  Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18:45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Kepergiannya yang tiba-tiba merupakan pukulan berat bagi para pecintanya, termasuk sang penulis. Hingga penulis berinisiatif untuk membuat versi novel, yang diselesaikannya hanya dalam waktu tiga hari.

Buku ini mengulas liku-liku kehidupan seorang santri, sorang Presiden, dan sekaligus seorang Guru Bangsa,  yang dikenal dengan sikap pluralismenya, sehingga mampu memberikan rasa aman kepada golongan minoritas dari dominasi mayoritas. Dikatakan, Gus Dur memiliki sebuah agenda khusus, yaitu  perdamaian diantara sesama umat beragama dan memperjuangkan humanisme sejati, tanpa pura-pura. Baginya, masih terlalu banyak perbedaan di Indonesia, dan ia ingin mempertipis kekentalan itu. Gus Dur menjalin kerjasama dengan semua agama di Indonesia dan membela mereka yang lemah.

Suatu hari, Gus Dur diundang menjadi tamu saat seorang pemimpin agama Hindu di India yang buta datang ke Jakarta. Pendeta Hindu  ini merupakan tokoh yang sangat populer karena kebaikan hatinya. Konon, memberi makan untuk 3 juta orang setiap harinya, yang didapat dari derma orang-orang kaya.

Saat Gus Dur tiba, Pendeta Hindu ini lantas berdiri menyambutnya , dan berkata “Kutitipkan umat Hindu disini,” ujarnya.

Pernyataan Pendeta tersebut Gus Dur merasa begitu bahagia. Bagaimana tidak — seorang pemimpin Hindu yang terkenal arif, menitipkan umat Hindu kepadanya – padahal Gus Dur adalah seorang muslim. Disini kita bisa melihat, betapa sosoknya sangat dihormati, dipercaya dan dicintai oleh masyarakat lintas agama, lintas golongan, hingga lintas negara.

Tanggal 1 Oktober 1999, melalui Sidang Umum MPR,  Gus Dur resmi terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-4, ditengah situasi negara yang bergejolak. Selama memimpin, Gus Dur banyak membuat terobosan baru. Ia membubarkan dua departemen: departemen penerangan dan sosial. Gus Dur mengibarkan perdamaian di Irian Jaya dan mengganti nama Irian menjadi Papua karena menurutnya, Irian dalam bahasa Arab berarti telanjang.

Lalu, Gus Dur juga menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, sehingga etnis Tionghoa tidak perlu minta izin atau membolos di hari raya mereka. Dapat dipahami mengapa sampai hari ini umat Tionghoa masih mengenang dan merindukannya. Pada haul Gus Dur tahun lalu, diantara puluhan ribu jemaah yang hadir, terlihat Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, datang diacara tersebut. Dikabarkan, dulu saat Ahok berkampanye untuk menjadi Bupati Belitung Timur, Gus Dur juga sempat turun ke lapangan memberinya dukungan.

Sayang, masa kepemimpinan Gus Dur tidak lama. Pada bulan Juli 2001, ia diberhentikan dari posisinya melalui Sidang Istimewa MPR RI. Saat itu situasi sangat tegang. Pendukung Gus Dur telah turun gunung yang siap mati untuk membelanya. Kalau Gus Dur mau, ia bisa mengobarkan semangat mereka untuk melawan pihak-pihak yang hendak menjatuhkannya. Namun, Gus Dur tidak melakukan itu. Ia tidak mau bangsa ini berlumuran darah hanya untuk sebuah jabatan.

Gus Dur keluar dari istana dengan mengenakan celana pendek dan berbaju putih, ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada pendukungnya. Ia menghibur dan menenangkan mereka. Gus Dur  lantas berbisik, “Kamu tahu ndak, ndak ada jabatan yang cukup tinggi untuk dipertaruhkan mati-matian dalam hidup ini.”

Apa yang disampaikan Gus Dur tiga belas tahun silam, sangat kontras dengan kondisi bangsa yang kita saksikan hari ini. Demi kursi kepemimpinan, kini kita tiap hari dijejali dengan tingkah polah para pelaku politik yang jauh dari akhlak dan budi pekerti yang luhur. Memfitnah, mengadu domba, dan tega mencabik-cabik persatuan bangsa demi memenuhi ambisinya. Pantas saja jika akhirnya banyak yang mengamini —  bahwa sungguh sulit untuk menemukan sosok yang “selevel” dengan Gus Dur di Indonesia hingga 100 tahun ke depan. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL